Nih Fakta Perihal Ruh
Telah shahih dari hadits Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu bahwa Rosululloh Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
«الأرواحُ جنودٌ مجنَّدةٌ . فما تعارف منها ائتَلَف . وما تناكَر منها اختلف» رواه البخاري ومسلم.
"Ruh-ruh bagaikan tentara yang tersusun. Jika saling mengenal maka akan bersatu, dan jikalau saling mengingkari maka akan berpisah". [HR. Bukhari-Muslim]
Hadits ini dijelaskan oleh Nabi terpilih Shollallahu 'Alaihi Wasallam padanya bahwa ruh-ruh para makhluk yang bersatu dan bercerai laksana ruh-ruh yang tersusun apabila saling berhadapan dan saling berjumpa, dan yang demikian menurut apa yang telah ditetapkan padanya dari kebahagian dan kesengsaraan, dan jasad-jasad yang padanya ada ruh-ruh akan saling berjumpa di dunia sehingga akan bersatu dan bercerai sesuai dengan apa yang telah ditetapkan padanya baik saling mengenal atau saling mengingkari, sehingga Anda sanggup lihat jiwa yang tunjangan lagi baik akan cinta kepada yang semisalnya dan akan condong kepadanya, sedangkan yang jahat akan berkawan dengan yang sejenis dan akan condong kepadanya serta akan menjauh dari setiap yang berlawanan dengannya.
Dan dinukilkan di dalam "Al-Fath" (juz 3, Hal: 199) dari Al-Khoththobi bahwa dia berkata:
Boleh jadi bermakna kode atas kesamaan dalam kebaikan dan kejelekan serta perbaikan dan kerusakan, dan gotong royong insan yang baik akan rindu kepada jenisnya sedangkan yang buruk semisal itu pula akan condong kepada yang sejenisnya, para ruh akan saling mengenal sehingga hinggap sesuai dengan watak yang telah diciptakan di atasnya dari kebaikan maupun kejelekan, maka apabila telah cocok akan saling mengenal, dan APABILA BERBEDA MAKA AKAN SALING MENGINGKARI .
وبالله التوفيق، وصلى الله نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
Hanya kepada Allah kita memohon taufiq-Nya, sholawat dan salam berlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad dan keluarganya beserta para sahabatnya.
------
السؤال الأول من الفتوى رقم ( 15129 )
س1: الرجاء شرح الحديث الشريف: الأرواح جنود مجندة إلخ الحديث.
ج 1: ثبت من حديث أبي هريرة رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: الأرواح جنود مجندة، فما تعارف منها ائتلف، وما تناكر منها اختلف رواه البخاري ومسلم .
هذا الحديث بيَّن فيه المصطفى صلى الله عليه وسلم أن الأرواح مخلوقة على الائتلاف، والاختلاف كالجنود المجندة إذا تقابلت وتواجهت، وذلك على ما جعلها عليه من السعادة والشقاوة، والأجساد التي فيها الأرواح تلتقي في الدنيا فتأتلف وتختلف على حسب ما جُعلت عليه من التشاكل والتناكر، فترى البَر الخيِّر يحب مثله ويميل إليه، والفاجر يألف شكله ويميل إليه وينفر كل عن ضده.
ونقل في ( الفتح ) عن الخطابي أنه قال: يحتمل أن يكون إشارة
(الجزء رقم : 3، الصفحة رقم: 199)
على معنى التشاكل في الخير والشر والصلاح والفساد، وأن الخير من الناس يحن إلى شكله والشرير نظير ذلك يميل إلى نظيره، فتعارف الأرواح يقع بحسب الطباع التي جُبلت عليها من خير وشر، فإذا اتفقت تعارفت، وإذا اختلفت تناكرت.
وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
Tentang Saling Jumpa dan Berkunjungnya Penghuni Kubur Satu Sama Lain
1. Muslim bin Ibrahim Al-Warid meriwayatkan dari Ikrimah bin Ammar, dari Hiysam bin Hassan, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Qatadah r.a dari Nabi SAW,:
“Jika kau mengurus seorang ikhwan (yang meninggal), hendaklah membungkusnya dengan baik dan rapi (Karena mereka akan saling berkunjung di kubur mereka)!” 1)
Muhammad bin Yahya al-Hamadaniy meriwayatkan kalimat suplemen tersebut (“karena mereka saling berkunjung…”) dalam kitab shahih-nya. Padanya juga ada riwayat dari Hisyam, dari Muhammad, dari Abu Hurairah r.a.
