Nih Keadaan Bangsa Indonesia Sebelum Merdeka

Sejarah indonesia sebelum merdeka secara singkat,Rangkuman sejarah indonesia sebelum merdeka,Peristiwa sebelum kemerdekaan 17 agustus 1945,Keadaan bangsa indonesia sebelum merdeka,PERISTIWA-PERISTIWA PENTING DI INDONESIA ABAD KE-19-Pada kesempatan kali, Kami ingin mengangkat tema mengenai peristiwa-peristiwa penting di Indonesia kala ke-19. Berbicara mengenai keadaan Islam dan umat muslim pada kala ke-19 tidak akan sanggup dipisahkan dari hal yang berjulukan imperialisme.

Keadaan tersebut terjadi hampir di seluruh tempat umat muslim, termasuk di Indonesia. Kedatangan bangsa Barat pada perkembangannya kemudian menimbulkan aneka macam reaksi dari umat muslim dan melahirkan beberapa kejadian penting dalam sejarah umat Islam Indonesia kala ke-19.

Imperialisame bangsa Barat di Indonesia menimbulkan banyak perlawanan. Hal tersebut menimbulkan konsep perang sabil yang mengatas namakan agama. Perlawanan-perlawanan yang terjadi di Indonesia menjadi menarik dikarenakan digerakkan oleh para ulama dengan semangat jihad fi sabilillah dan mati syahid. Perjuangan umat muslim di Indonesia pada kala ke-19 ini menggambarkan semangat yang besar dari rakyat Indonesia untuk tetap mempertahankan agama dan negaranya dari imperialism bangsa asing.

 Sejarah indonesia sebelum merdeka secara singkat Nih Keadaan Bangsa Indonesia Sebelum Merdeka

Keadaan demikian merupakan citra keadaan Islam dan umat muslim di Indonesia pada kala ke-19 yang sangat didominasi oleh para ulama yang banyak terpengaruh oleh faham-faham dari Timur Tengah, terkhusus Wahabiyah. Seluruh kejadian tersebut merupakan peristiwa-peristiwa penting dalam perkembangan Islam di Indonesia pada kala ke-19.

Berangkat dari hal demikian maka penulis merasa tertarik untuk membahas lebih lanjut mengenai kejadian-kejadian penting di Indonesia pada kala ke-19 ini yang akan dititik beratkan terhadap perlawanan dari masyarakat muslim terhadap imperialism bangsa Belanda di Indonesia.

Keadaan umum Indonesia pada kala ke-19

Keadaan umat Islam di Indonesia pada kala ke-19, sangat tidak sanggup dilepaskan dari imbas dan tekanan bangsa Barat. Keadaan demikian terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Penjelajahan oleh bangsa Barat terjadi sehabis renaissance. Sebelum terjadinya renaissance, bangsa Barat mengalami ketertinggalam dari umat muslim. Hal tersebut dikarenakan kehidupan bangsa Barat sangat didominasi oleh doktrin gereja. Namun menjelang simpulan kala pertengahan, perdagangan semakin mengalami kemajuan. Hingga akhirnya, menimbulkan semangat untuk menjadi yang terdepan dengan aneka macam cara. Hal tersebutlah yang kemudian menghantarkan terjadinya renaissance.

Terjadinya renaissance mengambarkan kehancuran doktrin gereja. Kemajuan ilmu pengetahuan ditandai dengan banyaknya penemuan-penemuan oleh para ilmuwan juga menghantarkan bangsa Barat untuk memulai penjelajahannya kepada daerah-daerah lain. Persaingan yang terjadi diantara bangsa Barat pasca-Renaissance mendorong mereka untuk pergi dan melaksanakan perjalanan yang semula ialah untuk berdagang.

Ada beberapa faktor yang mengakibatkan terjadi imperialisme oleh bangsa Barat, diantaranya adalah:

Terjadinya perang salib yang mengakibatkan: dikuasainya Konstantinopel, dendam lama, tertutupnya jalur perdagangan, bangsa Eropa mengetahui kelemahan orang-orang muslim, motif balas dendam terhadap umat muslim.

Semangat 3G (Gold, Glory, and Gospel).

Penjelajahan samudera, yang didukung oleh inovasi teori-teori wacana bumi dan alat-alat canggih menyerupai kompas, peta, dan lain-lain.

