Nih Dongeng Teungku Di Pucok Krueng
RIWAYAT SOSOK TEUNGKU YANG HILANG
Meski sosokTeungku di Pucok Krueng tidak di kenal secara luas, menyerupai Syech Abdurrauf As-Singkili (Teungku Syiah Kuala) dan Syech Syamsuddin As-Sumatrani, namun bagi masyarakat Meureudu, Pidie Jaya, keberadaan ia telah menjadi dongeng turun temurun. Beliau dianggap sebagai seorang ulama keuramat (keramat/karamah), bahkan ada yang menyampaikan bahwa ia sanggup berjalan diatas air. Namun sayang, diakhir hayatnya, tidak ada seorang yang mengetahui secara niscaya di mana makamnya. Beliau menghilang begitu saja sehabis membawa seorang anak kecil bersamanya.
![]() |
| Foto:Mesjid Tgk di pucok krueng |
"Nama Teungku"
"Nama Teungku"
Keghaiban yang menyelimuti ulama besar ini berlanjut, sampai-sampai nama orisinil ia juga tidak diketahui secara pasti. Ada yang menyampaikan bahwa namanya yaitu Abdus Shamad, tetapi ada pula yang menyampaikan nama orisinil ia yaitu Muslim. Bahkan, pedoman Islam yang bagaimana yang ia ajarkan, siapa saja murid-muridnya dan apa saja kitab-kitab yang pernah ia ajar/tuliskan tidak diketahui secara terperinci oleh masyarakat sekitar.
"Mendirikan Dua Masjid"
Menurut dongeng masyarakat di Meureudu, ada dua masjid yang berhasil ia dirikan semasa hidupnya. Salah satu masjid, yakni Masjid Kuta Batee, di Gampong Manyang, ada yang menyampaikan masih dalam tahap pembangunan dikala sultan Iskandar Muda dengan putroe meurah (sebutan kemulian orang Aceh kepada gajah) singgah di Meureudu.
Putroe meurah dikala itu tanpa perintah sultan, tiba-tiba Du (duduk) beristirahat di sana. Malah nama kecamatan Mereudu sendiri di yakini terinspirasi alasannya yaitu gajah sultan duduk di sana (Meurah Du). Sedangkan masjid satu lagi yaitu Tgk Di Pucok Krueng di Gampong Mesjid, Simpang Beuracan, tidak lagi diketahui kapan persisnya dibangun oleh Teungku. Namun ada versi lain yang menyampaikan bahwa ia mendirikan 4 buah masjid selain dua yang tersebut di atas, yakni masjid Madinah di desa Dayah Krueng, Meuredu dan satu lagi di Lampoh Saka, Kecamatan Pekan Baro, Kabupaten Pidie.
"Keunikan pada Masjid"
Pertama, Masjid Kuta Batee. Masjid ini kira-kira berjarak 300 meter dari jalan Banda Aceh -Medan, jalan menuju Blang Awe, atau terusan sebelum jembatan simpang empat ke arah kanan apabila posisi kita dari Banda Aceh. Pada Masjid ini terdapat satu bambu penyangga yang berada pas di tengah-tengah Masjid. Dan di yakini bambu tersebut dipancangkan pertama sekali oleh SangTeungku.
Uniknya, bambu itu hingga kini masih dalam keadaan utuh meskipun telah berusia ratusan tahun.
Kedua, Masjid Tgk Di Pucok Krueng. Masjid yang terletak di KM 156 sisi sebelah kiri jalan Banda Aceh – Medan tersebut berarsitek kuno dan lebih dari 80 % bahannya bersumber dari materi kayu. Masjid tersebut sudah jarang dipakai untuk menunaikan shalat berjamaah, alasannya yaitu di sebelahnya kini telah berdiri masjid gres tetapi masih memiliki koneksi eksklusif dari arah dalam masjid. Paling-paling jikalau masjid gres tidak muat atau ada orang tertentu yang punya niat khusus, maka masjid Teungku sering digunakan.