Sulaiman bin Arqam pun meriwayatkannya dengan suplemen tersebut, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah r.a. Sedangkan yang lainnya meriwayatkannya dari Ibnu Sirin yang merupakan ucapan dia. Dengan demikian, kemungkinan kalimat suplemen tersebut ialah ucapan Muhammad bin Sirin yang disisipkan.
2. Imam ‘Uqailiy men-takhrij-kan dari Sa’id bin Sallam al-‘atthar, Abu Murrah Rasyid bin ‘Atthar telah bercerita kepada kami, saya telah mendengar Qatadah r.a bercerita, saya mendengar Anas bin Malik r.a bertutur: Rasulullah SAW bersabda:
“Bila kau menangani seorang ikhwanmu (yang meninggal), bungkuslah ia dengan kain kafan dengan baik/rapi, alasannya ialah mereka akan dibangkitkan (atau saling berkunjung) dengan kain kafan mereka.” 2)
Imam ‘Uqailiy berkata: Sa’id bin Sallam ialah dha’if tidak dimutaba’ah, sedang Abu Murrah tidak dikenal oleh yang lainnya.
3. Diriwayatkan dari Muhammad bin Mushaffa, Mu’awiyah telah bercerita kepada kami, dari Abu Zubeir dari Jabir r.a, dari Nabi SAW:
“Bungkuslah jenazahmu dengan kain kafan yang baik dan rapi, alasannya ialah mereka akan saling membanggakan diri dan saling berkunjung di kubur mereka!” 3)
4. Imam Ibnu Abid-Duniya berkata: Al-Qasim bin Hisyam telah bercerita kepada kami, Yahya bin Shaleh telah bercerita kepada kami, Muhammad bin Sulaiman telah bercerita kepada kami, Rasyid bin Sa’ad telah bercerita kepada kami bahwa:
“Ada seorang laki-laki yang isterinya meninggal. Suatu malam ia bermimpi melihat sekelompok kaum perempuan tetapi isterinya tidak bersama mereka. Maka ia menanyakannya, ke mana isterinya? Mereka menjawab, ‘Ia aib untuk ke luar berkumpul bersama kami, alasannya ialah kain kafan yang kaupakaikan kepadanya tidak baik dan tidak rapi.’ Maka laki-laki itu mendatangi Rasulullah SAW., yang kemudian menyuruhnya tiba ke seseorang. Lalu ia pun mendatangi seorang laki-laki Anshar yang ‘akan meninggal dunia.” Setelah ia menceritakan impiannya kepadanya, laki-laki Anshar, itu pun menukas, ‘Kalau memang saya sanggup menyampaikannya, maka kirimanmu akan saya sampaikan!’ Tak lama, laki-laki Anshar itu meninggal. Maka ia diberi dua kain kafan cantik yang ditaburi minyak za’rafan. Malamnya sehabis ia dikubur, ia kembali bermimpi melihat sekumpulan perempuan yang salah seorangnya ialah isterinya yang mengenakan baju berwarna kuning!”
5. Abu al-Hasan bin Bara bertutur: Abbas bin Abu Isa telah bercerita kepada kami, tuturnya:
“Ada seorang perempuan sholeh dan tergolong jago taqwa meninggal. Malamnya, putrinya mimpi dia. Kata almarhumah, “Wahai, Putriku, engkau memberiku kain kafan yang cekak sehingga ibu aib berjumpa dengan kawan-kawan di alam kubur. Ibu meninggalkan empat dinar di kawasan anu.. Belikanlah kain kafan kemudian kirimkanlah melalui si Anu yang akan menyusul ibu pada hari anu.’ Setelah insiden itu, Sang putri jatuh sakit dan menceritakan mimpinya kepada orang-orang yang menjenguknya.
‘Aku teringat kepada hadits Sayyidah ‘Aisyah r.a., bahwa para penghuni kubur itu saling berjumpa dan berkunjung. Oleh alasannya ialah itu, kita harus mendatangi dua jago hadits penjual kain itu, yakni Ibnu Naisabur dan Abu Taubah untuk membeli dua kain kafan. Yang satu untuk ibuku, yang satu lagi untuk si Anu yang akan meninggal,’ demikian ujar sang putri.