Perjalanan bangsa Barat dipelopori oleh Spanyol dan Portugis. Keberhasilan Spanyol dan Portugis kemudian menggerakkan bangsa-bangsa lainnya untuk mengikuti jejak mereka. Di Indonesia, setidaknya sejarah mencatat beberapa Negara Barat yang pernah menginjakkan kakinya di Indonesia, menyerupai Portugis (1511-1641 M), Spanyol (1521 M), Belanda (1596-1942 M), Inggris (1811-1816 M), dan Jepang (1942-1945 M). Namun dalam pembahasan ini, akan lebih ditekankan kepada invansi Belanda.

Semenjak kedatangan bangsa Barat ke Indonesia, masyarakat Indonesia umumnya dan umat muslim khususnya mengalami penderitaan yang sangat besar. Mereka selalu berusaha untuk mengintervensi segala aspek kehidupan masyarakat. Seperti yang terjadi di beberapa kesultanan di Indonesia dan hampir di seluruh daerah di Indonesia. Semenjak kedatangan Belanda ke Indonesia untuk pertama kalinya pada 1595 M di bawah pimpinan Cornelius De Houtman, mereka pribadi berusaha untuk menguasai Indonesia. Mereka kemudian mendirikan banyak persatuan-persatuan dagang, salah satunya ialah VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnia) pada tahun 1602 M.

Monopoli Belanda pada ketika itu menerima tantangan besar dari masyarakat Indonesia terkhusus para ulama. Pada perkembangannya keadaan demikianlah yang nantinya akan dibahas dan dipaparkan lebih lanjut mengenai perlawanan yang timbul dari masyarakat Indonesia. Adapun kedatangan dan intervensi dari bangsa Barat ke Indonesia menimbulkan beberapa akibat. Di antaranya adalah:

Bidang Akibat

1 Politik Terjadinya pemerintahan modern

2 Ekonomi Mundurnya perdagangan Nusantara dengan dibentuknya VOC

Adanya kebijakan tanam paksa

Adanya kebijakan kerja Rodi

Terciptanya sistem ekonomi Liberal

3 Sosial Tertindasnya pengusah-pengusaha kecil

Terjadinya transmigrasi dari Jawa ke Sumatera

4 Agama Misi Missionaris

Perang Paderi (1803-1838 M)

Perang Paderi merupakan bentuk perlawanan masyarakat muslim yang ada di Minangkabau, Sumatera Barat terhadap kekuasaan Belanda. Pada mulanya, perang Paderi merupakan perang yang terjadi antara kaum Paderi dengan kaum adat yang ada di Sumatera Barat. Golongan Paderi merupakan golongan ‘alim ulama yang ada di Sumatera Barat dan terpengaruh oleh faham-faham Wahabi dari Mekkah. Mereka memperoleh faham dan pemikiran tersebut ketika melaksanakan ibadah haji ke Mekah. Sedangkan kaum adat ialah golongan masyarakat Sumatera Barat yang sangat memegang teguh adat istiadat, sekalipun bertentangan dengan Islam. Hal tersebut yang kemudian memicu timbulnya perselisihan antara golongan Paderi (putih) dengan kaum adat ini.

Golongan Paderi sebagai golongan puritanisasi di Sumatera Barat terkenal dengan sebutan Harimau Nan Salapan. Pada awalnya, golongan Paderi melaksanakan jihad dengan cara yang damai. Namun ketika golongan adat melaksanakan langgar ayam secara terbuka, maka dimulailah konflik secara terang-terangan antar dua kubu ini. Dalam konflik tersebut, golongan adat selalu mengalami kekalahan. Hingga jadinya golongan adat meminta dukungan kepada Belanda. Belanda dengan bahagia hati mendapatkan tawaran tersebut. maka segeralah dilakukan perjanjian antar kaum adat dengan Belanda pada tanggal 21 Februari 1921 M. Inilah awal mulanya Belanda ikut campur dalam pertikaian antar golongan adat dan Paderi.

Peperangan terus berlanjut. Kaum Paderi dengan semangat jihad fi sabilillah dan kaum adat dengan dukungan para Belanda. Dalam peperangan ini, muncul satu tokoh yang sangat populer, yakni Muhammad Syabab yang kemudian lebih dikenal dalam sejarah dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol. Hal tersebut dinisbatkan pada tempat yang dipimpinya, yakni sebuah benteng yang berada di Bonjol.

