Nih Menghidupkan Hati
Menghidupkan Hati - Saudaraku yang baik,sekarang ini kita coba memohon dukungan Allah supaya kita lebih mengetahui siapa Allah, bagaimanakah tips mendekat pada Allah serta tahu apa yang bakal menghijab dari Allah.
“Bagaimana akan terperinci hati seseorang yang gambar dunia ini terlukis dalam lensa cermin hatinya, atau bagaimanakah bakal pergi menuju pada Allah walau bersama-sama ia masih tetap terikat serta terbelenggu oleh syahwat udara nafsunya, atau bagaimanakah akan masuk ke hadirat Allah walau bersama-sama ia belum higienis suci dari kelalaiannya atau bagiannya yang disini diumpamakan dengan janabatnya mengharap bakal tahu belakang layar yang halus walau bersama-sama ia belum bertobat dari kesalahan-kekeliruannya”
Saudaraku yang baik, bagaimanakah mungkin saja seorang hatinya bakal terperinci benderang bila di hatinya ini senantiasa duniawi saja yang terlukis, bagaimanakah mungkin saja seorang akan mendekat bergerak pada Allah bila dia masih tetap diikat serta dibelenggu oleh syahwat nafsunya, serta bagaimanakah sanggup buka pintu gerbang kedekatan dengan Allah bila dia masih tetap melumuri dianya dengan malu dosa serta belum mensucikan dianya.
Lebih kurang kita ibaratkan suatu wadah. Bagaimanakah sanggup di isi masakan yang nikmat apabila wadah ini penuh dengan kotoran, penuh dengan belatung. Pasti senikmat apa pun masakan bukan bakal pernah di nikmati, karena bukan sanggup bercampur kotoran serta kesucian.
Satu waktu Nabi Muhammad saw pernah jalan lewat pasar yang diikuti teman bersahabat serta beberapa orang lain. Kebetulan dia melalui bangkai seekor anak kambing yang putus telinganya. Ditunjukkannya kambing itu sembari bersabda : " Siapa di antara kalian yang ingin terima kambing ini dengan harga satu dirham? " Beberapa orang menjawab : " Kami bukan mau memilikinya ". Nabi bersabda : " Apakah kalian ingin memilikinya tanpa ada bayaran? " Salah seseorang menjawab : " Untuk Allah, seumpamanya dia hidup juga kami bukan menyenanginya, karena telinganya putus, terlebih telah jadi bangkai begini, buat apa? ".
Nabi saw. bersabda : " Untuk Allah, bersama-sama dunia ini berdasarkan pandangan Allah, lebih hina dari pandanganmu pada bangkai anak kambing ini ". (H. R. Muslim yang bersumber dari Jabir)
Dunia yang mana ; harta? kedudukan? jabatan?, nyatanya Rasulullah berharta, Rasulullah memegang kedudukan serta popular, Rasulullah memegang kekuasaan. Yang dimaksud dunia yaitu seluruhnya yang dijelaskan tadi yang membikin lupa pada Allah, misal ; mencari harta serta membikin lupa pada Allah tersebut dunia ; membabi buta mencari nafkah sedang shalat diabaikan, kejujuran diabaikan. Tersebut penggemar dunia.
Sedang penggemar Allah sama sibuknya dengan gigih mencari harta namun senantiasa Allah yang dipikirkan, karena meyakini Allah yang membagikan rezeki ; dia berdagang namun dia meyakini Allah yang menggerakan konsumen, dia bukan ingin kurangi timbangan 1 mg juga, serta dia bukan ingin ada ketidak-jujuran yang dia kehendaki cuma untuk mempermudah jual beli karena jual beli yang praktis diberkahi oleh Allah.
Dia bukan bakal tamak dengan laba karena dia paham untungkan orang lain yaitu disenangi oleh Allah, dia usaha, dia repot dengan harta namun kesibukannya membikin dia makin patuh pada Allah, yang mirip itu bukanlah bukan dunia yang mengejekkan.
Pelaku bisnis atau pedagang yang jujur termasuk juga orang yang berkedudukan di segi Allah, serta nantinya bila telah meninggal dunia sanggup setara kekasih-kekasih Allah, kenapa? karena hiruk pikuk dunianya malah membikin dia bersahabat dengan Allah, ini butuh kita mengerti.
Lantas kekuasaan ; ada orang yang berkuasa kemudian jadi dzalim serta repot menjaga kekuasaannya, selama seharian yang ada pada pikirannya cuma bagaimanakah berkuasa, itu yaitu duniawi. Namun untuk orang yang bukan tamak dengan kekuasaan malah yang dia pikirkan yaitu bagaimanakah dengan kekuasaannya kebenaran sanggup jadi punya ummat, bagaimanakah dengan kekuasaannnya keadilan bisa ditegakkan serta mempermudah orang lain untuk bersahabat dengan Allah, nah kekuasaan yang mirip ini bukan disimpulkan juga sebagai duniawi.