Ketika perempuan yang disebutkan oleh ibunya akan segera menyusul (meninggal) itu benar-benar meninggal, maka ia diberi dua kain kafan. Pada malam hari, ia kembali mimpi bertemu ibunya yang berkata, ‘Putriku, si Anu telah berjumpa dengan ibu berikut kain kafan itu. Kain kafan itu begitu cantik dan lebar. Terima kasih, supaya Allah membalasmu dengan kebaikan.”
6. Ibnu Abid Duniya juga meriwayatkan melalui jalu Masma’ bin ‘Ashim, seorang laki-laki keluarga ‘Ashim di Hijaz telah bercerita kepadaku, ujarnya:
“Aku mimpi berjumpa ‘Ashim al-Juduriy dua tahun sehabis kematiannya. Kataku, ‘Bukankah engkau sudah meninggal?’; ‘Ya’jawabnya. ‘Di mana engkau?’ tanyaku lagi. Ia menjawab, ‘Aku ada di salah satu taman surga. Setiap malam Jum’at dan paginya, bersama beberapa ikhwan saya berkumpul di kawasan Bakar bin Abdullah al-Muzaniy untuk mendengar gosip kalian (di dunia).’ ‘Yang kumpul jasadmu atau ruh?’ tanyaku penasaran. ‘Tentu saja ruh. Karena jasad telah hancur!’ jawabnya.
Aku bertanya lagi, ‘Apakah kalian tahu bila kami menziarahi kalian?’ Ia menukas, ‘Kami mengetahuinya pada malam Jum’at dan siangnya seharian serta malam Sabtu hingga terbit matahari.’
‘Kalau hari lain?’ tanyaku. ‘Itu berkat kemuliaan hari Jum’at!’ jelasnya. Wallahu’alam!’
7. Imam Ahmad men-takhrij-kan melalui jalur Ibnu Lahi’ah dari Abu al-Aswad, dari Durrah binti Mu’adz, dari Ummi Hani al-Anshariyah, ia bertanya kepada Rasulullah SAW: “Jika kita sudah mati, apakah kita sanggup saling melihat dan berkunjung?” Rasulullah SAW menjelaskan: “Ruh-ruh menjadi burung yang hinggap di pepohonan, sehingga saat hari kiamat, ruh-ruh itu masuk kembali ke badannya.”
8.Ibnu Abid-Duniya men-takhrij-kan dari Yahya bin Abdur-Rahman bin Abi Kabasyah, dari ayahnya, dari kakeknya, ujarnya:
“Ketika Bisyr bin Bara bin Ma’ruur meninggal, isterinya (Umi Bisyar) sangat sedih dan terpukul perasaannya sehingga ia bertanya kepada Rasulullah SAW., ‘Bani Salamah akan terus menerus meninggal satu demi satu. Wahai, Rasulullah, apakah orang yang telah meninggal itu saling mengenal sehingga saya sanggup kirim salam kepada Bisyr?’ Maka dia menjawab, ‘Wahai, Ummi Bisyr, demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, mereka saling mengenal ibarat halnya burung-burung di pepohonan!’
Maka semenjak itu, tidak ada seorang pun dari Bani Salamah meninggal, melainkan Ummi Bisyr tiba untuk kirim salam kepada suaminya.” [Syahida.com/ANW]
====
Catatan Kaki
1) Tirmidzi, No. 995. Ia juga meriwayatkannya dari Abu Qatadah, yang padanya ada riwayat dari Jabir. Tirmidzi berkomentar: Ini ialah hadits Hasan gharib. Nasa’i di kitab Janaaiz, penggalan 36; dan Ibnu Majah, No.1474.
2) Al-Fawaaid al-Majmu’ah, No. 269. Syaukaniy menyebutkan hadits ini tanpa menyebut kata-kata. Wa Yatabaahuuna. Ia berkata: Konon, ia tidak shahih. Juga dalam kitab Alla-aali’; 2/234. Ia malah hadits Hasan shahih alasannya ialah mempunyai syawahid dan jalur yang banyak
===
Sumber” Kitab Peristiwa di Alam Kubur Keadaan Penghuninya Hingga Saat Dibangkitkan, Karya: Al-Hafizh Ibnu Rajab, Penerjemah: H. Nabhani, Penerbit: Kalam Mulia
«الأرواحُ جنودٌ مجنَّدةٌ . فما تعارف منها ائتَلَف . وما تناكَر منها اختلف» رواه البخاري ومسلم.