Pada ketika itu Belanda tetap terus mengalami kesulitan dan kekalahan. sampai jadinya mereka membujuk kaum Paderi untuk mengadakan perdamaian. Terjadi beberapa kali perjanjian tenang antar Belanda dengan kaum Paderi. Diantaranya ialah perjanjian yang diadakan pada tanggal 22 Januari 1824 M, 15 September 1825 M, dan Plakat Panjang 23 Oktober 1833 M. Namun semua perjanjian itu ialah tipu tipu muslihat dari Belanda, dan mereka pun selalu mengingkarinya. Hal tersebut dilakukan untuk menahan laju serangan dari kaum Paderi, alasannya Belanda lebih memprioritaskan perlawanan yang berkecamuk di Jawa, di bawah pimpinan pangeran Diponegoro (perang Diponegoro).

Peperangan ini jadinya dimenangkan oleh Belanda, ditandai dengan ditangkapnya Tuanku Imam Bonjol pada 28 Oktober 1837 M dan diasingkan ke Cianjur kemudian Menado. Meskipun dalam perang ini kaum muslim Sumatera Barat mengalmai kekalahan, namun perang ini telah bisa untuk memperkuat kedudukan Islam dan menyatukan umat Islam yang ada di Sumatera Barat.

Perang Diponegoro (1825-1830 M)

Perang Diponegoro biasa disebut juga dengan perang Jawa. Perang ini juga merupakan salah satu bentuk perlawanan dari masyarakat Indonesia terhadap imperialism Belanda. Alasan mengapa disebut dengan perang Jawa ialah dikarenakan peperangan ini terjadi hampir di seluruh daerah Jawa dan berpusat di Yogyakarta[4] yang pada ketika itu berada dalam kekuasaan Mataram Islam. Hubungan antar Belanda dengan kesultanan Mataram di Yogyakarta telah dimulai semenjak kala ke-17. Pada perkembangannya, Belanda semakin menintervensi kekuasaan Mataram, menyerupai dalam hal tahta, pengangkatan pejabat-pejabat tinggi kerajaan, pelaksanaan Birokrasi, dan lain-lain[5]. Belanda semakin gampang untuk menyebarkan pengaruhnya ketika Mataram dipimpin oleh Susuhan Amangkurat I yang bersifat pro terhadap Belanda.

Nama perang Diponegoro dinisbatkan pada nama seorang tokoh yang dianggap penting dalam kejadian ini. ia ialah pangeran Diponegoro. Banyak faktor yang menjadi penyebab dari perang ini, diantaranya ialah ketidak sukaan rakyat pada Belanda. Namun puncaknya terjadi ketika residen Smissaert memerintahkan prajuritnya untuk memasang pancang yang mengambarkan akan dibangunnya jalan gres di Tegalrejo. Hal ini menciptakan Diponegoro dan pengikutnya marah. Dikarenakan pembangunan jalan raya tersebut akan melewati makam leluhur pangeran Diponegoro. Ia kemudian mengerahkan pasukannya untuk menggagalkan rencana Belanda tersebut, dan dimulailah perang Diponegoro.

Perang Diponegoro dimulai pada bulan Juli 1825 M. Perang ini juga bernuansa jihad Fi Sabilillah. Pada awalnya, pasukan Diponegoro berhasil menguasai beberapa daerah menyerupai Pacitan (6 Agustua 1825 M) dan Purwodadi (28 Agustus 1825 M). Di daerah Kedu, pasukan Diponegoro juga mengalami kemenangan atas Belanda dengan dukungan pasukan Bulkiya[9]. Peperangan terus berkobar di daerah-daerah lainnya. Pasukan Belanda mengalami kesulitan untuk menaklukan semangat dari pasukan Diponegoro. sampai jadinya mereka memakai sistem baru, yakni Benteng Stelsel yang dipelopori oleh Jenderal De Kock.

Adapun tujuan dari seni administrasi ini ialah untuk mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro. Selain itu, Belanda juga berusaha untuk mendekati pemimpin-pemimpin pasukan Diponegoro dan melaksanakan perundingan-perundingan dengan pihak Diponegoro. Hingga akhirnya, perjuangan Belanda berhasil. Ditandai dengan ditangkap dan diasingkannya pangeran Diponegoro pada 28 Maret 1830 M. Awalnya pangeran Diponegoro diasingkan ke Manado kemudian dipindahkan ke Ujung Pandang, dan jadinya ia meninggal dunia disana pada 8 Januari 1855 M.

Perang Banjarmasin (1859-1906 M)

Sama halnya dengan perang-perang yang lain. Perang Banjarmasin merupakan bentuk perlawanan dari masyarakat Kalimantan terhadap Belanda dengan semangat jihad fi sabilillah. Latar belakang pokok terjadinya perang ini ialah intervensi pihak Belanda terhadap keadaan perpolitikan di kesultanan Banjarmasin. Hal tersebut berkaitan dengan pengangkatan pengganti sultan Mangkubumi ketika ia meninggal dunia pada 1851 M. Terjadi perbedaan pandangan antara sultan Adam dengan Belanda.

