Nih Ulama Aceh Yang Keramat
Abu Ibrahim Woyla yaitu seorang ulama pengembara. Ulama ini dalam masyarakat Aceh lebih dikenal dengan Abu Ibrahim Keramat. Belum pernah terjadi dalam sejarah di Woyla (Aceh Barat) bila seseorang meninggal ribuan orang tiba melayat (takziah) kecuali pada waktu wafatnya Abu Ibrahim Woyla. Selama hampir 30 hari meninggalnya Abu Ibrahim Woyla masyarakat Aceh berduyun-duyun tiba melayat ke kampung Pasi Aceh, Kecamatan Woyla Induk, Aceh Barat sebagai tempat peristirahatan terakhir Abu Ibrahim Woyla. Selama 30 hari itu ribuan orang setiap hari tak kunjung henti tiba memberikan murung cita mendalam atas wafatnya Abu Ibrahim Woyla, sehingga pihak keluarga menyediakan 400 kotak air aqua gelas dan tiga ekor lembu setiap hari dari pemberian mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf untuk menjamu tamu yang tiba silih berganti ke tempat wafatnya Abu Ibrahim Woyla. Begitulah imbas ke-ulama-an Abu Ibrahim Woyla dalam pandangan masyarakat Aceh, terutama di wilayah Pantai barat selatan Aceh.
Abu Ibrahim Woyla yang berjulukan lengkap Teungku (Ustadz/Kiyai) Ibrahim bin Teungku Sulaiman bin Teungku Husen dilahirkan di kampung Pasi Aceh, Kecamatan Woyla, Kabupaten Aceh Barat pada tahun 1919 M. Menurut riwayat, pendidikan formal Abu Ibrahim Woyla hanya sempat menamatkan Sekolah Rakyat (SR), selebihnya menempuh pendidikan Dayah (Pesantren Salafi/Tradisional) selama hampir 25 tahun. sehingga dalam sejarah masa hidupnya Abu Ibrahim Woyla pernah berguru 12 tahun pada Syeikh Mahmud seorang ulama asal Lhok Nga Aceh Besar yang kemudian mendirikan Dayah Bustanul Huda di Kecamatan Blang Pidie, Aceh Barat Daya. Di antara murid Syeikh Mahmud ini selain Abu Ibrahim Woyla juga Abuya Syeikh Muda Waly Al-Khalidy yang kemudian Abu Ibrahim Wayla berguru padanya, Abuya Muda Waly yaitu sebagai seorang ulama tareqat naqsyabandiyah tersohor di Aceh.
Menurut keterangan, Syeikh Muda Waly hanya sempat berguru pada Syeikh Mahmud sekitar 3 tahun, kemudian pindah ke Aceh Besar dan berguru pada Abu Haji Hasan Krueng Kale dan Abu Hasballah Indrapuri. sesudah itu Syeikh Muda Waly pindah ke Padang dan berguru pada Syeikh Jamil Jaho di Padang Panjang. beberapa tahun di Padang Syeikh Muda Waly melanjutkan pendidikan ke Mekkah, kemudian Syeikh Muda Waly kembali kepadang dan pulang ke Aceh Selatan untuk mendirikan Pesantren Tradisional di Labuhan Haji Aceh Selatan. Saat itulah Abu Ibrahim Woyla sudah mengetahui bahwa Syeikh Muda Waly telah kembali dari Mekkah dan mendirikan Dayah, maka Abu Ibrahim Woyla kembali berguru pada Syeikh Muda Waly untuk memperdalam ilmu tareqat naqsyabandiyah. Namun sebelum itu Abu Ibrahim Woyla pernah berguru pada Abu Calang (Syeikh Muhammad Arsyad) dan Teungku Bilal yatim (Suak) bersama rekan seangkatannya yaitu (alm) Abu Adnan Bakongan.
Setelah lebih kurang 3 tahun memperdalam ilmu tareqat pada Syeikh Muda Waly, Abu Ibrahim Woyla kembali ke kampung halamannya, tapi tak usang sesudah itu Abu Ibrahim Woyla mulai mengembara yang dimana keluarga sendiri tidak mengetahui kemana Abu Ibrahim Woyla pergi mengembara. Menurut riwayat dari Teungku Nasruddin (menantu Abu Ibrahim Woyla) semasa hidupnya Abu Ibrahim Woyla pernah menghilang dari keluarga selama tiga kali, Pertama, Abu Ibrahim Woyla menghilangkan diri selama 2 bulan, Kedua, Abu Ibrahim Woyla menghilang selama 2 tahun dan Ketiga, Abu Ibrahim Woyla menghilangkan diri selama 4 tahun yang tidak diketahui kemana perginya.
Dalam kali terakhir inilah Abu Ibrahim Woyla kembali pada keluarganya di Pasi Aceh, pihak keluarga tidak habis pikir pada perubahan yang terjadi pada Abu Ibrahim Woyla. Rambut dan jenggotnya sudah demikian panjang tak ter-urus, pakaiannya sudah compang camping dan kukunya panjang seadanya. mungkin sanggup kita bayangkan seseorang yang menghilang selama 4 tahun dan tak sempat untuk mengurus dirinya. Begitulah kondisi Abu Ibrahim Woyla ketika kembali ke tengah keluarganya sesudah 4 tahun menghilang, maka masuk akal bila secara duniawiyah dalam kondisi menyerupai itu sebagian masyarakat Woyla menganggap Abu Ibrahim Woyla sudah tidak waras lagi.