Berikutnya bagaimanakah orang sanggup melesat jalan ke arah Allah bila dianya masih tetap terbelenggu, tidakkah bila kita terbelenggu susah untuk mengambil langkah? tidakkah kita bila diikat susah untuk mendekat? berikut Allah menciptakan nafsu untuk kita bukanlah untuk membelenggu kita untuk mendekat pada Allah namun beberapa orang yang diperbudak nafsu bersama-sama bakal terikat.
Kita ambillah misal dengan nafsu perut ; seorang yang nafsu perutnya sudah membelenggu berikut yang ada pada pikirannya cuma bagaimanakah untuk mencari masakan yang yummy yang bisa memuaskan perutnya. Dia nrimo untuk pergi jauh serta membayar dengan harga yang mahal untuk memuaskan perutnya.
Namun untuk orang yang lapar serta laparnya digunakan untuk mendekat pada Allah, berikut dia bakal taklukan nafsu perutnya itu dengan shaum. Bukan bisa diperbudak makanan, dia cuma ingin makan bila telah lapar, dia berhenti makan ketika saat sebelum kenyang, tiap-tiap dia makan yang dia saksikan bukanlah makanannnya namun siapa yang berikan makannya, meskipun cuma dengan garam dia paham seluruhnya ini karunia Allah. Makan penuh dengan rasa sukur karena lidahnya masih tetap berasa, makan dengan rasa sukur karena masih tetap bersua dengan nasi serta garam, makan dengan rasa sukur karena kita masih tetap sanggup nikmati masakan di banding saudara kita yang lapar, berikut dia makan namun bukanlah nafsu yang jalan namun makrifat dia temukan butir-butir nasi. Allahu Akbar!
Walau bersama-sama dianya jauh dari ladang namun dia dimudahkan ; ada sisi yang mengetam, menumbuk, ada sisi yang memasak, serta ketika ini dia dipilih pada juga sebagai orang yang nikmati masakan yang disajikan oleh Allah nun jauh dari sana. Garam dari maritim ada yang mengambil, mengeringkan hingga di piring, Allahu Akbar! .
Berikut, lapar yang mirip itu Insya Allah bakal jadi pendekat pada Allah. Inilah kesenangan serta orang yang menggerakkan makan penuh dengan ingatan pada Allah selama makan Insya Allah jadi beribadah, sembari makan ingat pada saudaranya yang lapar serta semakin tambah rasa syukurnya. Jauh tidak sama dengan penggemar nafsu hari untuk hari diperbudak dengan masakan saja, belum lagi yang diperbudak oleh amarah sehari-hari cuma dipikirkan bagaimanakah memuntahkan ketidaksukaannya
Jadi bagaimanakah kita bakal mendekat pada Allah bila kita belum bersihkan diri kita, Allah Maha Suci sedang kita sangat nista " Sebenarnya Allah menyukai beberapa orang yang bertaubat serta menyukai beberapa orang yang bersihkan diri. " (QS. 2 : 222).
Selanjutnya apa yang bisa kita jalankan buat menimbulkan hati kita menjadi daerah kasih sayang Allah? apabila pada diri ini kita kumpulkan kebencian, maka sukar orang-orang yang enggak mempunyai waktu buat membersihkan hati buat meraih kedekatan dengan Allah, “Qad aflaha man zakkaahaa, Wa qad khaaba man dassaahaa” (Q. S : Asy Syams : 9-10) Mempunyai arti : Sungguh beruntung orang-orang yg mensucikan dianya sendiri, Dan sungguh jadi rugi orang yang mengotorinya.
Maka kegigihan kita buat sekuat tenaga bertobat, kala berbuat dosa hapus kembali dengan tobat ; 1 noktah tinta bersihkan, jangan biarkan tinta-tinta ini berkumpul menebal dikarenakan akan cukup sukar membersihkannya, perbanyaklah istighfar dikarenakan apabila cermin udah bersinar Insya Allah kita sanggup tahu siapa diri kita dan orang lain lantas bisa mengfungsikan cermin ini.
Maka kegigihan kita buat sekuat tenaga bertobat, kala berbuat dosa hapus kembali dengan tobat ; 1 noktah tinta bersihkan, jangan biarkan tinta-tinta ini berkumpul menebal dikarenakan akan cukup sukar membersihkannya, perbanyaklah istighfar dikarenakan apabila cermin udah bersinar Insya Allah kita sanggup tahu siapa diri kita dan orang lain lantas bisa mengfungsikan cermin ini.
:
Kita rindu sekali semoga dibimbing oleh Allah, Allah lah yang Maha Tahu semua ilmu yg bisa menimbulkan kita hingga kepadanya Allah-lah Yg Maha Tahu bagaimana kita bisa mengenalnya. Kemudian kuncinya ialah berusahalah sekuat tenaga untuk menjadi orang yg mendekat dengan cara mengamalkan ilmu dikarenakan siapapun yg mengamalkan ilmu yg didapatinya tidak tidak mungkin Allah sanggup mewariskan kepadanya ilmu yg belum diketahui oleh kita. Wallahu a’lam
(Tausiyah K. H. Abdullah Gymnastiar, disarikan dari kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atho’illah)

0 Response to "Nih Menghidupkan Hati"
Posting Komentar