Belanda lebih mendukung kepada pangeran Tamjidillah untuk menjadi sultan, sedangkan sultan Adam menginginkan pangeran Hidayat untuk menjadi sultan. Alasan Belanda memihak kepada pangeran Tamjidillah untuk menjadi sultan ialah dikarenakan pangeran Tamjidillah merupakan seorang yang sangat pro kepada Belanda dan juga berkepribadin buruk. Sedangkan pangeran Hidayat ialah seseorang yang sangat berbudi pekerti baik dan kontra terhadap Belanda. Pengangkatan pangeran Tamjidillah menjadi sultan menimbulkan perlawanan yang besar di kalangan masyarakat terhadap Belanda, yang kemudian dikenal dengan perang Banjar.

Jalannya peperangan ini diklasifiasikan menjadi dua fase, yakni fase di bawah pimpinan pangeran Antasari dan fase sehabis pangeran Antasari meninggal. Sebagaimana yang telah diketahui bahwa pangeran Antasari merupakan tokoh pokok dalam perang Banjar ini. Ia merupakan tokoh yang sangat berpengaruh. Dalam peperangan ini, ia juga banyak dibantu oleh para ulama lainnya, menyerupai Kyai Demang Leman yang berjuang bersama Haji Nasrun, Haji Buyasin, dan Kyai Langlang, dan juga pangeran Hidayat.

Pangeran Antasari bersama pasukan dan teman-temannya menerima banyak tantangan dari Belanda. Hingga akhirnya, pangeran Hidayat berhasil ditangkap dan diasingkan ke Jawa pada 03 Februari 1862 M. Mendengar kabar pangeran Hidayat dibuang oleh Belanda, pangeran Antasari semakin gigih untuk melaksanakan perlawanan terhadap Belanda. Hingga jadinya ia berhasil memproklamasikan kekuasaan gres di Banjarmasin dengan ibukota di Teweh yang sebelumnya berhasil diruntuhkan oleh Belanda. Hingga jadinya pangeran Antasari meninggal dunia. Dengan demikian, berakhirlah fase perang Banjar dibawah komando besar pangeran Antasari.

Sepeninggal pangeran Antasari, perlawanan terus dilanjutkan, baik oleh teman-temannya maupun oleh keturunannya, menyerupai Muhammad Seman (Gusti Matseman), Gusti Matsaid, Pangeran Mas Natawijaya, Tumenggung Surapati, Tumenggung Naro, dan Penghulu Rasyid. Namun perlawanan-perlawanna yang terjadi sanggup dengan gampang dikalahkan oleh Belanda. Hingga perlawanan terakhir yang tiba dari Gusti Matseman terus dilanjutkan sampai ia meninggal dunia pada 1905 M. Saat itulah yang menjadi penanda berakhirnya perang Banjar.

Perang Aceh (1873-1912 M)

Keadaan kesultanan Aceh pada kala ke-19 sangat menurun serta dikuasai oleh Belanda dan Inggris. Namun Belanda tetap lebih mendominasi imperialism bangsa Barat di Aceh. Ada beberapa perjanjian yang dilakukan Belanda baik dengan rakyat Aceh maupun Inggris. Namun tetap saja semua perjanjian tersebut menguntungkan pihak Belanda. Diantara perjanjian tersebut ialah Traktat London dan Traktat Sumatera. Akhirnya Belanda menyatakan perang terhadap Aceh pada 26 Maret 1873 M.

Perang Aceh ini biasa disebut juga dengan perang rakyat. Hal tersebut dikarenakan hampir seluruh rakyat Aceh terlibat dalam peperangan melawan Belanda yang mereka anggap kafir. perang ini juga merupakan perang dengan konsep jihad Fi Sabilillah. Serangan pertama dilancarkan oleh Belanda pada tanggal 5 April 1873 M dengan 3000 personil. Belanda berhasil menduduki Masjid. Namun tidak selang lama, rakyat Aceh berhasil merebut kembali masjid dari tangan Belanda. Pada tahun 1874 M, pasukan Aceh kehilangan Sultan dikarenakan ia meninggal alasannya sakit Kolera.