"Ruh-ruh bagaikan tentara yang tersusun. Jika saling mengenal maka akan bersatu, dan jikalau saling mengingkari maka akan berpisah". [HR. Bukhari-Muslim]
Hadits ini dijelaskan oleh Nabi terpilih Shollallahu 'Alaihi Wasallam padanya bahwa ruh-ruh para makhluk yang bersatu dan bercerai laksana ruh-ruh yang tersusun apabila saling berhadapan dan saling berjumpa, dan yang demikian menurut apa yang telah ditetapkan padanya dari kebahagian dan kesengsaraan, dan jasad-jasad yang padanya ada ruh-ruh akan saling berjumpa di dunia sehingga akan bersatu dan bercerai sesuai dengan apa yang telah ditetapkan padanya baik saling mengenal atau saling mengingkari, sehingga Anda sanggup lihat jiwa yang tunjangan lagi baik akan cinta kepada yang semisalnya dan akan condong kepadanya, sedangkan yang jahat akan berkawan dengan yang sejenis dan akan condong kepadanya serta akan menjauh dari setiap yang berlawanan dengannya.
Dan dinukilkan di dalam "Al-Fath" (juz 3, Hal: 199) dari Al-Khoththobi bahwa dia berkata:
Boleh jadi bermakna kode atas kesamaan dalam kebaikan dan kejelekan serta perbaikan dan kerusakan, dan gotong royong insan yang baik akan rindu kepada jenisnya sedangkan yang buruk semisal itu pula akan condong kepada yang sejenisnya, para ruh akan saling mengenal sehingga hinggap sesuai dengan watak yang telah diciptakan di atasnya dari kebaikan maupun kejelekan, maka apabila telah cocok akan saling mengenal, dan APABILA BERBEDA MAKA AKAN SALING MENGINGKARI .
وبالله التوفيق، وصلى الله نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
Hanya kepada Allah kita memohon taufiq-Nya, sholawat dan salam berlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad dan keluarganya beserta para sahabatnya.
------
السؤال الأول من الفتوى رقم ( 15129 )
س1: الرجاء شرح الحديث الشريف: الأرواح جنود مجندة إلخ الحديث.
ج 1: ثبت من حديث أبي هريرة رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: الأرواح جنود مجندة، فما تعارف منها ائتلف، وما تناكر منها اختلف رواه البخاري ومسلم .
هذا الحديث بيَّن فيه المصطفى صلى الله عليه وسلم أن الأرواح مخلوقة على الائتلاف، والاختلاف كالجنود المجندة إذا تقابلت وتواجهت، وذلك على ما جعلها عليه من السعادة والشقاوة، والأجساد التي فيها الأرواح تلتقي في الدنيا فتأتلف وتختلف على حسب ما جُعلت عليه من التشاكل والتناكر، فترى البَر الخيِّر يحب مثله ويميل إليه، والفاجر يألف شكله ويميل إليه وينفر كل عن ضده.
ونقل في ( الفتح ) عن الخطابي أنه قال: يحتمل أن يكون إشارة
(الجزء رقم : 3، الصفحة رقم: 199)
على معنى التشاكل في الخير والشر والصلاح والفساد، وأن الخير من الناس يحن إلى شكله والشرير نظير ذلك يميل إلى نظيره، فتعارف الأرواح يقع بحسب الطباع التي جُبلت عليها من خير وشر، فإذا اتفقت تعارفت، وإذا اختلفت تناكرت.
وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
Tentang Saling Jumpa dan Berkunjungnya Penghuni Kubur Satu Sama Lain
1. Muslim bin Ibrahim Al-Warid meriwayatkan dari Ikrimah bin Ammar, dari Hiysam bin Hassan, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Qatadah r.a dari Nabi SAW,:
“Jika kau mengurus seorang ikhwan (yang meninggal), hendaklah membungkusnya dengan baik dan rapi (Karena mereka akan saling berkunjung di kubur mereka)!” 1)
Muhammad bin Yahya al-Hamadaniy meriwayatkan kalimat suplemen tersebut (“karena mereka saling berkunjung…”) dalam kitab shahih-nya. Padanya juga ada riwayat dari Hisyam, dari Muhammad, dari Abu Hurairah r.a.