Abu Ibrahim Woyla oleh banyak orang dikenal sebagai ulama agak pendiam dan ini sudah menjadi bawaannya sewaktu kecil hingga masa tua. Beliau hanya berkomunikasi bila ada hal yang perlu untuk disampaikan sehingga banyak orang yang tidak berani bertanya terhadap hal-hal yang terkesan aneh bila dikerjakan Abu Ibrahim Woyla. Sikap Abu Ibrahim Woyla menyerupai itu sangat dirasakan oleh keluarganya, namun alasannya yaitu mereka sudah tau sifat dan pembawaannya demikian, keluarga hanya sanggup pasrah terhadap pilihan jalan hidup yang ditempuh Abu Ibrahim Woyla yang terkadang perilaku dan tindakannya tidak masuk akal. Tapi begitulah orang mengenal sosok Abu Ibrahim Woyla.
Abu Ibrahim Woyla mempunyai dua orang isteri, isteri pertama berjulukan Rukiah, dari hasil ijab kabul ini Abu Ibrahim Woyla dikaruniai 3 orang anak, seorang pria dan 2 perempuan. yang pria berjulukan Zulkifli dan yang wanita berjulukan Salmiah dan Hayatun Nufus. Sementara pada isteri keduanya yang dia nikahi di Peulantee, Aceh Barat, dua tahun sebelum dia meninggal tidak dikaruniai anak.
Menurut kisah tatkala isteri pertamanya hamil 6 bulan untuk anak pertama yang dikandung Ummi Rukian, kondisi Abu Ibrahim Woyla ketika itu menyerupai tidak stabil, sehingga dia menyampaikan pada isterinya “Saya mau belah perut kau untuk melihat anak kita”, kata Abu Ibrahim Woyla pada isterinya yang pada ketika itu menciptakan keluarganya tak habis pikir terhadap apa yang diucapkan Abu Ibrahim Woyla pada isterinya itu. Karena perkataan menyerupai itu dianggap perkataan yang sudah diluar kebijaksanaan sehat, maka keluarga dengan cemas menggatakan kita tidak tahu apa yang dimaksudkan oleh Abu Ibrahim Woyla yang meminta untuk membelah perut isterinya yang sedang mengandung 6 bulan. Meskipun begitu, perkataan yang pernah diucapkan itu tak pernah dilakukannya.
Pada tahun 1954 sebetulnya tahun yang sangat membahagiakan bagi pasangan suami-isteri alasannya yaitu pada tahun itu lahir anak pertama dari pasangan Abu Ibrahim Woyla dan Ummi Rukiah, akan tetapi kehadiran seorang pertama itu bagi Abu Ibrahim Woyla bukanlah sesuatu yang istimewa. Abu Ibrahim Woyla ketika itu hanya pulang sebentar menjenguk anaknya yang gres lahir, kemudian dia pergi kembali mengembara entah kemana. Ketika anak pertamanya yang diberi nama Salmiah sudah besar, berdasarkan kisah Teungku Nasruddin barulah kondisi Abu Ibrahim Woyla kembali normal hidup bersama keluarganya. Dan ketika itu Abu Ibrahim Woyla sempat membuka lahan perkebunan di Suwak Trieng untuk menjadi harta yang ditinggalkan untuk keluarganya di kemudian hari.
Pada ketika itu kehidupan Abu Ibrahim Woyla bersama keluarganya sudah sangat serasi hingga lahir anak kedua, Hayatun Nufus dan anaknya yang ketiga Zulkifli. Semua keluarganya sangat bersyukur alasannya yaitu Abu Ibrahim Woyla telah tinggal bersama keluarganya. Namun apa mau dikata, tak usang sesudah lahir anaknya yang ketiga Abu Ibrahim Woyla kembali meninggalkan keluarganya dan entah kemana. Sehingga Ummi Rukiah tidak tahan lagi dengan ketidakpedulian Abu Ibrahim Woyla terhadap nafkah keluarganya, isterinya minta untuk pulang ke Blang Pidie kawasan asalnya.
Alasan isterinya untuk pulang ke Blang Pidie memang tepat, alasannya yaitu menurutnya Abu Ibrahim Woyla tidak lagi peduli kepada keluarga, dia hanya asyik berzikit sendiri dan pergi kemana dia suka. akan tetapi, harapan Ummii Rukian untuk kembali ke Blang Pidie tidak terwujud alasannya yaitu Allah mempersatukan Abu Ibrahim Woyla dan isterinya hingga simpulan hayatnya.
Bila kita dengar kisah dan kisah perihal Abu Ibrahim Woyla semasa hidupnya tak ubah menyerupai kita membaca kisah para sufi dan andal tashawwuf. Banyak sekali tindakan yang dikerjakan Abu Ibrahim Woyla semasa hidupnya yang terkadang tidak sanggup diterima secara rasional, alasannya yaitu kejadian yang diperankannya termasuk di luar jangkauan kebijaksanaan pikiran manusia. Untuk mengenal prilaku Abu Ibrahim Woyla haruslah memakai pikiran alam lain sehingga menemukan tanggapan apa yang dilakukan Abu Ibrahim Woyla itu benar adanya.
Itulah keajaiban-keajaiban yang menempel pada sosook Abu Ibrahim Woyla, yang oleh sebagian ulama di Aceh menilai bahwa Abu Ibrahim Woyla yaitu seorang ulama yang sudah mencapai tingkat Waliyullah (Wali Allah). hal itu diakui Teungku Nasruddin, memang berbagai laporan masyarakat yang diterima keluarga menceritakan seputar keajaiban kehidupan Abu Ibrahim Woyla. Hal ini terbukti semasa hidupnya Abu Ibrahim Woyla selalu mendatangi tempat-tempat dimana umat selalu dalam kesusahan, kegelisahan dan petaka dia selalu ada di tengah-tengah masyarakat itu. Namun orang sulit memahami maksud dan tujuan Abu Ibrahim Woyla untuk apa dia mendatangi tempat-tempat menyerupai itu, alasannya yaitu kedatangannya tidak membawa pesan atau amanah apapun bagi masyarakat yang didatanginya. Abu Ibrahim Woyla hanya tiba berdoa di tempat-tempat yang ia datangi, tutur Teungku Nasruddin.
Dalam hal ini Ustadz (Teungku disingkat Tgk) Muhammad Kurdi Syam ( seorang warga Kayee Unoe, Calang yang sangat mengenal Abu Ibrahim Woyla menceritakan bahwa Abu Ibrahim Woyla kebetulan sedang berjalan kaki, dia terkadang masuk ke sebuah rumah tertentu milik masyarakat yang dilawatinya, ia mengelilingi rumah tersebut hingga beberapa kali kemudian berhenti pas di halaman rumah itu dan menghadapkan dirinya ke arah rumah tersebut dengan berzikir LA ILAHA ILLALLAH yang tak berhenti keluar dari mulutnya, sesudah itu Abu Ibrahim Woyla pergi meninggalkan rumah itu. TIdak ada yang tahu makna yang terkandung di balik semua itu, apakah semoga penghuni rumah itu terhindar dari ancaman yang akan menimpa mereka atau mendoakan penghuni rumah itu semoga dirahmati Allah ? Wallahu A’lam.
Menurut Tgk Nasruddin , dilihat dari kehidupannya, Abu Ibrahim Woyla tampaknya tidak lagi membutuhkan hal-hal yang bersifat duniawi, ia mencontohkan, jikalau contohnya Abu Ibrahim Woyla mempunyai uang, uang tersebut sanggup habis dalam sekejap mata dibagikan kepada orang yang membutuhkan dan biasanya Abu Ibrahim Woyla membagikan uang itu kepada belum dewasa dalam jumlah yang tidak diperhitungkan (sama menyerupai amalan Rasulullah). Begitulah kehidupan Abu Ibrahim Woyla dalam kehidupan sehari-hari.
Keajaiban lain yang menciptakan masyarakat tak habis pikir dan bertanya-tanya yaitu soal kecepatan dia melaksanakan perjalanan kaki yang ternyata lebih cepat dari kendaraan bermesin. Memang kebiasaan Abu Ibrahim Woyla jikalau pergi kemana-mana selalu berjalan kaki tanpa memakai sendal. Bagi orang yang belum mengenalnya sanggup beranggapan bahwa Abu Ibrahim Woyla sosok yang tidak normal. Karena disamping penampilannya yang tidak rapi, mulutnya terus komat kamit mengucapkan zikir sambil jalan. Tgk Muhammad Kurdi Syam menceritakan suatu ketika Abu Ibrahim Woyla sedang jalan kaki di Teunom menuju Meulaboh (perjalanan yang memakan waktu 1 hingga 2 jam dengan kendaraan bermotor), yang anehnya Abu Ibrahim Woyla ternyata duluan hingga di Meulaboh, padahal yang punya kendaraan beroda empat tadi tahu bahwa tidak ada kendaraan lain yang mendahului mobilnya, kejadian ini bukan sekali dua kali terjadi, malah bagi masyarakat di pantai barat yang sudah mengganggap itulah kelebihan sosok ulama keramat Abu Ibrahim Woyla yang luar biasa tidak sanggup dinalar oleh pikiran orang biasa.
karena tak heran jikalau Abu Ibrahim Woyla berada menyerupai di pasar, contohnya semua pedagang di pasar itu berharap semoga Abu Ibrahim Woyla sanggup singgah di toko mereka, alasannya yaitu mereka ingin mendapat berkah Allah melalui perantaran Abu Ibrahim Woyla. Namun tidak segampang itu alasannya yaitu Abu Ibrahim Woyla punya pilihan sendiri untuk mampir di suatu tempat. Seperti yang diceritakan Tgk Muhammad Kurdi Syam, suatu waktu Abu Ibrahim Woyla sedang berada di Lamno, Aceh Jaya. kemudian bertemu dengan seseorang yang berjulukan Samsul Bahri yang sedang bekerja di Abah Awe, ketika itu kebetulan Abu Ibrahim Woyla membawa dua potong lemang. Ketika mampir di situ Abu Ibrahim Woyla meminta sedikit air, sesudah air itu diberikan Samsul kemudian Abu Ibrahim Woyla memperlihatkan dua potong lemang tersebut kepada Samsul tapi Samsul menolaknya alasannya yaitu berdasarkan Samsul bahwa lemang tersebut yaitu sedekah orang yang diberikan kepada Abu Ibrahim Woyla. alasannya yaitu tidak mau diterima Samsul, lemang itu dibuang Abu Ibrahim Woyla yang tak jauh dari tempat duduknya, impulsif saja Samsul tercengang dengan tindakan Abu yang membuang lemang begitu saja, alasannya yaitu merasa bersalah kemudian Samsul ingin mengambil lemang yang sudah dibuang tersebut, namun sayang, ketika mau diambil lemang itu hilang secara tiba-tiba.
Dalam kejadian lain, Tgk Nasruddin menceritakan suatu ketika (sebelum Tgk Nasruddin menjadi menantu Abu Ibrahim Woyla), tiba-tiba shubuh pagi Abu Ibrahim Woyla tiba ke almamaternya ke Pesantren Syeikh Mahmud, kaki Abu Ibrahim Woyla kelihatan sedikit pincang sebelah jikalau dia berjalan. Kedatangan Abu Ibrahim Woyla disambut Tgk Nasruddin dan teman-teman sepengajian lainnya. Lalu Abu meminta sedikit nasi untuk sarapan pagi, “nasinya ada, tapi tidak ada lauk pauk apa-apa Abu” kata Tgk Nasruddin, “Nggak apa-apa, saya makan pakai telur saja, coba lihat dulu di dapur mungkin masih ada satu telur tersisi” jawab Abu Ibrahim Woyla, kemudian Tgk Nasruddin menuju ke dapur, ternyata di tempat yang biasa ia simpan telur terdapat satu butir telur, padahal seingatnya tidak ada sisa telur lagi alasannya yaitu sudah habis dimakan.
Lantas sambil menyuguhkan Nasi kepada Abu Ibrahim Woyla, Tgk Nasruddin bertanya, “Kenapa dengan kaki Abu ?” Abu menjawab “saya gres pulang dari bukit Qaf (Mekkah), disana berbagai tokonya tapi tidak ada penjualnya. Namun jikalau kita ingin membeli sesuatu kita harus membayar di mesin, jikalau tidak kita bayar kita akan ditangkap polisi”, Abu meneruskan “setelah saya belanja di toko-toko itu kemudian saya naik kereta api dan sangat cepat larinya, alasannya yaitu saya takut duduk dalam kereta api itu , maka saya lompat dan terjatuh hingga menciptakan kaki saya sedikit terkilir, makanya saya agak pincang, tapi sebentar lagi juga sembuh”
Kejadian serupa juga dialami oleh keluarga erat Abu Ibrahim Woyla sendiri, suatu hari Abu mengunjungi salah seorang saudaranya untuk meminta sedikit nasi dengan lauk sambel udang belimbing, kemudian tuan rumah itu menyampaikan pada isterinya untuk menyiapkan nasi dengan sambel udang belimbing untuk Abu Ibrahim Woyla, tapi isterinya memberi tahu bahwa pohon belimbingnya tidak lagi berbuah, “baru kemarin sore saya lihat pohon belimbingnya lagi tidak ada buahnya” kata sang isteri pada suaminya. Tapi suaminya terus mendesak isterinya “coba kau lihat dulu, kadang ada barang dua tiga buah sudah cukup untuk makan Abu” katanya.lalu isterinya pergi ke pohon belakang rumah, ternyata belimbing itu memang didapatkan tak lebih dari tiga buah di pohon yang kemarin sore dilihatnya.
Demikian pula ketika hendak melangsungkan ijab kabul anak pertama Abu Ibrahim Woyla, yaitu Salmiah, msyarakat di kampung melihat tampaknya Abu Ibrahim Woyla tidak peduli terhadap program ijab kabul anaknya. padahal program ijab kabul itu akan berlangsung beberapa hari lagi, tapi Abu Ibrahim Woyla tidak menyiapkan apa-apa untuk menghadapi program ijab kabul anaknya itu, bahkan uang pun tidak dia kasih pada keluarga untuk kebutuhan program tersebut. Namun ajaibnya pada hari “H” (hari ijab kabul berlangsung) ternyata program ijab kabul anaknya berlangsung lebih besar dari pesta-pesta ijab kabul orang lain yang jauh-jauh hari telah mempersiapkan segala sesuatunya.
Begitulah sebagian dari perjalanan riwayat hidup seorang ulama dan aulia Abu Ibrahim Woyla yang sulit dicari penggantinya di Aceh kini ini. Beliau berpulang ke Rahmatullah pada hari sabtu pukul 16.00 WIB tanggal 18 Juli 2009 di rumah anaknya di Pasi Aceh Kecamatan Woyla Induk, Kabupaten Aceh Barat dalam usia 90 tahun. Tim Majalah Santri Dayah pernah berziarah ke makan dia pada pertengahan tahun 2012, melihat makan yang dijaga oleh anak tertuanya, berbagai diziarahi oleh masyarakat. Namun pihak keluarga sangat hati-hati dan berpesan pada penziarah semoga makan Abu Ibrahim Woyla tidak dijadikan tempat pemujaan (yang membawaki kepada syirik). [TZ]
Abu Ibrahim Woyla yang berjulukan lengkap Teungku (Ustadz/Kiyai) Ibrahim bin Teungku Sulaiman bin Teungku Husen dilahirkan di kampung Pasi Aceh, Kecamatan Woyla, Kabupaten Aceh Barat pada tahun 1919 M. Menurut riwayat, pendidikan formal Abu Ibrahim Woyla hanya sempat menamatkan Sekolah Rakyat (SR), selebihnya menempuh pendidikan Dayah (Pesantren Salafi/Tradisional) selama hampir 25 tahun. sehingga dalam sejarah masa hidupnya Abu Ibrahim Woyla pernah berguru 12 tahun pada Syeikh Mahmud seorang ulama asal Lhok Nga Aceh Besar yang kemudian mendirikan Dayah Bustanul Huda di Kecamatan Blang Pidie, Aceh Barat Daya. Di antara murid Syeikh Mahmud ini selain Abu Ibrahim Woyla juga Abuya Syeikh Muda Waly Al-Khalidy yang kemudian Abu Ibrahim Wayla berguru padanya, Abuya Muda Waly yaitu sebagai seorang ulama tareqat naqsyabandiyah tersohor di Aceh.
Menurut keterangan, Syeikh Muda Waly hanya sempat berguru pada Syeikh Mahmud sekitar 3 tahun, kemudian pindah ke Aceh Besar dan berguru pada Abu Haji Hasan Krueng Kale dan Abu Hasballah Indrapuri. sesudah itu Syeikh Muda Waly pindah ke Padang dan berguru pada Syeikh Jamil Jaho di Padang Panjang. beberapa tahun di Padang Syeikh Muda Waly melanjutkan pendidikan ke Mekkah, kemudian Syeikh Muda Waly kembali kepadang dan pulang ke Aceh Selatan untuk mendirikan Pesantren Tradisional di Labuhan Haji Aceh Selatan. Saat itulah Abu Ibrahim Woyla sudah mengetahui bahwa Syeikh Muda Waly telah kembali dari Mekkah dan mendirikan Dayah, maka Abu Ibrahim Woyla kembali berguru pada Syeikh Muda Waly untuk memperdalam ilmu tareqat naqsyabandiyah. Namun sebelum itu Abu Ibrahim Woyla pernah berguru pada Abu Calang (Syeikh Muhammad Arsyad) dan Teungku Bilal yatim (Suak) bersama rekan seangkatannya yaitu (alm) Abu Adnan Bakongan.
Setelah lebih kurang 3 tahun memperdalam ilmu tareqat pada Syeikh Muda Waly, Abu Ibrahim Woyla kembali ke kampung halamannya, tapi tak usang sesudah itu Abu Ibrahim Woyla mulai mengembara yang dimana keluarga sendiri tidak mengetahui kemana Abu Ibrahim Woyla pergi mengembara. Menurut riwayat dari Teungku Nasruddin (menantu Abu Ibrahim Woyla) semasa hidupnya Abu Ibrahim Woyla pernah menghilang dari keluarga selama tiga kali, Pertama, Abu Ibrahim Woyla menghilangkan diri selama 2 bulan, Kedua, Abu Ibrahim Woyla menghilang selama 2 tahun dan Ketiga, Abu Ibrahim Woyla menghilangkan diri selama 4 tahun yang tidak diketahui kemana perginya.
Dalam kali terakhir inilah Abu Ibrahim Woyla kembali pada keluarganya di Pasi Aceh, pihak keluarga tidak habis pikir pada perubahan yang terjadi pada Abu Ibrahim Woyla. Rambut dan jenggotnya sudah demikian panjang tak ter-urus, pakaiannya sudah compang camping dan kukunya panjang seadanya. mungkin sanggup kita bayangkan seseorang yang menghilang selama 4 tahun dan tak sempat untuk mengurus dirinya. Begitulah kondisi Abu Ibrahim Woyla ketika kembali ke tengah keluarganya sesudah 4 tahun menghilang, maka masuk akal bila secara duniawiyah dalam kondisi menyerupai itu sebagian masyarakat Woyla menganggap Abu Ibrahim Woyla sudah tidak waras lagi.
Abu Ibrahim Woyla oleh banyak orang dikenal sebagai ulama agak pendiam dan ini sudah menjadi bawaannya sewaktu kecil hingga masa tua. Beliau hanya berkomunikasi bila ada hal yang perlu untuk disampaikan sehingga banyak orang yang tidak berani bertanya terhadap hal-hal yang terkesan aneh bila dikerjakan Abu Ibrahim Woyla. Sikap Abu Ibrahim Woyla menyerupai itu sangat dirasakan oleh keluarganya, namun alasannya yaitu mereka sudah tau sifat dan pembawaannya demikian, keluarga hanya sanggup pasrah terhadap pilihan jalan hidup yang ditempuh Abu Ibrahim Woyla yang terkadang perilaku dan tindakannya tidak masuk akal. Tapi begitulah orang mengenal sosok Abu Ibrahim Woyla.
Abu Ibrahim Woyla mempunyai dua orang isteri, isteri pertama berjulukan Rukiah, dari hasil ijab kabul ini Abu Ibrahim Woyla dikaruniai 3 orang anak, seorang pria dan 2 perempuan. yang pria berjulukan Zulkifli dan yang wanita berjulukan Salmiah dan Hayatun Nufus. Sementara pada isteri keduanya yang dia nikahi di Peulantee, Aceh Barat, dua tahun sebelum dia meninggal tidak dikaruniai anak.
Menurut kisah tatkala isteri pertamanya hamil 6 bulan untuk anak pertama yang dikandung Ummi Rukian, kondisi Abu Ibrahim Woyla ketika itu menyerupai tidak stabil, sehingga dia menyampaikan pada isterinya “Saya mau belah perut kau untuk melihat anak kita”, kata Abu Ibrahim Woyla pada isterinya yang pada ketika itu menciptakan keluarganya tak habis pikir terhadap apa yang diucapkan Abu Ibrahim Woyla pada isterinya itu. Karena perkataan menyerupai itu dianggap perkataan yang sudah diluar kebijaksanaan sehat, maka keluarga dengan cemas menggatakan kita tidak tahu apa yang dimaksudkan oleh Abu Ibrahim Woyla yang meminta untuk membelah perut isterinya yang sedang mengandung 6 bulan. Meskipun begitu, perkataan yang pernah diucapkan itu tak pernah dilakukannya.
Pada tahun 1954 sebetulnya tahun yang sangat membahagiakan bagi pasangan suami-isteri alasannya yaitu pada tahun itu lahir anak pertama dari pasangan Abu Ibrahim Woyla dan Ummi Rukiah, akan tetapi kehadiran seorang pertama itu bagi Abu Ibrahim Woyla bukanlah sesuatu yang istimewa. Abu Ibrahim Woyla ketika itu hanya pulang sebentar menjenguk anaknya yang gres lahir, kemudian dia pergi kembali mengembara entah kemana. Ketika anak pertamanya yang diberi nama Salmiah sudah besar, berdasarkan kisah Teungku Nasruddin barulah kondisi Abu Ibrahim Woyla kembali normal hidup bersama keluarganya. Dan ketika itu Abu Ibrahim Woyla sempat membuka lahan perkebunan di Suwak Trieng untuk menjadi harta yang ditinggalkan untuk keluarganya di kemudian hari.
Pada ketika itu kehidupan Abu Ibrahim Woyla bersama keluarganya sudah sangat serasi hingga lahir anak kedua, Hayatun Nufus dan anaknya yang ketiga Zulkifli. Semua keluarganya sangat bersyukur alasannya yaitu Abu Ibrahim Woyla telah tinggal bersama keluarganya. Namun apa mau dikata, tak usang sesudah lahir anaknya yang ketiga Abu Ibrahim Woyla kembali meninggalkan keluarganya dan entah kemana. Sehingga Ummi Rukiah tidak tahan lagi dengan ketidakpedulian Abu Ibrahim Woyla terhadap nafkah keluarganya, isterinya minta untuk pulang ke Blang Pidie kawasan asalnya.
Alasan isterinya untuk pulang ke Blang Pidie memang tepat, alasannya yaitu menurutnya Abu Ibrahim Woyla tidak lagi peduli kepada keluarga, dia hanya asyik berzikit sendiri dan pergi kemana dia suka. akan tetapi, harapan Ummii Rukian untuk kembali ke Blang Pidie tidak terwujud alasannya yaitu Allah mempersatukan Abu Ibrahim Woyla dan isterinya hingga simpulan hayatnya.
Bila kita dengar kisah dan kisah perihal Abu Ibrahim Woyla semasa hidupnya tak ubah menyerupai kita membaca kisah para sufi dan andal tashawwuf. Banyak sekali tindakan yang dikerjakan Abu Ibrahim Woyla semasa hidupnya yang terkadang tidak sanggup diterima secara rasional, alasannya yaitu kejadian yang diperankannya termasuk di luar jangkauan kebijaksanaan pikiran manusia. Untuk mengenal prilaku Abu Ibrahim Woyla haruslah memakai pikiran alam lain sehingga menemukan tanggapan apa yang dilakukan Abu Ibrahim Woyla itu benar adanya.
Itulah keajaiban-keajaiban yang menempel pada sosook Abu Ibrahim Woyla, yang oleh sebagian ulama di Aceh menilai bahwa Abu Ibrahim Woyla yaitu seorang ulama yang sudah mencapai tingkat Waliyullah (Wali Allah). hal itu diakui Teungku Nasruddin, memang berbagai laporan masyarakat yang diterima keluarga menceritakan seputar keajaiban kehidupan Abu Ibrahim Woyla. Hal ini terbukti semasa hidupnya Abu Ibrahim Woyla selalu mendatangi tempat-tempat dimana umat selalu dalam kesusahan, kegelisahan dan petaka dia selalu ada di tengah-tengah masyarakat itu. Namun orang sulit memahami maksud dan tujuan Abu Ibrahim Woyla untuk apa dia mendatangi tempat-tempat menyerupai itu, alasannya yaitu kedatangannya tidak membawa pesan atau amanah apapun bagi masyarakat yang didatanginya. Abu Ibrahim Woyla hanya tiba berdoa di tempat-tempat yang ia datangi, tutur Teungku Nasruddin.
Dalam hal ini Ustadz (Teungku disingkat Tgk) Muhammad Kurdi Syam ( seorang warga Kayee Unoe, Calang yang sangat mengenal Abu Ibrahim Woyla menceritakan bahwa Abu Ibrahim Woyla kebetulan sedang berjalan kaki, dia terkadang masuk ke sebuah rumah tertentu milik masyarakat yang dilawatinya, ia mengelilingi rumah tersebut hingga beberapa kali kemudian berhenti pas di halaman rumah itu dan menghadapkan dirinya ke arah rumah tersebut dengan berzikir LA ILAHA ILLALLAH yang tak berhenti keluar dari mulutnya, sesudah itu Abu Ibrahim Woyla pergi meninggalkan rumah itu. TIdak ada yang tahu makna yang terkandung di balik semua itu, apakah semoga penghuni rumah itu terhindar dari ancaman yang akan menimpa mereka atau mendoakan penghuni rumah itu semoga dirahmati Allah ? Wallahu A’lam.
Menurut Tgk Nasruddin , dilihat dari kehidupannya, Abu Ibrahim Woyla tampaknya tidak lagi membutuhkan hal-hal yang bersifat duniawi, ia mencontohkan, jikalau contohnya Abu Ibrahim Woyla mempunyai uang, uang tersebut sanggup habis dalam sekejap mata dibagikan kepada orang yang membutuhkan dan biasanya Abu Ibrahim Woyla membagikan uang itu kepada belum dewasa dalam jumlah yang tidak diperhitungkan (sama menyerupai amalan Rasulullah). Begitulah kehidupan Abu Ibrahim Woyla dalam kehidupan sehari-hari.
Keajaiban lain yang menciptakan masyarakat tak habis pikir dan bertanya-tanya yaitu soal kecepatan dia melaksanakan perjalanan kaki yang ternyata lebih cepat dari kendaraan bermesin. Memang kebiasaan Abu Ibrahim Woyla jikalau pergi kemana-mana selalu berjalan kaki tanpa memakai sendal. Bagi orang yang belum mengenalnya sanggup beranggapan bahwa Abu Ibrahim Woyla sosok yang tidak normal. Karena disamping penampilannya yang tidak rapi, mulutnya terus komat kamit mengucapkan zikir sambil jalan. Tgk Muhammad Kurdi Syam menceritakan suatu ketika Abu Ibrahim Woyla sedang jalan kaki di Teunom menuju Meulaboh (perjalanan yang memakan waktu 1 hingga 2 jam dengan kendaraan bermotor), yang anehnya Abu Ibrahim Woyla ternyata duluan hingga di Meulaboh, padahal yang punya kendaraan beroda empat tadi tahu bahwa tidak ada kendaraan lain yang mendahului mobilnya, kejadian ini bukan sekali dua kali terjadi, malah bagi masyarakat di pantai barat yang sudah mengganggap itulah kelebihan sosok ulama keramat Abu Ibrahim Woyla yang luar biasa tidak sanggup dinalar oleh pikiran orang biasa.
karena tak heran jikalau Abu Ibrahim Woyla berada menyerupai di pasar, contohnya semua pedagang di pasar itu berharap semoga Abu Ibrahim Woyla sanggup singgah di toko mereka, alasannya yaitu mereka ingin mendapat berkah Allah melalui perantaran Abu Ibrahim Woyla. Namun tidak segampang itu alasannya yaitu Abu Ibrahim Woyla punya pilihan sendiri untuk mampir di suatu tempat. Seperti yang diceritakan Tgk Muhammad Kurdi Syam, suatu waktu Abu Ibrahim Woyla sedang berada di Lamno, Aceh Jaya. kemudian bertemu dengan seseorang yang berjulukan Samsul Bahri yang sedang bekerja di Abah Awe, ketika itu kebetulan Abu Ibrahim Woyla membawa dua potong lemang. Ketika mampir di situ Abu Ibrahim Woyla meminta sedikit air, sesudah air itu diberikan Samsul kemudian Abu Ibrahim Woyla memperlihatkan dua potong lemang tersebut kepada Samsul tapi Samsul menolaknya alasannya yaitu berdasarkan Samsul bahwa lemang tersebut yaitu sedekah orang yang diberikan kepada Abu Ibrahim Woyla. alasannya yaitu tidak mau diterima Samsul, lemang itu dibuang Abu Ibrahim Woyla yang tak jauh dari tempat duduknya, impulsif saja Samsul tercengang dengan tindakan Abu yang membuang lemang begitu saja, alasannya yaitu merasa bersalah kemudian Samsul ingin mengambil lemang yang sudah dibuang tersebut, namun sayang, ketika mau diambil lemang itu hilang secara tiba-tiba.
Dalam kejadian lain, Tgk Nasruddin menceritakan suatu ketika (sebelum Tgk Nasruddin menjadi menantu Abu Ibrahim Woyla), tiba-tiba shubuh pagi Abu Ibrahim Woyla tiba ke almamaternya ke Pesantren Syeikh Mahmud, kaki Abu Ibrahim Woyla kelihatan sedikit pincang sebelah jikalau dia berjalan. Kedatangan Abu Ibrahim Woyla disambut Tgk Nasruddin dan teman-teman sepengajian lainnya. Lalu Abu meminta sedikit nasi untuk sarapan pagi, “nasinya ada, tapi tidak ada lauk pauk apa-apa Abu” kata Tgk Nasruddin, “Nggak apa-apa, saya makan pakai telur saja, coba lihat dulu di dapur mungkin masih ada satu telur tersisi” jawab Abu Ibrahim Woyla, kemudian Tgk Nasruddin menuju ke dapur, ternyata di tempat yang biasa ia simpan telur terdapat satu butir telur, padahal seingatnya tidak ada sisa telur lagi alasannya yaitu sudah habis dimakan.
Lantas sambil menyuguhkan Nasi kepada Abu Ibrahim Woyla, Tgk Nasruddin bertanya, “Kenapa dengan kaki Abu ?” Abu menjawab “saya gres pulang dari bukit Qaf (Mekkah), disana berbagai tokonya tapi tidak ada penjualnya. Namun jikalau kita ingin membeli sesuatu kita harus membayar di mesin, jikalau tidak kita bayar kita akan ditangkap polisi”, Abu meneruskan “setelah saya belanja di toko-toko itu kemudian saya naik kereta api dan sangat cepat larinya, alasannya yaitu saya takut duduk dalam kereta api itu , maka saya lompat dan terjatuh hingga menciptakan kaki saya sedikit terkilir, makanya saya agak pincang, tapi sebentar lagi juga sembuh”
Kejadian serupa juga dialami oleh keluarga erat Abu Ibrahim Woyla sendiri, suatu hari Abu mengunjungi salah seorang saudaranya untuk meminta sedikit nasi dengan lauk sambel udang belimbing, kemudian tuan rumah itu menyampaikan pada isterinya untuk menyiapkan nasi dengan sambel udang belimbing untuk Abu Ibrahim Woyla, tapi isterinya memberi tahu bahwa pohon belimbingnya tidak lagi berbuah, “baru kemarin sore saya lihat pohon belimbingnya lagi tidak ada buahnya” kata sang isteri pada suaminya. Tapi suaminya terus mendesak isterinya “coba kau lihat dulu, kadang ada barang dua tiga buah sudah cukup untuk makan Abu” katanya.lalu isterinya pergi ke pohon belakang rumah, ternyata belimbing itu memang didapatkan tak lebih dari tiga buah di pohon yang kemarin sore dilihatnya.
Demikian pula ketika hendak melangsungkan ijab kabul anak pertama Abu Ibrahim Woyla, yaitu Salmiah, msyarakat di kampung melihat tampaknya Abu Ibrahim Woyla tidak peduli terhadap program ijab kabul anaknya. padahal program ijab kabul itu akan berlangsung beberapa hari lagi, tapi Abu Ibrahim Woyla tidak menyiapkan apa-apa untuk menghadapi program ijab kabul anaknya itu, bahkan uang pun tidak dia kasih pada keluarga untuk kebutuhan program tersebut. Namun ajaibnya pada hari “H” (hari ijab kabul berlangsung) ternyata program ijab kabul anaknya berlangsung lebih besar dari pesta-pesta ijab kabul orang lain yang jauh-jauh hari telah mempersiapkan segala sesuatunya.
Begitulah sebagian dari perjalanan riwayat hidup seorang ulama dan aulia Abu Ibrahim Woyla yang sulit dicari penggantinya di Aceh kini ini. Beliau berpulang ke Rahmatullah pada hari sabtu pukul 16.00 WIB tanggal 18 Juli 2009 di rumah anaknya di Pasi Aceh Kecamatan Woyla Induk, Kabupaten Aceh Barat dalam usia 90 tahun. Tim Majalah Santri Dayah pernah berziarah ke makan dia pada pertengahan tahun 2012, melihat makan yang dijaga oleh anak tertuanya, berbagai diziarahi oleh masyarakat. Namun pihak keluarga sangat hati-hati dan berpesan pada penziarah semoga makan Abu Ibrahim Woyla tidak dijadikan tempat pemujaan (yang membawaki kepada syirik). [TZ]

0 Response to "Nih Ulama Aceh Yang Keramat"
Posting Komentar