Peperangan terus berlanjut meskipun pengganti sultan belum ditentukan Belanda menciptakan seni administrasi dengan membangun benteng-benteng. Namun tetap saja mereka kesulitan, dikarenakan semangat jihad yang luar biasa dari masyarakat Aceh. Dalam perang Aceh ini, ada beberapa tokoh yang sangat berperan, diantaranya ialah Teuku Umar dan istrinya Cuk Nyak Dien.

Teuku Umar mempunyai taktik yang sangat luar biasa dalam perang Aceh. Awalnya ia berpura-pura untuk berpihak kepada Belanda, sampai ia dipercaya oleh Belanda. Namun sehabis ia mendapatkan peralatan perang yang cukup, ia segera kembali menyerang Belanda. Tahun 1896 M, terjadi pertempuran kembali antara Belanda dengan rakyat Aceh. Dalam pertempuran ini jadinya Teuku Umar meninggal dan digantikan oleh Cut Nyak Dien. Perlawanan terus dilanjutkan di bawah pimpinan Cut Nyak Dien. Belanda menciptakan taktik yang sangat jitu. Mereka menyandera para istri sultan dan pemimpin-pemimpin perang untuk memancing biar mereka menyerah. Taktik Belanda tersebut jadinya berhasil. Hingga banyak dari para pemimpin perang yang menyerahkan diri. Akhirnya Cut Nyak Dien pun kemudian ditemukan dan diasingkan ke Jawa sampai ia meninggal di Jawa. Namun sepeninggal Cut Nyak Dien, perlawanan terus dilanjutkan sampai Belanda pergi dari Aceh pada 1942 M.

Jihad Cilegon (9-30 Juli 1888 M)

Jihad Cilegon merupakan salah satu bentuk dari perlawanan masyarakat Petani yang ada di Cilegon dengan konsep jihad fi sabilillah. Pemberontakan ini muncul dikarenakn tekanan yang dirasakan para petani yang diakibatkan oleh Belanda. Diantaranya ialah kemarau yang menimbulkan banyak para petani yang mengalami kegagalan panen. Selain itu, para Petani di Cilegon ini juga dibebankan untuk melaksankan kerja wajib oleh Belanda dan beban pajak yang terlampau tinggi.

Semangat jihad fi sabilillah dalam pemberontakan ini dimasukkan oleh para ulama yang memimpin pemberontakan, diantaranya ialah Haji Abdul Karim, Haji Tubagus Ismail, Haji Marjuki, dan Haji Wasid. Pemberontakan ini juga dipengaruhi fanatisme agama yang dihasilkan dari ajaran-ajaran tarekat yang berkembang ketika itu dan juga imbas dari ajaran-ajaran Timur Tengah yang didapat oleh para haji melalui ibadah haji.

Sejak tahun 1884 M, gagasan untuk melaksanakan pemberontakan telah dimatangkan. Para pemimpin memberikan gagasannya melalui khotbah-khotbah, perkumpulan, maupun ceramah-ceramah. Pada Juni 1887 M, propaganda perang Jihad dan perekrutan pengikut dilakukan. Kemudian dilakukan persiapan yang lebih matang, diantaranya ialah persiapan bela diri sampai pertengahan tahun 1888 M. Selama enam bulan pada 1888 M, para pemimpin semakin sering mengadakan pertemuan guna memilih tanggal penyerangan. Hingga jadinya disetujui 8 Juli 1888 M dimulailah jihad tersebut yang ditandai dengan adanya arak-arakan orang yang berpakaian putih yang dimulai dari rumah Haji Akhiya dan berakhir di rumah haji Tubagus Kusen. Pada 9 Juli 1888 M, mereka melaksanakan serangan kepada rumah seorang Dubas (juru tulis) Belanda. Gerakan dari sebelah Utara kota Cilegon dipimpin oleh Haji Wasid yang bertujuan membunuh ajudan residen.

Perlawanan dari para petani ini terus berlanjut, dan Belandapun semakin gencar untuk melaksanakan serangan balik. Namun jadinya perlawanan ini sanggup dipatahkan oleh Belanda, ditandai dengan terbunuhnya Haji Wasid dan Haji Tubagus Ismail pada pertempuran 31 Juli 1888 M.

Simpulan

Keadaan Islam dan umat muslim pada kala ke-19 di Indonesia sangat erat kaitannya dengan imperialism bangsa Barat, terkhusus Belanda. Kehadiran Belanda yang mengintervensi segala lini kehidupan masyarakat Indonesia dan menjadikan Islam sebagai musuh, jadinya menghantarkan sejarah untuk mencatat beberapa kejadian penting yang terjadi di kala ini.