Sulaiman bin Arqam pun meriwayatkannya dengan suplemen tersebut, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah r.a. Sedangkan yang lainnya meriwayatkannya dari Ibnu Sirin yang merupakan ucapan dia. Dengan demikian, kemungkinan kalimat suplemen tersebut ialah ucapan Muhammad bin Sirin yang disisipkan.
2. Imam ‘Uqailiy men-takhrij-kan dari Sa’id bin Sallam al-‘atthar, Abu Murrah Rasyid bin ‘Atthar telah bercerita kepada kami, saya telah mendengar Qatadah r.a bercerita, saya mendengar Anas bin Malik r.a bertutur: Rasulullah SAW bersabda:
“Bila kau menangani seorang ikhwanmu (yang meninggal), bungkuslah ia dengan kain kafan dengan baik/rapi, alasannya ialah mereka akan dibangkitkan (atau saling berkunjung) dengan kain kafan mereka.” 2)
Imam ‘Uqailiy berkata: Sa’id bin Sallam ialah dha’if tidak dimutaba’ah, sedang Abu Murrah tidak dikenal oleh yang lainnya.
3. Diriwayatkan dari Muhammad bin Mushaffa, Mu’awiyah telah bercerita kepada kami, dari Abu Zubeir dari Jabir r.a, dari Nabi SAW:
“Bungkuslah jenazahmu dengan kain kafan yang baik dan rapi, alasannya ialah mereka akan saling membanggakan diri dan saling berkunjung di kubur mereka!” 3)
4. Imam Ibnu Abid-Duniya berkata: Al-Qasim bin Hisyam telah bercerita kepada kami, Yahya bin Shaleh telah bercerita kepada kami, Muhammad bin Sulaiman telah bercerita kepada kami, Rasyid bin Sa’ad telah bercerita kepada kami bahwa:
“Ada seorang laki-laki yang isterinya meninggal. Suatu malam ia bermimpi melihat sekelompok kaum perempuan tetapi isterinya tidak bersama mereka. Maka ia menanyakannya, ke mana isterinya? Mereka menjawab, ‘Ia aib untuk ke luar berkumpul bersama kami, alasannya ialah kain kafan yang kaupakaikan kepadanya tidak baik dan tidak rapi.’ Maka laki-laki itu mendatangi Rasulullah SAW., yang kemudian menyuruhnya tiba ke seseorang. Lalu ia pun mendatangi seorang laki-laki Anshar yang ‘akan meninggal dunia.” Setelah ia menceritakan impiannya kepadanya, laki-laki Anshar, itu pun menukas, ‘Kalau memang saya sanggup menyampaikannya, maka kirimanmu akan saya sampaikan!’ Tak lama, laki-laki Anshar itu meninggal. Maka ia diberi dua kain kafan cantik yang ditaburi minyak za’rafan. Malamnya sehabis ia dikubur, ia kembali bermimpi melihat sekumpulan perempuan yang salah seorangnya ialah isterinya yang mengenakan baju berwarna kuning!”
5. Abu al-Hasan bin Bara bertutur: Abbas bin Abu Isa telah bercerita kepada kami, tuturnya:
“Ada seorang perempuan sholeh dan tergolong jago taqwa meninggal. Malamnya, putrinya mimpi dia. Kata almarhumah, “Wahai, Putriku, engkau memberiku kain kafan yang cekak sehingga ibu aib berjumpa dengan kawan-kawan di alam kubur. Ibu meninggalkan empat dinar di kawasan anu.. Belikanlah kain kafan kemudian kirimkanlah melalui si Anu yang akan menyusul ibu pada hari anu.’ Setelah insiden itu, Sang putri jatuh sakit dan menceritakan mimpinya kepada orang-orang yang menjenguknya.
‘Aku teringat kepada hadits Sayyidah ‘Aisyah r.a., bahwa para penghuni kubur itu saling berjumpa dan berkunjung. Oleh alasannya ialah itu, kita harus mendatangi dua jago hadits penjual kain itu, yakni Ibnu Naisabur dan Abu Taubah untuk membeli dua kain kafan. Yang satu untuk ibuku, yang satu lagi untuk si Anu yang akan meninggal,’ demikian ujar sang putri.
Ketika perempuan yang disebutkan oleh ibunya akan segera menyusul (meninggal) itu benar-benar meninggal, maka ia diberi dua kain kafan. Pada malam hari, ia kembali mimpi bertemu ibunya yang berkata, ‘Putriku, si Anu telah berjumpa dengan ibu berikut kain kafan itu. Kain kafan itu begitu cantik dan lebar. Terima kasih, supaya Allah membalasmu dengan kebaikan.”
6. Ibnu Abid Duniya juga meriwayatkan melalui jalu Masma’ bin ‘Ashim, seorang laki-laki keluarga ‘Ashim di Hijaz telah bercerita kepadaku, ujarnya:
“Aku mimpi berjumpa ‘Ashim al-Juduriy dua tahun sehabis kematiannya. Kataku, ‘Bukankah engkau sudah meninggal?’; ‘Ya’jawabnya. ‘Di mana engkau?’ tanyaku lagi. Ia menjawab, ‘Aku ada di salah satu taman surga. Setiap malam Jum’at dan paginya, bersama beberapa ikhwan saya berkumpul di kawasan Bakar bin Abdullah al-Muzaniy untuk mendengar gosip kalian (di dunia).’ ‘Yang kumpul jasadmu atau ruh?’ tanyaku penasaran. ‘Tentu saja ruh. Karena jasad telah hancur!’ jawabnya.
Aku bertanya lagi, ‘Apakah kalian tahu bila kami menziarahi kalian?’ Ia menukas, ‘Kami mengetahuinya pada malam Jum’at dan siangnya seharian serta malam Sabtu hingga terbit matahari.’
‘Kalau hari lain?’ tanyaku. ‘Itu berkat kemuliaan hari Jum’at!’ jelasnya. Wallahu’alam!’
7. Imam Ahmad men-takhrij-kan melalui jalur Ibnu Lahi’ah dari Abu al-Aswad, dari Durrah binti Mu’adz, dari Ummi Hani al-Anshariyah, ia bertanya kepada Rasulullah SAW: “Jika kita sudah mati, apakah kita sanggup saling melihat dan berkunjung?” Rasulullah SAW menjelaskan: “Ruh-ruh menjadi burung yang hinggap di pepohonan, sehingga saat hari kiamat, ruh-ruh itu masuk kembali ke badannya.”
8.Ibnu Abid-Duniya men-takhrij-kan dari Yahya bin Abdur-Rahman bin Abi Kabasyah, dari ayahnya, dari kakeknya, ujarnya:
“Ketika Bisyr bin Bara bin Ma’ruur meninggal, isterinya (Umi Bisyar) sangat sedih dan terpukul perasaannya sehingga ia bertanya kepada Rasulullah SAW., ‘Bani Salamah akan terus menerus meninggal satu demi satu. Wahai, Rasulullah, apakah orang yang telah meninggal itu saling mengenal sehingga saya sanggup kirim salam kepada Bisyr?’ Maka dia menjawab, ‘Wahai, Ummi Bisyr, demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, mereka saling mengenal ibarat halnya burung-burung di pepohonan!’
Maka semenjak itu, tidak ada seorang pun dari Bani Salamah meninggal, melainkan Ummi Bisyr tiba untuk kirim salam kepada suaminya.” [Syahida.com/ANW]
====
Catatan Kaki
1) Tirmidzi, No. 995. Ia juga meriwayatkannya dari Abu Qatadah, yang padanya ada riwayat dari Jabir. Tirmidzi berkomentar: Ini ialah hadits Hasan gharib. Nasa’i di kitab Janaaiz, penggalan 36; dan Ibnu Majah, No.1474.
2) Al-Fawaaid al-Majmu’ah, No. 269. Syaukaniy menyebutkan hadits ini tanpa menyebut kata-kata. Wa Yatabaahuuna. Ia berkata: Konon, ia tidak shahih. Juga dalam kitab Alla-aali’; 2/234. Ia malah hadits Hasan shahih alasannya ialah mempunyai syawahid dan jalur yang banyak
===
Sumber” Kitab Peristiwa di Alam Kubur Keadaan Penghuninya Hingga Saat Dibangkitkan, Karya: Al-Hafizh Ibnu Rajab, Penerjemah: H. Nabhani, Penerbit: Kalam Mulia

0 Response to "Nih Fakta Perihal Ruh"
Posting Komentar