Nih Ayat Ihwal Jin Dan Setan
Jin berdasarkan bahasa (Arab) berasal dari kata ijtinan, secara harfiah berarti sesuatu yang berkonotasi “tersembunyi” atau “tidak terlihat”. Dalam Islam dan mitologi Arab pra-Islam, jin yaitu salah satu ras mahluk yang tidak terlihat dan diciptakan dari api. Makhluk ciptaan Allah sanggup dibedakan antara yang bernyawa dan tak bernyawa, di antara yang bernyawa yaitu jin. Kaprikornus jin berdasarkan bahasa berarti sesuatu yang tersembunyi dan halus, sedangkan syetan ialah setiap yang durhaka dari golongan jin, insan atau hewan.
Dinamakan jin, lantaran ia tersembunyi wujudnya dari pandangan mata manusia. Itulah sebabnya jin dalam wujud aslinya tidak sanggup dilihat mata manusia. Kalau ada insan yang sanggup melihat jin, maka jin yang dilihatnya itu yaitu jin yang sedang berubah menjadi dalam wujud makhluk yang sanggup dilihat mata insan biasa. Tentang asal kejadian jin, Allah menjelaskan, kalau insan pertama diciptakan dari tanah, maka jin diciptakan dari api yang sangat panas sesuai dengan ayat yang akan kami jelaskan di bawah.
Jin secara harfiah berarti sesuatu yang berkonotasi “tersembunyi” atau “tidak terlihat”. Dalam Islam dan mitologi Arab pra-Islam, jin yaitu salah satu ras mahluk yang tidak terlihat dan diciptakan dari api.
Menurut Ibnu Aqil sebagaimana dikutip asy-Syibli dalam bukunya Akam al-Marjan fi Ahkam al-Jann, menyampaikan bahwa makhluk ini disebut dengan jin lantaran secara bahasa jin artinya yang tersembunyi, terhalang, tertutup. Disebut jin, lantaran makhluk ini terhalang (tidak sanggup dilihat) dengan kasat mata manusia.
2. Pengetahuan Tentang Jin Menurut Al-Qur'an
1. (Proses penciptaan Manusia dan Jin)
Surah Al-Hijr ayat 26 – 27
وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ مِن صَلۡصَـٰلٍ۬ مِّنۡ حَمَإٍ۬ مَّسۡنُونٍ۬ (٢٦) وَٱلۡجَآنَّ خَلَقۡنَـٰهُ مِن قَبۡلُ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ (٢٧
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah membuat insan dari tanah liat yang kering kerontang yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk dan Kami telah ciptakan Jin sebelum di ciptakan insan dari api yang sangat panas.”
2. (Asal penciptaan jin)
Surah Ar-Rahman ayat 15:
وَخَلَقَ ٱلۡجَآنَّ مِن مَّارِجٍ۬ مِّن نَّارٍ۬
Artinya: “Dia (Allah) membuat Jann (Jin) dari nyala api (Pucuk api yang menyala-nyala atau Maarij)”
3. (Tantangan Untuk jin dan manusia)
Ar-Rahman: 33:
يَـٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ إِنِ ٱسۡتَطَعۡتُمۡ أَن تَنفُذُواْ مِنۡ أَقۡطَارِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ فَٱنفُذُواْۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلۡطَـٰنٍ۬
Hai jama’ah jin dan manusia, kalau kau sanggup menembus [melintasi] penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kau tidak sanggup menembusnya melainkan dengan kekuatan.
4. (Jin insan mahluk yang lemah)
Ar-Rahman: 35
يُرۡسَلُ عَلَيۡكُمَا شُوَاظٌ۬ مِّن نَّارٍ۬ وَنُحَاسٌ۬ فَلَا تَنتَصِرَانِ
Kepada kau [jin dan manusia], dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kau tidak sanggup menyelamatkan diri [daripadanya].
5. (Hisab)
Ar-Rahman: 39
فَيَوۡمَٮِٕذٍ۬ لَّا يُسۡـَٔلُ عَن ذَنۢبِهِۦۤ إِنسٌ۬ وَلَا جَآنٌّ۬
Pada waktu itu insan dan jin tidak ditanya ihwal dosanya.
6. (Logika iblis yang keliru)
Surah Al-’Araf ayat 12:
خَلَقۡتَنِى مِن نَّارٍ۬ وَخَلَقۡتَهُ ۥ مِن طِينٍ۬ ......
Artinya: “Engkau ciptakan saya (kata Iblis) dari api sedangkan ciptakan dia (Adam) dari tanah.”
7. (Jin sanggup melihat manusia, insan tidak sanggup melihat jin[dalam bentuk aslinya])
Al-A’raf Ayat 27:
إِنَّهُ ۥ يَرَٮٰكُمۡ هُوَ وَقَبِيلُهُ ۥ مِنۡ حَيۡثُ لَا تَرَوۡنَہُمۡۗ
“Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kau dari suatu daerah yang kau tidak sanggup melihat mereka.”
8. (Setan dan pengikutnya akan dimasukkan neraka)
Al-A'raf: 38:
قَالَ ٱدۡخُلُواْ فِىٓ أُمَمٍ۬ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِڪُم مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ فِى ٱلنَّارِۖ كُلَّمَا دَخَلَتۡ أُمَّةٌ۬ لَّعَنَتۡ أُخۡتَہَاۖ حَتَّىٰٓ إِذَا ٱدَّارَڪُواْ فِيہَا جَمِيعً۬ا قَالَتۡ أُخۡرَٮٰهُمۡ لِأُولَٮٰهُمۡ رَبَّنَا هَـٰٓؤُلَآءِ أَضَلُّونَا فَـَٔاتِہِمۡ عَذَابً۬ا ضِعۡفً۬ا مِّنَ ٱلنَّارِۖ قَالَ لِكُلٍّ۬ ضِعۡفٌ۬ وَلَـٰكِن لَّا تَعۡلَمُونَ
Allah berfirman: "Masuklah kau sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan insan yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk [ke dalam neraka], dia mengutuk kawannya [yang menyesatkannya]; sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu: "Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, lantaran itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka". Allah berfirman: "Masing-masing menerima [siksaan], yang berlipat ganda, akan tetapi kau tidak mengetahui". (38).
9. (Tujuan penciptaan jin dan manusia)
Adz-Dzariyat: 56:
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ
Dan Aku tidak membuat jin dan insan melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (56)
10. (Jahannam berisi pendurhakan dari golongan jin dan manusia)
Hud: 119
إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَۚ وَلِذَٲلِكَ خَلَقَهُمۡۗ وَتَمَّتۡ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجۡمَعِينَ
Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah membuat mereka. Kalimat Tuhanmu [keputusan-Nya] telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan insan [yang durhaka] semuanya. (119).
11. (Keputusan Allah untuk para pendurhaka).
Fushshilat; 25:
وَقَيَّضۡنَا لَهُمۡ قُرَنَآءَ فَزَيَّنُواْ لَهُم مَّا بَيۡنَ أَيۡدِيہِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡ وَحَقَّ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقَوۡلُ فِىٓ أُمَمٍ۬ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِم مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ خَـٰسِرِينَ
Dan Kami menetapkan bagi mereka teman-teman yang menyebabkan mereka memandang elok apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka dan tetaplah atas mereka keputusan adzab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jin dan manusia; sesungguhnya mereka yaitu orang-orang yang merugi. (25).
12. (Do'a pertolongan dari gangguan setan)
An-Nas: 1-6:
قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ (١) مَلِكِ ٱلنَّاسِ (٢) إِلَـٰهِ ٱلنَّاسِ (٣) مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ (٤) ٱلَّذِى يُوَسۡوِسُ فِى صُدُورِ ٱلنَّاسِ (٥) مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ (٦)
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan [yang memelihara dan menguasai] manusia. (1) Raja manusia. (2) Sembahan manusia. (3) dari kejahatan [bisikan] syaitan yang biasa bersembunyi, (4) yang membisikkan [kejahatan] ke dalam dada manusia. (5) dari [golongan] jin dan manusia. (6)
13. (Kecaman untuk para penyembah jin)
Al-An'am: 100:
وَجَعَلُواْ لِلَّهِ شُرَكَآءَ ٱلۡجِنَّ وَخَلَقَهُمۡۖ وَخَرَقُواْ لَهُ ۥ بَنِينَ وَبَنَـٰتِۭ بِغَيۡرِ عِلۡمٍ۬ۚ سُبۡحَـٰنَهُ ۥ وَتَعَـٰلَىٰ عَمَّا يَصِفُونَ
Dan mereka [orang-orang musyrik] menyebabkan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang membuat jin-jin itu, dan mereka membohong [dengan mengatakan]: "Bahwasanya Allah memiliki anak pria dan perempuan", tanpa [berdasar] ilmu pengetahuan . Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. (100)
14. (Hari pengadilan jin dan para pengikutnya)
Al-An'am: 128:
وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ جَمِيعً۬ا يَـٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ قَدِ ٱسۡتَكۡثَرۡتُم مِّنَ ٱلۡإِنسِۖ وَقَالَ أَوۡلِيَآؤُهُم مِّنَ ٱلۡإِنسِ رَبَّنَا ٱسۡتَمۡتَعَ بَعۡضُنَا بِبَعۡضٍ۬ وَبَلَغۡنَآ أَجَلَنَا ٱلَّذِىٓ أَجَّلۡتَ لَنَاۚ قَالَ ٱلنَّارُ مَثۡوَٮٰكُمۡ خَـٰلِدِينَ فِيهَآ إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ۬
Dan [ingatlah] hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, [dan Allah berfirman]: "Hai golongan jin [syaitan], sesungguhnya kau telah banyak [menyesatkan] manusia", kemudian berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah sanggup kesenangan dari sebahagian [yang lain] dan kami telah hingga kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami". Allah berfirman: "Neraka itulah daerah membisu kamu, sedang kau kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki [yang lain]". Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (128).
15. (Setan itu ingkar, beda dengan para Malaikat yang taat)
Ash-Shaffat: 158-166:
وَجَعَلُواْ بَيۡنَهُ ۥ وَبَيۡنَ ٱلۡجِنَّةِ نَسَبً۬اۚ وَلَقَدۡ عَلِمَتِ ٱلۡجِنَّةُ إِنَّہُمۡ لَمُحۡضَرُونَ (١٥٨) سُبۡحَـٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ (١٥٩) إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ (١٦٠) فَإِنَّكُمۡ وَمَا تَعۡبُدُونَ (١٦١) مَآ أَنتُمۡ عَلَيۡهِ بِفَـٰتِنِينَ (١٦٢) إِلَّا مَنۡ هُوَ صَالِ ٱلۡجَحِيمِ (١٦٣) وَمَا مِنَّآ إِلَّا لَهُ ۥ مَقَامٌ۬ مَّعۡلُومٌ۬ (١٦٤) وَإِنَّا لَنَحۡنُ ٱلصَّآفُّونَ (١٦٥) وَإِنَّا لَنَحۡنُ ٱلۡمُسَبِّحُونَ (١٦٦)
Dan mereka adakan [hubungan] nasab antara Allah dan antara jin. Dan sesungguhnya jin mengetahui bahwa mereka benar-benar akan diseret [ke neraka], (158) Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan, (159) kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan dari [dosa]. (160) Maka sesungguhnya kau dan apa-apa yang kau sembah itu, (161) sekali-kali tidak sanggup menyesatkan [seseorang] terhadap Allah, (162) kecuali orang-orang yang akan masuk neraka yang menyala. (163) Tiada seorangpun di antara kami [malaikat] melainkan memiliki kedudukan yang tertentu, (164) dan sesungguhnya Kami benar-benar bershaf-shaf [dalam menunaikan perintah Allah]. (165) Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih [kepada Allah]. (166).
Suatu ketika Allah SWT memerintahkan seorang Malaikat menemui Iblis semoga menghadap Baginda Rasul saw untuk memberitahu segala rahasianya, baik yang disuka maupun yang dibencinya. Hal ini dimaksudkan untuk meninggikan derajat Nabi Muhammad saw dan juga sebagai peringatan dan perisai umat manusia.
Kemudian Malaikat itupun mendatangi Iblis dan berkata : “Hai Iblis! Engkau diperintah Allah untuk menghadap Rasulullah saw. Bukalah semua rahasiamu dan jawablah setiap pertanyaan Rasulullah dengan jujur. Jika engkau berdusta walau satu perkataanpun, pasti akan terputus semua anggota badanmu, uratmu serta disiksa dengan azab yang amat pedih”.
Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan, maka segera ia menghadap Rasulullah saw dengan menyamar sebagai orang bau tanah yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai yang panjangnya mirip ekor lembu.
Iblis pun memberi salam hingga 3 (tiga) kali salam, Rasulullah saw tidak juga menjawabnya, maka Iblis berkata : “Ya Rasullullah! Mengapa engkau tidak menjawab salamku? Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?” Maka jawab Nabi dengan murka : “Hai musuh Allah! Kepadaku engkau menunjukkan kebaikanmu? Jangan kau coba menipuku sebagaimana kau tipu Nabi Adam as sehingga ia keluar dari syurga, kau hasut Qabil sehingga ia tega membunuh Habil yang masih saudaranya sendiri, ketika sedang sujud dalam sembahyang kau tiup Nabi Ayub as dengan asap beracun sehingga ia sengsara untuk beberapa lama, dongeng Nabi Daud as dengan wanita Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaannya lantaran engkau menyamar sebagai isterinya dan begitu juga beberapa Anbiya dan pendeta yang telah menanggung sengsara akhir hasutanmu.
Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah azza wa jalla, tapi saya diharamkan Allah menjawab salammu. Aku mengenalmu dengan baik wahai Iblis, Raja segala Iblis. Apa tujuanmu menemuiku?”.
Jawab Iblis : “Ya Nabi Allah! Janganlah engkau marah. Engkau sanggup mengenaliku lantaran engkau yaitu Khatamul Anbiya. Aku tiba atas perintah Allah untuk memberitahu segala tipu dayaku terhadap umatmu dari zaman Nabi Adam as hingga kiamat nanti. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang engkau tanya, saya bersedia menandakan satu persatu dengan sebenarnya, saya tidak berani menyembunyikannya”.
Kemudian Iblispun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata : “Ya Rasulullah! Sekiranya saya berdusta barang sepatahpun pasti hancur leburlah badanku menjadi abu”.
Ketika mendengar sumpah Iblis itu, Nabipun tersenyum dan berkata dalam hatinya, inilah kesempatanku untuk menyiasati segala perbuatannya semoga didengar seluruh sahabat yang ada di majlis ini dan menjadi perisai seluruh umatku.
Pertanyaan Nabi (1) :
“Hai Iblis! Siapakah musuh besarmu?”
Jawab Iblis : “Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku yang paling besar di antara musuh-musuhku di muka bumi ini”.
Kemudian Nabipun memandang muka Iblis dan Iblispun gemetar lantaran ketakutan. Sambung Iblis : “Ya Khatamul Anbiya! Aku sanggup merubah diriku mirip manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan suarapun tidak berbeda, kecuali dirimu saja yang tidak sanggup saya tiru lantaran dicegah oleh Allah. Andaikan saya ibarat dirimu, maka terbakarlah diriku menjadi abu.
Aku cabut iktikad / niat anak Adam supaya menjadi kafir lantaran engkau berusaha memberi pesan yang tersirat dan pengajaran supaya mereka berpengaruh untuk memeluk agama Islam, begitu juga saya berusaha menarik mereka kepada kekafiran, murtad atau munafik. Aku akan menarik seluruh umat Islam dari jalan yang benar menuju jalan yang sesat supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya bersamaku”.
Pertanyaan Nabi (2) :
“Hai Iblis! Apa yang kau perbuat terhadap makhluk Allah?”
Jawab Iblis : “Adalah satu kemajuan bagi wanita yang merenggangkan kedua pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Aku goda semua insan supaya meninggalkan sholat, berbuai dengan masakan dan minuman, berbuat durhaka, saya lalaikan dengan harta benda, emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan yang haram.
Demikian juga ketika pesta di mana lelaki dan wanita bercampur. Di sana saya lepaskan godaan yang besar supaya mereka lupa peraturan dan karenanya minum arak. Apabila terminum arak itu, maka hilanglah akal, fikiran dan malunya. Lalu saya ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, tiba perasaan hasad dengki hingga perbuatan zina. Apabila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri.
Apabila mereka sadar akan kesalahan mereka kemudian hendak bertaubat dan berbuat amal ibadah, akan saya rayu supaya mereka membatalkannya. Semakin keras saya goda supaya mereka berbuat maksiat dan mengambil isteri orang. Jika hatinya terkena godaanku, datanglah rasa ria’, takabur, iri, sombong dan melengahkan amalnya. Jika lidahnya yang tergoda, maka mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah saya goda mereka setiap saat”.
Pertanyaan Nabi (3) :
“Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah payah melaksanakan pekerjaan yang tidak mendatangkan faedah bahkan menambah laknat yang besar dan siksa yang besar di neraka yang paling bawah? Hai yang dikutuk Allah! Siapa yang menjadikanmu? Siapa yang melanjutkan usiamu? Siapa yang menandakan matamu? Siapa yang memberi pendengaranmu? Siapa yang memberi kekuatan anggota badanmu?
Jawab Iblis : “Semuanya itu yaitu anugerah dari Allah Yang Maha Besar. Tetapi hawa nafsu dan takabur membuatku menjadi jahat sebesar-besarnya. Engkau lebih tahu bahwa diriku telah beribu-ribu tahun menjadi Ketua seluruh Malaikat dan pangkatku telah dinaikkan dari satu langit ke langit yang lebih tinggi. Kemudian saya tinggal di dunia ini beribadah bersama para Malaikat beberapa waktu lamanya.
Tiba-tiba tiba firman Allah SWT hendak menyebabkan seorang Khalifah di dunia ini, maka akupun membantah. Lalu Allah membuat insan yang pertama (Nabi Adam as) dan seluruh Malaikat diperintah supaya memberi hormat sujud kepada lelaki itu, hanya saya saja yang ingkar. Oleh lantaran itu, Allah murka kepadaku dan wajahku yang tampan rupawan dan bercahaya itu berubah menjadi keji dan menakutkan. Aku merasa sakit hati. Kemudian Allah menyebabkan Adam raja di syurga dan dikaruniakan seorang permaisuri (Siti Hawa) yang memerintah seluruh bidadari. Aku bertambah dengki dan dendam kepada mereka.
Akhirnya saya berhasil menipu mereka melalui Siti Hawa yang menyuruh Adam memakan buah khuldi, kemudian keduanya diusir dari syurga ke dunia. Keduanya berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di Padang Arafah), hingga mereka menerima beberapa orang anak. Kemudian kami hasut anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itupun saya masih belum puas dan banyak sekali kebijaksanaan kancil saya lakukan hingga hari kiamat kelak.
Sebelum engkau lahir ke dunia, saya beserta bala tentaraku dengan gampang sanggup naik ke langit untuk mencuri segala rahasia, goresan pena yang menyuruh insan berbuat ibadah dan tanggapan pahala serta syurga mereka. Kemudian saya turun ke dunia dan memberitahu insan yang lain ihwal apa yang bekerjsama saya dapatkan dengan banyak sekali kebijaksanaan kancil hingga tersesat dengan banyak sekali kitab bid’ah dan kehancuran.
Tetapi ketika engkau lahir ke dunia ini, maka saya tidak diijinkan oleh Allah untuk naik ke langit dan mencuri diam-diam lantaran banyak Malaikat yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika saya memaksa untuk naik, maka Malaikat akan melontarkan anak panah dari api yang menyala. Sudah banyak bala tentaraku yang terkena lontaran Malaikat itu dan semuanya terbakar menjadi abu, maka semakin beratlah pekerjaanku dan bala tentaraku untuk menjalankan kiprah menghasut manusia”.
Pertanyaan Nabi (4) :
Rasullullah bertanya “Hai Iblis! Apa yang pertama kali kau tipu dari manusia?”
Jawab Iblis : “Pertama kali saya palingkan iktikad / niatnya, imannya kepada kafir dan juga dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan atau hatinya. Jika tidak berhasil juga, akan saya tarik dengan cara mengurangi pahala. Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikuti kemauanku”.
Pertanyaan Nabi (5) :
“Hai Iblis! Jika umatku sholat lantaran Allah, apa yang terjadi padamu?”
Jawab Iblis : “Sungguh penderitaan yang sangat besar. Gemetarlah badanku dan lemah tulang sendiku, maka saya kerahkan berpuluh-puluh iblis tiba menarik hati insan pada setiap anggota badannya.
Beberapa iblis tiba pada setiap anggota badannya supaya malas sholat, was-was, lupa bilangan raka’atnya, bimbang pada pekerjaan dunia yang ditinggalkannya, merasa terburu-buru supaya cepat selesai sholatnya, hilang khusyuknya, matanya senantiasa
melirik ke kanan dan ke kiri, telinganya senantiasa mendengar percakapan orang dan bunyi-bunyi yang lain.
Beberapa iblis yang lain duduk di belakang tubuh orang yang sembahyang itu supaya tidak berpengaruh sujud berlama-lama, penat waktu duduk tahiyat dan dalam hatinya selalu merasa terburu-buru supaya cepat selesai sholatnya, itu semua membuat berkurangnya pahala. Jika para iblis tidak sanggup menarik hati insan itu, maka saya sendiri akan menghukum mereka dengan eksekusi yang berat”.
Pertanyaan Nabi (6) :
“Jika umatku membaca Al-Qur’an lantaran Allah, apa yang terjadi padamu?”
Jawab Iblis : “Jika mereka membaca Al-Qur’an lantaran Allah, maka terbakarlah tubuhku, putuslah seluruh uratku kemudian saya lari dan menjauh darinya”.
Pertanyaan Nabi (7) :
“Jika umatku mengerjakan haji lantaran Allah, bagaimana perasaanmu?”
Jawab Iblis : “Binasalah diriku, gugurlah daging dan tulangku lantaran mereka telah mencukupkan rukun Islamnya”.
Pertanyaan Nabi (8) :
“Jika umatku berpuasa lantaran Allah, bagaimana keadaanmu?”
Jawab Iblis : “Ya Rasulullah! Inilah peristiwa yang paling besar bahayanya buatku. Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy dan Kursi, bahkan seluruh Malaikat menyambut dengan suka cita. Bagi orang yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang kemudian dan digantikan dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatat dosanya selama dia berpuasa. Yang menghancurkan hatiku ialah segala isi langit dan bumi, yakni Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya siang malam memohonkan ampunan bagi orang yang berpuasa. Satu lagi kemudian orang berpuasa ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab neraka. Bahkan semua pintu neraka ditutup manakala semua pintu syurga dibuka seluas-luasnya dan dihembuskan angin dari bawah Arasy yang berjulukan Angin Syirah yang amat lembut ke dalam syurga. Pada hari umatmu mulai berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekalian Malaikat dengan garangnya menangkapku dan tentaraku, jin, syaitan dan ifrit kemudian dipasung kaki dan tangan dengan besi panas dan dirantai serta dimasukkan ke bawah bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab yang lain telah menunggu kami. Setelah habis umatmu berpuasa, barulah saya dilepaskan dengan perintah semoga tidak mengganggu umatmu. Umatmu sendiri telah merasa ketenangan berpuasa sebagaimana mereka bekerja dan bersahur seorang diri di tengah malam tanpa rasa takut dibandingkan bulan biasanya”.
Pertanyaan Nabi (9) :
“Hai Iblis! Bagaimana seluruh sahabatku menurutmu?”
Jawab Iblis : “Seluruh sahabatmu termasuk musuh besarku. Tiada upayaku melawannya dan tiada satupun kebijaksanaan kancil yang sanggup masuk kepada mereka. Karena engkau sendiri telah berkata : “Seluruh sahabatku yaitu mirip bintang di langit, kalau kau mengikuti mereka, maka kau akan menerima petunjuk”.
Sayyidina Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersamamu, saya tidak sanggup mendekatinya, apalagi setelah berdampingan denganmu. Dia begitu percaya atas kebenaranmu hingga dia menjadi wazirul a’zam. Bahkan engkau sendiri telah menyampaikan kalau ditimbang seluruh isi dunia ini dengan amal kebajikan Abu Bakar, maka akan lebih berat amal kebajikan Abu Bakar. Lagipula dia telah menjadi mertuamu lantaran engkau menikah dengan anaknya, Sayyidatina Aisyah yang juga banyak menghafal Hadits-haditsmu.
Adapun Sayyidina Umar bin Khatab, saya tidak berani memandang wajahnya lantaran dia sangat keras menjalankan aturan syariat Islam dengan seksama. Jika saya pandang wajahnya, maka gemetarlah seluruh tulang sendiku lantaran sangat takut. Hal ini lantaran imannya sangat berpengaruh apalagi engkau telah menyampaikan : “Jikalau ada Nabi sehabis aku, maka Umar boleh menggantikan aku”, lantaran dia yaitu orang harapanmu serta cendekia membedakan antara kafir dan Islam hingga digelar ‘Al-Faruq’.
Sayyidina Usman bin Affan, saya tidak sanggup bertemu lantaran lidahnya senantiasa membaca Al-Qur’an. Dia penghulu orang sabar, penghulu orang mati syahid dan menjadi menantumu sebanyak 2 (dua) kali. Karena taatnya, banyak Malaikat tiba menghampiri dan memberi hormat kepadanya lantaran Malaikat itu sangat aib kepadanya hingga engkau menyampaikan : “Barangsiapa menulis Bismillaahirrahmaanirrahiim pada kitab atau kertas-kertas dengan tinta merah, pasti menerima pahala mirip pahala Usman mati syahid”.
Sayyidina Ali bin Abi Thalibpun saya sangat takut lantaran hebatnya dan gagahnya dia di medan perang, tetapi sangat sopan santun, alim orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah kedua mata mereka lantaran dia sangat berpengaruh beribadah dan ia yaitu golongan orang pertama yang memeluk agama Islam serta tidak pernak menundukkan kepalanya kepada berhala. Bergelar ‘Ali Karamullahu Wajhahu” dimuliakan Allah akan wajahnya dan juga ‘Harimau Allah’ dan engkau sendiri berkata : “Akulah negeri segala ilmu dan Ali itu pintunya”. Lagipula dia menjadi menantumu, saya semakin ngeri kepadanya”.
Pertanyaan Nabi (10) :
“Bagaimana tipu dayamu kepada umatku?”
Jawab Iblis : “Umatmu itu ada 3 (tiga) macam. Yang pertama, mirip hujan dari langit yang menghidupkan segala flora yaitu ulama yang memberi pesan yang tersirat kepada insan supaya mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya mirip kata Jibril as : “Ulama itu yaitu pelita dunia dan pelita akhirat”. Yang kedua, umat tuan mirip tanah yaitu orang yang sabar, syukur dan ridha dengan karunia Allah. Berbuat amal saleh, tawakal dan kebajikan. Yang ketiga, umatmu mirip Fir’aun, terlampau tamak dengan harta dunia dan dihilangkan amal akhirat, maka akupun bersuka cita kemudian masuk ke dalam badannya, saya putarkan hatinya ke lautan durhaka dan saya ajak kemana saja mengikuti kemauanku. Kaprikornus dia selalu bimbang kepada dunia dan tidak mau menuntut ilmu, tidak pernah berinfak saleh, tidak mau mengeluarkan zakat dan malas beribadah.
Lalu saya goda semoga insan minta kekayaan lebih dulu dan apabila diizinkan Allah dia menjadi kaya, maka saya rayu supaya lupa beramal, tidak membayar zakat mirip Qarun yang karam dengan istana mahligainya. Bila umatmu terkena penyakit tidak sabar dan tamak, dia selalu bimbang akan hartanya dan berangan-angan hendak merebut kemewahan dunia, benci dan menghina kepada yang miskin, membelanjakan hartanya untuk kemaksiatan”.
Pertanyaan Nabi (11) :
“Siapa yang serupa denganmu?”
Jawab Iblis : “Orang yang meringankan syariatmu dan membenci orang yang mencar ilmu agama Islam”.
Pertanyaan Nabi (12) :
“Siapa yang membuat mukamu bercahaya?”
Jawab Iblis : “Orang yang berdosa, bersumpah bohong, saksi palsu dan suka ingkar janji”.
Pertanyaan Nabi (13) :
“Apa yang kau rahasiakan dari umatku?”
Jawab Iblis : “Jika seorang Muslim buang air besar dan tidak membaca do’a terlebih dahulu, maka saya gosok-gosokkan najisnya sendiri ke badannya tanpa dia sadari”.
Pertanyaan Nabi (14) :
“Jika umatku bersatu dengan isterinya, apa yang kau lakukan?”
Jawab Iblis : “Jika umatmu hendak bersetubuh dengan isterinya dan membaca do’a pelindung syaitan, maka saya lari dari mereka. Jika tidak, saya akan bersetubuh dahulu dengan isterinya dan bercampurlah benihku dengan benih isterinya. Jika menjadi anak, maka anak itu akan gemar berbuat maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua lantaran kealpaan ibu bapaknya sendiri. Begitu juga kalau mereka makan tanpa membaca Bismillah, saya santap makanannya lebih dulu daripadanya. Walaupun mereka makan, tidaklah mereka merasa kenyang”.
Pertanyaan Nabi (15) :
“Apa yang sanggup menolak tipu dayamu?”
Jawab Iblis : “Jika berbuat dosa, maka cepat-cepatlah bertaubat kepada Allah, menangis menyesal akan perbuatannya. Apabila marah, segeralah mengambil air wudhu’, maka padamlah marahnya”.
Pertanyaan Nabi (16) :
“Siapakah orang yang paling engkau sukai?”
Jawab Iblis : “Lelaki dan wanita yang tidak mencukur atau mencabut bulu ketiak atau bulu ari-ari (bulu kemaluan) selama 40 hari. Di situlah saya mengecilkan diri, bersarang, bergantung, berbuai mirip pijat pada bulu itu”.
Pertanyaan Nabi (17) :
“Hai Iblis! Siapakah saudaramu?”
Jawab Iblis : “Orang yang tidur meniarap / telungkup, orang yang matanya terbuka di waktu Subuh tetapi menyambung tidur lagi. Lalu saya lenakan dia hingga terbit fajar. Demikian juga pada waktu Dzuhur, Asar, Maghrib dan Isya’, saya beratkan hatinya untuk sholat”.
Pertanyaan Nabi (18) :
“Apa yang sanggup membinasakan dirimu?”
Jawab Iblis : “Orang yang banyak menyebut nama Allah, bersedekah dengan tidak diketahui orang, banyak bertaubat, banyak tadarus Al-Qur’an dan sholat tengah malam”.
Pertanyaan Nabi (19) :
“Hai Iblis! ?” Apa yang sanggup memecahkan matamu?”
Jawab Iblis : “Orang yang duduk di dalam masjid dan beri’tikaf di dalamnya”.
Pertanyaan Nabi (20) :
“Apa lagi yang sanggup memecahkan matamu?”
Jawab Iblis : “Orang yang taat kepada kedua ibu bapaknya, mendengar kata mereka, membantu makan, pakaian mereka selama mereka hidup, lantaran engkau telah bersabda : Syurga itu di bawah tapak kaki ibu”.

0 Response to "Nih Ayat Ihwal Jin Dan Setan"
Posting Komentar