Selain ber-arsitektur klasik, yang unik lainnya pada masjid ini yaitu keberadaan sebuah Guci besar di sebelah kanan pintu masuk masjid. Guci itu dipercayai sebagai guci bertuah. Biasanya pada setiap hari kamis, ada masyarakat yang melalukan khanduri peuelueh hajat (keduri hajatan). Diantara mereka ada yang memotong kambing atau ada juga yang hanya cukup dengan sajian bulukat tumpou dan bulukat u kuneng (nasi ketan khas Aceh).
Ritual khanduri umumnya ditujukan untuk keselamatan bawah umur dan memberi keberkahan. Di Akhir ritual, bawah umur tersebut biasanya dimandikan dengan air yang di ambil dalam guci itu. Dan bagi yang ingin keberkahan maka disarankan untuk meminumnya saja. Namun khusus bagi wanita dilarang sembarangan mengambil eksklusif air tersebut alasannya yaitu ada pantangan bagi mereka. Selain tidak dibenarkan untuk mengambil air sendiri, wanita juga di larang untuk menjenguk ke dalam tempat dudukan guci. Pantangan itu ditulis dan digantung pada dinding kain putih yang sengaja di buat melingkar untuk menutupi guci dari penglihatan umum. Agar mereka sanggup meminumnya, maka jasa lelaki atau bilal/imam masjid yang senantiasa ikut dalam ritual hajatan sangat diperlukan. Apabila pantangan di langgar, maka diyakini akan terjadi sesuatu pada mereka baik eksklusif mau pun tidak langsung. Perempuan itu contohnya akan melihat ular, bukan lagi guci. Atau pada malam hari akan bermimpi jelek atau hal-hal yang asing lain akan terjadi padanya.
"KubuTeungku"
Banyak masyarakat dalam daerah Meureudu terutama di kemukiman Beuracan percaya bahwaTeungku Di Pucok Krueng dimakamkan di puncak gunung Beuracan, sehari perjalanan dari gampong Mulieng, gampong terakhir yang terletak bersisian dengan lereng gunung bukit barisan. Meski demikian, banyak juga yang menyangsikan bahwa kubu (makam) di puncak gunung itu sebagai kubu Teungku. Mereka bahkan meyakini kubu tersebut sebagai kubu anuek miet (anak kecil) yang pernah di bawaTeungku dikala ia pulang dari shalat jum’at di Masjid Teungku Di Pucok Krueng. Kegaiban ini hingga kini masih belum terungkap. Tetapi masyarakat di sana tetap beranggapan bahwa kubu di puncak gunung Beuracan itu sebagai kubu Teungku. Bahkan kini setiap empat tahun sekali terutama masyarakat dalam kemukiman Beuracan selalu mengadakan ritual khanduri potong kerbau di erat kubu tersebut. Tujuannya yaitu di samping sebagai rasa syukur atas pedoman Islam yang dibawakan beliau, mereka juga berharap akan selalu tercurahkan rahmat dan limpahan rezeki dari Allah Swt khususnya hasil sawah-ladang makin berkah.
Teungku Di Pucok Krueng, walaupun nama bekerjsama tidak dikenal tetapi pikirannya masih sanggup dirasakan keuntungannya oleh masyarakat. Nama Teungku Di Pucok Krueng pun berhasil menempel di dalam hati sanubari umat. Malah kini nama itu terukir di gerbang masjid yang ia dirikan sendiri di simpang Beuracan, kecamatan Meuredu, kabupaten Pidie Jaya ini. Inilah mungkin keikhlasan seorang aulia Allah yang telah menghilang tersebut. Baginya tidak penting diketahui siapa Ia nya,tetapi pedoman Islam yang ia tanamkan menjadi sangat berharga bagi umat Islam dan penerusnya di masa-masa yang akan datang. Karenanya meskipun orang tidak bertemu eksklusif dengannya, tidak mengetahui niscaya di mana kubunya, tetapi hati dan doa umat selalu bersamanya..
اللهم اغفرله وارحمه...

0 Response to "Nih Dongeng Teungku Di Pucok Krueng"
Posting Komentar