Peristiwa tersebut intinya ialah bentuk dari perlawanan masyarakat Indonesia terhadap imperialism Belanda. Perlawanan-perlawanan tersebut diaplikasikan dalam bentuk perang yang bergejolak hampir di seluruh daerah Indonesia dan menjadi peting alasannya melalui peristiwa-peristiwa tersebut sanggup dilihat dan dianalisa keadaan Islam dan umat muslim di Indonesia pada kala XIX. Diantaranya ialah kejadian perang Paderi, perang Diponegoro, perang Banjarmasin, perang Aceh, dan pemberontakan petani Cilegon.

BIBLIOGRAFI

Abdullah, Taufik dan A.B Lapian (ed). 1997. Indonesia Dalam Arus Sejarah: Kolonisasi dan Perlawanan. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve.

Djamhari, Saleh As’Ad. 2003. Strategi Menjinakkan Diponegoro : Benteng Stelsel 1827-1830. Jakarta: Yayasan Komunitas Bambu.

Harun, M. Yahya. 1995. Kerajaan Islam Nusantara Abad XVI-XVII. Yogyakarta: Kurnia Kalam Sejahtera.

Poesponegoro, Mawardi Djoened dan Nugroho Notosusanto. 1984. Sejarah Nasional Indonesia jilid IV. Jakarta: Balai Pustaka.

Yatim, Badri. 2014. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

[1] Secara bahasa, Renaissance berarti kelahiran kembali. Sedangkan secara istilah, Renaissance ialah perkembangan kebudayaan dimulai pada simpulan kala ke-14 yang dimulai dari daerah Italia Utara kemudian menyebar dengan cepat dalam kala ke-15 dan ke-16.

[2] Delapan harimau yang berani menantang kemaksiatan, dan tokoh-tokohnya ialah Haji Miskin, Tuanku Kubu Sanang, Tuanku Padang Lawas, Tuanku Padang Luar, Tuanku Galung, Tuank Kubu Ambalu, Tuanku Lubuk Aru, dan Tuanku Bansa.

[3] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2014), hlm. 242

[4] Mawardi Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia jilid IV, (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), hlm. 184.

[5] M. Yahya Harun, Kerajaan Islam Nusantara Abad XVI-XVII (Yogyakarta: Kurnia Kalam Sejahtera, 1995), hlm. 29-30

[6] Pangeran Diponegoro ialah anak dari sultan Hamengkubuwana III yang sangat kontra dengan Belanda.

[7] Saleh As’Ad Djamhari, Strategi Menjinakkan Diponegoro : Benteng Stelsel 1827-1830 (Jakarta: Yayasan Komunitas Bambu, 2003), hlm. 39-40.

[8] Poesponegoro, Sejarah… , hlm. 194

[9] Bulkiya ialah nama salah satu kesatuan prajurit Dipnegoro yang terkenal alasannya keberaniannya yang berasal dari Selarong dan dipimpin oleh Haji Usman Alibasah dan Haji Abdulkadir.

[10] Namanya telah disebut pertama kali dalam catatan Belanda dari residen A. Van Der Ven (1853-1855). Pangeran ini ialah seorang anak yang namanya tercantum dalam daftar anggota keluarga sultan Adam yang menerima sebuah apanase kerajaan di Mangkauk, yang terletak di perbatasan benua Ampat (Tambaik Mekkah di Muning merupakan bagiannya). Bangert mengakui bahwa pangeran Antasari berasal dari canamg paling murni dari keturunan raja pertama kesultanan Banjarmasin. Andresen juga mempercayai bahwa pangeran itu ialah keturunan sah dari dinasti raja Banjarmasin yang direbut kekuasaannya. Antasari pada simpulan hayatnya meninggal pada 11 Oktober 1862 alasannya sakit cacar yang dideritanya, dan dimakamkan di desa Bayan Begok, Hulu Sungai Teweh.

[11] Dalam buku Indonesi Dalam Arus Sejarah menyebutkan bahwa simpulan dari perang Banjar ditandai dengan menyerahnya Gusti Berakit kepada Belanda pada 6 Agustus 1906

[12] Taufik Abdullah dan A.B Lapian (ed), Indonesia Dalam Arus Sejarah: Kolonisasi dan Perlawanan (Jakarta: PT. Ichtiar Baro Van Hoeve, 1997), hlm. 611-615

0 Response to "Nih Keadaan Bangsa Indonesia Sebelum Merdeka"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel