Nih Sejarah Imam Syafi'i
Imam Syafi'i
As-Syafi’i ialah Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Usman bin Syafi’ bin al-Sa’ib bin Ubaid bin Abd Yazid bin Hasyim bin al-Muthollib bin Abdi Manaf. Ia keturunan Arab, Quraisy, Hasyim, Muthollib. Nasabnya bertemu dengan nasab baginda Rasulullah pada kakeknya, Abdi Manaf.
Imam Syafi’i lahir di Gaza tahun 150 H, tahun yang sama di mana Imam Abu Hanifah meninggal. Gaza termasuk wilayah bumi Palestina. Yaqut meriwayatkan dari as-Syafi’i : “Aku dilahirkan di Yaman, dan lantaran ibuku takut kehilangan masa depanku, dia membawaku ke Mekah pada usia sepuluh tahun atau sekitar itu”. Sebagian kalangan mencoba mengkompromikan kedua riwayat itu dan menyampaikan bahwa Imam Syafi’I lahir di Gaza dan tumbuh di Asqalan -satu negeri yang jaraknya sekitar 9 mil dari Gaza- yang dihuni oleh kabilah Yaman. Imam besar ini tumbuh dalam keluarga Palestina yang miskin. Ayahnya meninggal ketika Imam kita ini masih kecil, maka sang ibu membawanya ke Mekah demi memelihara keluhuran nasabnya.
Ibunda Imam Syafi’i berjulukan Fatimah binti Abdullah al-Azdiyah. Azdiyah sendiri merupakan penisbatan pada kabilah Azd yang disebut oleh Rasulullah dengan sabdanya : “al-Azd ialah singa Allah di bumi, orang-orang ingin menundukkan mereka, tetapi Allah enggan dan ingin mengangkat derajat mereka. Satu ketika akan tiba suatu masa di mana orang akan berkata, seandainya saya dari kabilah Azd, seandainya ibuku dari Azd”.
Masa belajar
Setelah ayah Imam Syafi’i meninggal dan dua tahun kelahirannya, sang ibu membawanya ke Mekah, tanah air nenek moyang. Ia tumbuh besar di sana dalam keadaan yatim. Sejak kecil Syafi’i cepat menghafal syair, pintar bahasa Arab dan sastra sampai-sampai Al Ashma’i berkata,”Saya mentashih syair-syair bani Hudzail dari seorang cowok dari Quraisy yang disebut Muhammad bin Idris,” Imam Syafi’i ialah imam bahasa Arab.
Belajar di Makkah
Di Makkah, Imam Syafi’i berguru fiqh kepada mufti di sana, Muslim bin Khalid Az Zanji sehingga ia mengizinkannya memberi fatwah ketika masih berusia 15 tahun. Demi ia mencicipi manisnya ilmu, maka dengan taufiq Allah dan hidayah-Nya, dia mulai senang mempelajari fiqih setelah menjadi tokoh dalam bahasa Arab dan sya’irnya. Remaja yatim ini mencar ilmu fiqih dari para Ulama’ fiqih yang ada di Makkah, mirip Muslim bin khalid Az-Zanji yang waktu itu berkedudukan sebagai mufti Makkah.
Kemudian dia juga mencar ilmu dari Dawud bin Abdurrahman Al-Atthar, juga mencar ilmu dari pamannya yang berjulukan Muhammad bin Ali bin Syafi’, dan juga menimba ilmu dari Sufyan bin Uyainah.
Guru yang lainnya dalam fiqih ialah Abdurrahman bin Abi Bakr Al-Mulaiki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin Al-Ayyadl dan masih banyak lagi yang lainnya. Dia pun semakin menonjol dalam bidang fiqih hanya dalam beberapa tahun saja duduk di aneka macam halaqah ilmu para Ulama’ fiqih sebagaimana tersebut di atas.
Belajar di Madinah
Kemudian dia pergi ke Madinah dan berguru fiqh kepada Imam Malik bin Anas. Ia mengaji kitab Muwattha’ kepada Imam Malik dan menghafalnya dalam 9 malam. Imam Syafi’i meriwayatkan hadis dari Sufyan bin Uyainah, Fudlail bin Iyadl dan pamannya, Muhammad bin Syafi’ dan lain-lain.
Di majelis dia ini, si anak yatim tersebut menghapal dan memahami dengan cemerlang kitab karya Imam Malik, yaitu Al-Muwattha’ . Kecerdasannya membuat Imam Malik amat mengaguminya. Sementara itu As-Syafi`ie sendiri sangat terkesan dan sangat mengagumi Imam Malik di Al-Madinah dan Imam Sufyan bin Uyainah di Makkah.
Beliau menyatakan kekagumannya setelah menjadi Imam dengan pernyataannya yang populer berbunyi: “Seandainya tidak ada Malik bin Anas dan Sufyan bin Uyainah, pasti akan hilanglah ilmu dari Hijaz.” Juga dia menyatakan lebih lanjut kekagumannya kepada Imam Malik: “Bila tiba Imam Malik di suatu majelis, maka Malik menjadi bintang di majelis itu.” Beliau juga sangat terkesan dengan kitab Al-Muwattha’ Imam Malik sehingga dia menyatakan: “Tidak ada kitab yang lebih bermanfaat setelah Al-Qur’an, lebih dari kitab Al-Muwattha’ .” Beliau juga menyatakan: “Aku tidak membaca Al-Muwattha’ Malik, kecuali mesti bertambah pemahamanku.”
Dari aneka macam pernyataan dia di atas dapatlah diketahui bahwa guru yang paling dia kagumi ialah Imam Malik bin Anas, kemudian Imam Sufyan bin Uyainah. Di samping itu, cowok ini juga duduk menghafal dan memahami ilmu dari para Ulama’ yang ada di Al-Madinah, mirip Ibrahim bin Sa’ad, Isma’il bin Ja’far, Atthaf bin Khalid, Abdul Aziz Ad-Darawardi. Ia banyak pula menghafal ilmu di majelisnya Ibrahim bin Abi Yahya. Tetapi sayang, guru dia yang disebutkan terakhir ini ialah pendusta dalam meriwayatkan hadits, mempunyai pandangan yang sama dengan madzhab Qadariyah yang menolak untuk beriman kepada taqdir dan aneka macam kelemahan fatal lainnya. Sehingga ketika cowok Quraisy ini telah populer dengan gelar sebagai Imam Syafi`ie, khususnya di janjkematian beliau, dia tidak mau lagi menyebut nama Ibrahim bin Abi Yahya ini dalam aneka macam periwayatan ilmu.
Di Yaman
Imam Syafi’i kemudian pergi ke Yaman dan bekerja sebentar di sana. Disebutkanlah sederet Ulama’ Yaman yang didatangi oleh dia ini seperti: Mutharrif bin Mazin, Hisyam bin Yusuf Al-Qadli dan banyak lagi yang lainnya. Dari Yaman, dia melanjutkan tour ilmiahnya ke kota Baghdad di Iraq dan di kota ini dia banyak mengambil ilmu dari Muhammad bin Al-Hasan, spesialis fiqih di negeri Iraq. Juga dia mengambil ilmu dari Isma’il bin Ulaiyyah dan Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi dan masih banyak lagi yang lainnya.
Di Baghdad, Irak
Kemudian pergi ke Baghdad (183 dan tahun 195), di sana ia menimba ilmu dari Muhammad bin Hasan. Ia mempunyai tukar pikiran yang menjadikan Khalifah Ar Rasyid.
Di Mesir
Imam Syafi’i bertemu dengan Ahmad bin Hanbal di Mekah tahun 187 H dan di Baghdad tahun 195 H. Dari Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Syafi’i menimba ilmu fiqhnya, ushul madzhabnya, klarifikasi nasikh dan mansukhnya. Di Baghdad, Imam Syafi’i menulis madzhab lamanya (madzhab qodim). Kemudian beliu pindah ke Mesir tahun 200 H dan menuliskan madzhab gres (madzhab jadid).
PENGEMBARAAN IMAM AL-SHAFI’I
Hidup Imam As-Shafi’i (150H – 204H ) merupakan satu siri pengembaraan yang tersusun di dalam bentuk yang sungguh menarik dan amat berkesan terhadap pembentukan kriteria ilmiah dan popularitasnya.
Al-Shafi’i di Makkah ( 152H – 164H )
Pengembaraan dia bermula semenjak dia berumur dua tahun lagi (152H), ketika itu dia dibawa oleh ibunya berpindah dari tempat kelahirannya iaitu dari Ghazzah, Palestina ke Kota Makkah untuk hidup bersama kaum keluarganya di sana.
Di kota Makkah kehidupan dia tidak tetap kerana dia dihantar ke perkampungan Bani Huzail, berdasarkan tradisi bangsa Arab ketika itu bahawa penghantaran belum dewasa muda mereka ke perkampungan tersebut sanggup mewarisi kemahiran bahasa ibunda mereka dari sumber asalnya yang belum lagi terpengaruh dengan integrasi bahasa-bahasa ajaib mirip bahasa Parsi dan sebagainya. Satu kasus lagi ialah supaya cowok mereka sanggup dibekalkan dengan Al-Furusiyyah (Latihan Perang Berkuda). Kehidupan dia di peringkat ini mengambil masa dua belas tahun ( 152 – 164H ).
Sebagai hasil dari usahanya, dia telah mahir dalam ilmu bahasa dan sejarah di samping ilmu-ilmu yang berhubung dengan Al-Quran dan Al-Hadith. Selepas pulang dari perkampungan itu dia meneruskan perjuangan pembelajarannya dengan beberapa mahaguru di Kota Makkah sehingga dia menjadi terkenal. Dengan kecerdikan dan kemampuan ilmiahnya dia telah sanggup menarik perhatian seorang mahagurunya iaitu Muslim bin Khalid Al-Zinji yang mengizinkannya untuk berfatwa sedangkan umur dia masih lagi di peringkat dewasa iaitu lima belas tahun.
Al-Shafi’i di Madinah ( 164H – 179H )
Sesudah itu dia berpindah ke Madinah dan menemui Imam Malik. Beliau berdamping dengan Imam Malik di samping mempelajari ilmunya sehinggalah Imam Malik wafat pada tahun 179H, iaitu selama lima belas tahun. Semasa dia bersama Imam Malik korelasi dia dengan ulama-ulama lain yang menetap di kota itu dan juga yang tiba dari luar berjalan dengan baik dan berfaedah. Dari sini dapatlah difahami bahawa dia semasa di Madinah telah sanggup mewarisi ilmu bukan saja dari Imam Malik tetapi juga dari ulama-ulama lain yang populer di kota itu.
Al-Shafi’i di Yaman ( 179H – 184H )
Ketika Imam Malik wafat pada tahun 179H, kota Madinah diziarahi oleh Gabenor Yaman. Beliau telah dicadangkan oleh sebahagian orang-orang Qurasyh Al-Madinah supaya mencari pekerjaan bagi Al-Shafi’i. Lalu dia melantiknya menjalankan satu pekerjaan di wilayah Najran. Sejak itu Al-Shafi’i terus menetap di Yaman sehingga berlaku pertukaran Gabenor wilayah itu pada tahun 184H. Pada tahun itu satu fitnah ditimbulkan terhadap diri Al-Shafi’i sehingga dia dihadapkan ke hadapan Harun Al-Rashid di Baghdad atas tuduhan Gabenor gres itu yang sering mendapatkan kecaman Al-Shafi’i kerana kekejaman dan kezalimannya. Tetapi ternyata bahawa dia tidak bersalah dan kemudiannya dia dibebaskan.
Al-Shafi’i di Baghdad ( 184H – 186H )
Peristiwa itu walaupun secara kebetulan, tetapi membawa arti yang amat besar kepada Al-Shafi’i kerana pertamanya, ia berpeluang menziarahi kota Baghdad yang populer sebagai sentra ilmu pengetahuan dan para ilmuan pada ketika itu. Keduanya, ia berpeluang bertemu denganMuhammad bin Al-Hassan Al-Shaibani, seorang tokoh Mazhab Hanafi dan sahabat karib Imam Abu Hanifah dan lain-lain tokoh di dalam Mazhab Ahl al-Ra’y. Dengan insiden itu terbukalah satu era gres dalam siri pengembaraan Al-Imam ke kota Baghdad yang dikatakan berlaku sebanyak tiga kali sebelum dia berpindah ke Mesir.
Dalam pengembaraan pertama ini Al-Shafi’i tinggal di kota Baghdad sehingga tahun 186H. Selama masa ini (184 – 186H) dia sempat membaca kitab-kitab Mazhab Ahl al-Ra’y dan mempelajarinya, terutamanya hasil goresan pena Muhammad bin Al-Hassan Al-Shaibani, di samping membincanginya di dalam beberapa perdebatan ilmiah di hadapan Harun Al-Rashid sendiri.
Al-Shafi’i di Makkah ( 186H – 195H )
Pada tahun 186H, Al-Shafi’i pulang ke Makkah membawa bersamanya hasil usahanya di Yaman dan Iraq dan dia terus melibatkan dirinya di bidang pengajaran. Dari sini muncullah satu bintang gres yang berkerdipan di ruang langit Makkah membawa satu nafas gres di bidang fiqah, satu nafas yang bukan Hijazi, dan bukan pula Iraqi dan Yamani, tetapi ia ialah adonan dari ke semua aliran itu. Sejak itu berdasarkan pendapat setengah ulama, lahirlah satu Mazhab Fiqhi yang gres yang kemudiannya dikenali dengan Mazhab Al-Shafi’i.
Selama sembilan tahun (186 – 195H) Al-Shafi’i menghabiskan masanya di kota suci Makkah bantu-membantu para ilmuan lainnya, membahas, mengajar, mengkaji di samping berusaha untuk melahirkan satu intisari dari beberapa aliran dan juga duduk kasus yang sering bertentangan yang dia temui selama masa itu.
Al-Shafi’i di Baghdad ( 195H – 197H )
Dalam tahun 195H, untuk kali keduanya Al-Shafi’i berangkat ke kota Baghdad. Keberangkatannya kali ini tidak lagi sebagai seorang yang tertuduh, tetapi sebagai seorang alim Makkah yang sudah mempunyai personalitas dan aliran fiqah yang tersendiri. Catatan perpindahan kali ini memperlihatkan bahawa dia telah menetap di negara itu selama dua tahun (195 – 197H).
Di dalam masa yang singkat ini dia berjaya membuatkan “Method Usuli” yang berbeza dari apa yang dikenali pada ketika itu. Penyebaran ini sudah tentu menimbulkan satu respon dan reaksi yang luarbiasa di kalangan para ilmuan yang kebanyakannya ialah terpengaruh dengan method Mazhab Hanafi yang disebarkan oleh tokoh utama Mazhab itu, iaitu Muhammad bin Al-Hasan Al-Shaibani.
Kata Al-Karabisi : “Kami sebelum ini tidak kenal apakah (istilah) Al-Kitab, Al- Sunnah dan Al-Ijma’, sehinggalah datangnya Al-Shafi’i, beliaulah yang menerangkan maksud Al-Kitab, Al-Sunnah dan Al-Ijma’”.
Kata Abu Thaur : “Kata Al-Shafi’i : Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menyebut (di dalam kitab-Nya) mengenai sesuatu maksud yang umum tetapi Ia menghendaki maksudnya yang khas, dan Ia juga telah menyebut sesuatu maksud yang khas tetapi Ia menghendaki maksudnya yang umum, dan kami (pada ketika itu) belum lagi mengetahui perkara-perkara itu, kemudian kami tanyakan dia …”
Pada masa itu juga dikatakan dia telah menulis kitab usulnya yang pertama atas ajakan ‘Abdul Rahman bin Mahdi, dan juga beberapa penulisan lain dalam bidang fiqah dan lain-lain.
Al-Shafi’i di Makkah dan Mesir ( 197H – 204H )
Sesudah dua tahun berada di Baghdad (197H) dia kembali ke Makkah. Pada tahun 198H, dia keluar semula ke Baghdad dan tinggal di sana hanya beberapa bulan sahaja. Pada awal tahun 199H, dia berangkat ke Mesir dan hingga ke negara itu dalam tahun itu juga. Di negara gres ini dia menetap sehingga ke simpulan hayatnya pada tahun 204H.
Imam As-Shafi’i wafat pada tahun 204H. Asas Fiqih dan Ushul Fiqih kemudian disebar dan diusaha-kembangkan oleh para sahabatnya yang berada di Al-Hijaz, Iraq dan Mesir.
FATWA-FATWA IMAM AL-SHAFI’I
Perpindahan dia ke Mesir mengakibatkan satu perubahan besar dalam Mazhabnya. Kesan perubahan ini melibatkan banyak fatwanya semasa dia di Baghdad turut sama berubah. Banyak kandungan kitab-kitab fiqahnya yang dia hasilkan di Baghdad disemak semula dan diubah. Dengan ini terdapat dua fatwa bagi As-Shafi’i, fatwa usang dan fatwa barunya. Fatwa lamanya ialah segala fatwa yang diucapkan atau ditulisnya semasa dia berada di Iraq, fatwa barunya ialah fatwa yang diucapkan atau ditulisnya semasa dia berada di Mesir. Kadang-kadang dipanggil fatwa lamanya dengan Mazhabnya yang usang atau Qaul Qadim dan fatwa barunya dinamakan dengan Mazhab barunya atau Qaul Jadid.
Di sini harus kita fahami bahawa tidak kesemua fatwa barunya menyalahi fatwa lamanya dan tidak pula kesemua fatwa lamanya dibatalkannya, malahan ada di antara fatwa barunya yang menyalahi fatwa lamanya dan ada juga yang bersamaan dengan yang lama. Kata Imam Al-Nawawi : “Sebenarnya alasannya ialah dikatakan kesemua fatwa lamanya itu ditarik kembali dan tidak diamalkannya hanyalah berdasarkan kepada ghalibnya sahaja”.
PARA SAHABAT IMAM AL-SHAFI’I
Di antara para sahabat Imam Al-Shafi’i yang populer di Al-Hijaz (Makkah dan Al-Madinah) ialah :-
1. Abu Bakar Al-Hamidi, ‘Abdullah bun Al-Zubair Al-Makki yang wafat pada tahun 219H.
2. Abu Wahid Musa bin ‘Ali Al-Jarud Al-Makki yang banyak menyalin kitab-kitab Al-Shafi’i. Tidak diketahui tarikh wafatnya.
3. Abu Ishak Ibrahim bin Muhammad bin Al-‘Abbasi bin ‘Uthman bin Shafi ‘Al-Muttalibi yang wafat pada tahun 237H.
4. Abu Bakar Muhammad bin Idris yang tidak diketahui tarikh wafatnya.
Sementara di Iraq pula kita menemui ramai para sahabat Imam Al-Shafi’i yang terkenal, di antara mereka ialah :-
1. Abu ‘Abdullah Ahmad bin Hanbal, Imam Mazhab yang keempat. Beliau wafat pada tahun 241H.
2. Abu ‘Ali Al-Hasan bin Muhammad Al-Za’farani yang wafat pada tahun 249H.
3. Abu Thaur Ibrahim bin Khalid Al-Kalbi yang wafat pada tahun 240H.
4. Al-Harith bin Suraij Al-Naqqal, Abu ‘Umar. Beliau wafat pada tahun 236H.
5. Abu ‘Ali Al-Husain bin ‘Ali Al-Karabisi yang wafat pada tahun 245H.
6. Abu ‘Abdul RahmanAhmad bin Yahya Al-Mutakallim. Tidak diketahui tarikh wafatnya.
7. Abu Zaid ‘Abdul Hamid bin Al-Walid Al-Misri yang wafat pada tahun 211H.
8. Al-Husain Al-Qallas. Tidak diketahui tarikh wafatnya.
9. ‘Abdul ‘Aziz bin Yahya Al-Kannani yang wafat pada tahun 240H.
10. ‘Ali bin ‘Abdullah Al-Mudaiyini.
Di Mesir pula terdapat sebilangan tokoh ulama yang kesemua mereka ialah sahabat Imam Al-Shafi’i, mirip :-
1. Abu Ibrahim Isma’il bin Yahya bin ‘Amru bin Ishak Al-Mudhani yang wafat pada tahun 264H.
2. Abu Muhammad Al-Rabi’ bin Sulaiman Al-Muradi yang wafat pada tahun 270H.
3. Abu Ya’kub Yusuf bin Yahya Al-Misri Al-Buwaiti yang wafat pada tahun 232H.
4. Abu Najib Harmalah bin Yahya Al-Tajibi yang wafat pada tahun 243H.
5. Abu Musa Yunus bin ‘Abdul A’la Al-Sadaghi yang wafat pada tahun 264H.
6. Abu ‘Abdullah Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam Al-Misri yang wafat pada tahun 268H.
7. Al-Rabi’ bin Sulaiman Al-Jizi yang wafat pada tahun 256H.
Dari perjuangan gigih mereka, Mazhab Al-Shafi’i tersebar dan berkembang luas di seluruh rantau Islam di zaman-zaman berikutnya.
Karya tulis
Ar-Risalah
Salah satu karangannya ialah “Ar Risalah” buku pertama perihal ushul fiqh dan kitab “Al Umm” yang berisi madzhab fiqhnya yang baru. Imam Syafi’i ialah seorang mujtahid mutlak, imam fiqh, hadis, dan ushul. Ia bisa memadukan fiqh hebat Irak dan fiqh hebat Hijaz. Imam Ahmad berkata perihal Imam Syafi’i,”Beliau ialah orang yang paling faqih dalam Al Alquran dan As Sunnah,” “Tidak seorang pun yang pernah memegang pena dan tinta (ilmu) melainkan Allah memberinya di ‘leher’ Syafi’i,”. Thasy Kubri menyampaikan di Miftahus sa’adah,”Ulama hebat fiqh, ushul, hadits, bahasa, nahwu, dan disiplin ilmu lainnya setuju bahwa Syafi’i mempunyai sifat amanah (dipercaya), ‘adaalah (kredibilitas agama dan moral), zuhud, wara’, takwa, dermawan, tingkah lakunya yang baik, derajatnya yang tinggi. Orang yang banyak menyebutkan perjalanan hidupnya saja masih kurang lengkap,”
Mazhab Syafi'i
Dasar madzhabnya: Al Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Beliau juga tidak mengambil Istihsan (menganggap baik suatu masalah) sebagai dasar madzhabnya, menolak maslahah mursalah, perbuatan penduduk Madinah. Imam Syafi’i mengatakan,”Barangsiapa yang melaksanakan istihsan maka ia telah membuat syariat,”. Penduduk Baghdad mengatakan,”Imam Syafi’i ialah nashirussunnah (pembela sunnah),”
Al-Hujjah
Kitab “Al Hujjah” yang merupakan madzhab usang diriwayatkan oleh empat imam Irak; Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, Za’farani, Al Karabisyi dari Imam Syafi’i.
Al-Umm
Sementara kitab “Al Umm” sebagai madzhab yang gres Imam Syafi’i diriwayatkan oleh pengikutnya di Mesir; Al Muzani, Al Buwaithi, Ar Rabi’ Jizii bin Sulaiman. Imam Syafi’i menyampaikan perihal madzhabnya,”Jika sebuah hadits shahih bertentangan dengan perkataanku, maka ia (hadis) ialah madzhabku, dan buanglah perkataanku di belakang tembok,”
Imam Asy Syafi'i dan Sultan Harun Ar-Rasyid
Ketika berumur 20 tahun dia pergi mencar ilmu ke tempat Imam Malik di Madinah, setelah itu dia ke Irak, Parsi dan alhasil kembali ke Madinah. Dalam usia 29 tahun dia pergi ke Yaman untuk menuntut ilmu pengetahuan.
Tentang ketaatan dia dalam beribadah kepada Allah diceritakan bahawa setiap malam dia membagi malam itu kepada tiga bahagian. Sepertiga malam dia gunakan kewajipan sebagai insan yang mempunyai keluarga, sepertiga malam untuk solat dan zikir dan sepertiga lagi untuk tidur.
Ketika Imam Syafie di Yaman, dia diangkat menjadi setiausaha dan penulis istimewa Gabenor di Yaman, sekaligus menjadi guru besar di sana. Kerana dia termasuk orang pendatang, secara tiba-tiba memangku jawatan yang tinggi, maka ramai orang yang memfitnah beliau.
Ahli sejarah telah menceritakan bahawa waktu sultan Harun Ar-Rasyid sedang murka terhadap kaum Syiah, alasannya ialah golongan tersebut berusaha untuk meruntuhkan kekuasaan Abbasiyah, mereka berhasrat mendirikan sebuah kerajaan Alawiyah iaitu keturunan Saidina Ali bin Abi Talib. Kerana itu di mana kaum Syiah berada mereka diburu dan dibunuh.
Suatu kali tiba surat baginda Sultan dari Baghdad. Dalam surat yang ditujukan kepada Wali negeri itu diberitahukan supaya semua kaum Syiah ditangkap. Untuk pertama kali yang paling penting ialah para pemimpinnya, bila pekerjaan penangkapan telah selesai semua mereka akan dikirimkan ke Baghdad. Semuanya harus dibelenggu dan dirantai. Imam Syafie juga ditangkap, alasannya ialah di dalam surat tersebut bahawa Imam Syafie termasuk dalam senarai para pemimpin Syiah.
Ketika insiden itu terjadi pada bulan Ramadhan, Imam Syafie dibawa ke Baghdad dengan dirantai kedua belah tangannya. Dalam keadaan dibelenggu itu para tahanan disuruh berjalan kaki mulai dari Arab Selatan (Yaman) hingga ke Arab Utara (Baghdad), yang menempuh perjalanan selama dua bulan. Sampai di Baghdad belenggu belum dibuka, yang mengakibatkan darah-darah hitam menempel pada rantai-rantai yang mengikat tangan mereka.
Pada suatu malam pengadilan pun dimulai. Para tahanan satu persatu masuk ke dalam bilik pemeriksaan. Setelah mereka ditanya dengan beberapa kalimat, mereka dibunuh dengan memenggal leher tahanan tersebut. Supaya darah yang keluar dari leher yang dipotong itu tidak berserak ia dialas dengan kulit binatang yang diberi nama dengan natha’.
Imam Syafie dalam keadaan damai menunggu giliran, dengan memohon keadilan kepada Allah SWT. Kemudian dia dipanggil ke hadapan baginda Sultan. Imam Syafie menyerahkan segalanya hanya kepada Allah SWT. Dengan keadaan merangkak kerana kedua belah kaki dia diikat dengan rantai, Imam Syafie mengadap Sultan. Semua para pembesar memperhatikan beliau.
“Assalamualaika, ya Amirul Mukminin wabarakatuh.”
Demikian ucapan salam dia kepada baginda dengan tidak disempurnakan iaitu “Warahmatullah.”
“Wa alaikassalam warahmatullah wabarakatuh.” Jawab baginda. Kemudian baginda bertanya: “Mengapa engkau mengucap salam dengan ucapan yang tidak diperintahkan oleh sunnah, dan mengapa engkau berani berkata-kata dalam majlis ini sebelum mendapat izin dari saya?”
Imam Syafie menjawab: “Tidak saya ucapkan kata “Warahmatullah” kerana rahmat Allah itu terletak dalam hati baginda sendiri.” Mendengar kata-kata itu hati baginda jadi lembut. Kemudian Imam Syafie membaca surah An-Nur ayat 55 yang bermaksud:
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kau dan mengerjakan amal-amal yang soleh bahawa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diredhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sehabis mereka berada dalam ketakutan menjadi kondusif sentosa.”
Setelah membaca ayat di atas kemudian Imam Syafie berkata: “Demikianlah Allah telah menepati janjiNya, kerana kini baginda telah menjadi khalifah, jawapan salam baginda tadi membuat hati saya menjadi aman.” Hati baginda menjadi bertambah lembut. Baginda Harun ar Rashid bertanya kembali: “Kenapa engkau membuatkan faham Syiah, dan apa alasanmu untuk menolak tuduhan atas dirimu.”
“Saya tidak sanggup menjawab pertanyaan baginda dengan baik bila saya masih dirantai begini, bila belenggu ini dibuka Insya-Allah saya akan menjawab dengan sempurna. Lalu baginda memerintahkan kepada pengawal untuk membukakan belenggu yang mengikat lmam Syafie itu.
Setelah rantai yang membelenggu kedua kaki dan tangannya itu dibuka, maka Imam Syafie duduk dengan baik kemudian membaca surah Hujarat ayat 6:
“Hai orang-orang yang beriman, bila tiba kepadamu orang fasiq yang membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti semoga kau tidak menimpakan suatu petaka kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang mengakibatkan kau menyesal atas perbuatanmu itu.”
“Ya Amirul Mukminin, sesungguhnya isu yang hingga kepada baginda itu ialah dusta belaka. Sesungguhnya saya ini menjaga kehormatan Islam. Dan bagindalah yang berhak memegang adat kitab Allah kerana baginda ialah putera bapak saudara Rasulullah SAW yaitu Abbas. Kita sama-sama menghormati keluarga Rasulullah. Maka kalau saya dituduh Syiah kerana saya sayang dan cinta kepada Rasulullah dan keluarganya, maka demi Allah, biarlah umat Islam sedunia ini menyaksikan bahawa saya ialah Syiah. Dan tuan-tuan sendiri tentunya sayang dan cinta kepada keluarga Rasulullah.” Demikian jawab Imam Syafie.
Baginda Harun ar Rasyid pun menekurkan kepalanya kemudian ia berkata kepada Imam Syafie: “Mulai hari ini bergembiralah engkau semoga lenyaplah perselisihan antara kami dengan kamu, kerana kami harus memelihara dan menghormati pengetahuanmu wahai Imam Syafie.”
Demikianlah kehidupan Imam Syafie sebagai ulama besar, yang tidak lepas dari aneka macam cubaan serta seksaan dari pihak yang tak mengerti akan hakikat kebenaran yang sesungguhnya. Hanya ketabahan dan keimanan serta pengetahuanlah yang sanggup menghadapi setiap cobaan itu sebagai suatu ujian dari Allah SWT yang harus kita hadapi.
Pertumbuhannya dan Pengembaraannya Mencari Ilmu
Di Mekkah, Imam Syafi ‘i dan ibunya tinggal di erat Syi‘bu al-Khaif. Di sana, si ibu mengirimnya mencar ilmu kepada seorang guru. Sebenarnya ibunya tidak bisa untuk membiayainya, tetapi sang guru ternyata rela tidak dibayar setelah melihat kecerdasan dan kecepatannya dalam menghafal. Imam Syafi‘i bercerita, “Di al-Kuttab (sekolah tempat menghafal Alquran), saya melihat guru yang mengajar di situ membacakan murid-muridnya ayat Alquran, maka saya ikut menghafalnya. Sampai ketika saya menghafal semua yang dia katakan, dia berkata kepadaku, “Tidak halal bagiku mengambil upah sedikitpun darimu.” Dan ternyata kemudian dengan segera guru itu mengangkatnya sebagai penggantinya (mengawasi murid-murid lain) bila dia tidak ada. Demikianlah, belum lagi menginjak usia baligh, dia telah bermetamorfosis seorang guru.
Setelah faqih menghafal Alquran di al-Kuttab, dia kemudian beralih ke Masjidil Haram untuk menghadiri majlis-majlis ilmu di sana. Sekalipun hidup dalam kemiskinan, dia tidak berputus asa dalam menimba ilmu. Beliau mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta untuk digunakan menulis. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang, pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadits-hadits Nabi. Dan itu terjadi pada ketika dia belum lagi berusia baligh. Sampai dikatakan bahwa dia telah menghafal Alquran pada ketika berusia 7 tahun, kemudian membaca dan menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik pada usia 12 tahun sebelum dia berjumpa eksklusif dengan Imam Malik di Madinah.
Beliau juga tertarik mempelajari ilmu bahasa Arab dan syair-syairnya. Beliau menetapkan untuk tinggal di tempat pedalaman bersama suku Hudzail yang telah populer kefasihan dan kemurnian bahasanya, serta syair-syair mereka. Hasilnya, sekembalinya dari sana dia telah berhasil menguasai kefasihan mereka dan menghafal seluruh syair mereka, serta mengetahui nasab orang-orang Arab, suatu hal yang kemudian banyak dipuji oleh ahli-ahli bahasa Arab yang pernah berjumpa dengannya dan yang hidup sesudahnya. Namun, takdir Allah telah menentukan jalan lain baginya. Setelah mendapatkan pesan tersirat dari dua orang ulama, yaitu Muslim bin Khalid az-Zanji -mufti kota Mekkah-, dan al-Husain bin ‘Ali bin Yazid semoga mendalami ilmu fiqih, maka dia pun tersentuh untuk mendalaminya dan mulailah dia melaksanakan pengembaraannya mencari ilmu.
Beliau mengawalinya dengan menimbanya dari ulama-ulama kotanya, Mekkah, mirip Muslim bin Khalid, Dawud bin Abdurrahman al-‘Athar, Muhammad bin Ali bin Syafi’ –yang masih terhitung paman jauhnya-, Sufyan bin ‘Uyainah –ahli hadits Mekkah-, Abdurrahman bin Abu Bakar al-Maliki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin ‘Iyadh, dan lain-lain. Di Mekkah ini, dia mempelajari ilmu fiqih, hadits, lughoh, dan Muwaththa’ Imam Malik. Di samping itu dia juga mempelajari keterampilan memanah dan menunggang kuda hingga menjadi mahir sebagai realisasi pemahamannya terhadap ayat 60 surat Al-Anfal. Bahkan dikatakan bahawa dari 10 panah yang dilepasnya, 9 di antaranya pasti mengena sasaran.
Setelah mendapat izin dari para syaikh-nya untuk berfatwa, timbul keinginannya untuk mengembara ke Madinah, Dar as-Sunnah, untuk mengambil ilmu dari para ulamanya. Terlebih lagi di sana ada Imam Malik bin Anas, penyusun al-Muwaththa’. Maka berangkatlah dia ke sana menemui sang Imam. Di hadapan Imam Malik, dia membaca al-Muwaththa’ yang telah dihafalnya di Mekkah, dan hafalannya itu membuat Imam Malik kagum kepadanya. Beliau menjalani mulazamah kepada Imam Malik demi mengambil ilmu darinya hingga sang Imam wafat pada tahun 179. Di samping Imam Malik, dia juga mengambil ilmu dari ulama Madinah lainnya mirip Ibrahim bin Abu Yahya, ‘Abdul ‘Aziz ad-Darawardi, Athaf bin Khalid, Isma‘il bin Ja‘far, Ibrahim bin Sa‘d dan masih banyak lagi.
Setelah kembali ke Mekkah, dia kemudian melanjutkan mencari ilmu ke Yaman. Di sana dia mengambil ilmu dari Mutharrif bin Mazin dan Hisyam bin Yusuf al-Qadhi, serta yang lain. Namun, bermula dari Yaman inilah dia mendapat cobaan –satu hal yang selalu dihadapi oleh para ulama, sebelum mahupun sehabis beliau-. Di Yaman, nama dia menjadi populer kerana sejumlah kegiatan dan kegigihannya menegakkan keadilan, dan kisah kehebatannya itu hingga juga ke pendengaran penduduk Mekkah. Lalu, orang-orang yang tidak senang kepadanya akhir kegiatannya tadi mengadukannya kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, Mereka menuduhnya hendak mengobarkan pemberontakan bersama orang-orang dari kalangan Alawiyah.
Sebagaimana dalam sejarah, Imam Syafi‘i hidup pada masa-masa awal pemerintahan Bani ‘Abbasiyah yang berhasil merebut kekuasaan dari Bani Umayyah. Pada masa itu, setiap khalifah dari Bani ‘Abbasiyah hampir selalu menghadapi pemberontakan orang-orang dari kalangan ‘Alawiyah. Kenyataan ini membuat mereka bersikap sangat kejam dalam memadamkan pemberontakan orang-orang ‘Alawiyah yang sebetulnya masih saudara mereka sebagai sesama Bani Hasyim. Dan hal itu menggoreskan rasa sedih yang mendalam pada kaum muslimin secara umum dan pada diri Imam Syafi‘i secara khusus. Dia melihat orang-orang dari Ahlu Bait Nabi menghadapi petaka yang mengenaskan dari penguasa. Maka berbeza dengan perilaku hebat fiqih selainnya, dia pun menampakkan secara terang-terangan rasa cintanya kepada mereka tanpa rasa takut sedikitpun, suatu perilaku yang ketika itu akan membuat pemiliknya mencicipi kehidupan yang sangat sulit.
Sikapnya itu membuatnya dituduh sebagai orang yang bersikap tasyayyu‘, padahal sikapnya sama sekali berbeza dengan tasysyu’ model orang-orang syi‘ah. Bahkan Imam Syafi‘i menolak keras perilaku tasysyu’ model mereka itu yang meyakini ketidakabsahan keimaman Abu Bakar, Umar, serta ‘Utsman , dan hanya meyakini keimaman Ali, serta meyakini kemaksuman para imam mereka. Sedangkan kecintaan dia kepada Ahlu Bait ialah kecintaan yang didasari oleh perintah-perintah yang terdapat dalam Alquran maupun hadits-hadits shahih. Dan kecintaan dia itu ternyata tidaklah lantas membuatnya dianggap oleh orang-orang syiah sebagai hebat fiqih madzhab mereka.
Tuduhan dusta yang diarahkan kepadanya bahawa dia hendak mengobarkan pemberontakan, membuatnya ditangkap, kemudian digelandang ke Baghdad dalam keadaan dibelenggu dengan rantai bersama sejumlah orang-orang ‘Alawiyah. Beliau bersama orang-orang ‘Alawiyah itu dihadapkan ke hadapan Khalifah Harun ar-Rasyid. Khalifah menyuruh bawahannya menyiapkan pedang dan hamparan kulit. Setelah menilik mereka seorang demi seorang, ia menyuruh pegawainya memenggal kepala mereka. Ketika hingga pada gilirannya, Imam Syafi‘i berusaha memperlihatkan klarifikasi kepada Khalifah. Dengan kecerdasan dan ketenangannya serta pembelaan dari Muhammad bin al-Hasan -ahli fiqih Irak-, dia berhasil meyakinkan Khalifah perihal ketidakbenaran apa yang dituduhkan kepadanya. Akhirnya dia meninggalkan majlis Harun ar-Rasyid dalam keadaan higienis dari tuduhan bersekongkol dengan ‘Alawiyah dan mendapatkan kesempatan untuk tinggal di Baghdad.
Di Baghdad, dia kembali pada kegiatan asalnya, mencari ilmu. Beliau meneliti dan mendalami madzhab Ahlu Ra’yu. Untuk itu dia berguru dengan mulazamah kepada Muhammad bin al-Hassan. Selain itu, kepada Isma‘il bin ‘Ulayyah dan Abdul Wahhab ats-Tsaqafiy dan lain-lain. Setelah meraih ilmu dari para ulama Iraq itu, dia kembali ke Mekkah pada ketika namanya mulai dikenal. Maka mulailah ia mengajar di tempat dahulu ia belajar. Ketika isu terkini haji tiba, ribuan jamaah haji berdatangan ke Mekkah. Mereka yang telah mendengar nama dia dan ilmunya yang mengagumkan, bersemangat mengikuti pengajarannya hingga alhasil nama dia makin dikenal luas. Salah satu di antara mereka ialah Imam Ahmad bin Hanbal.
Ketika kamasyhurannya hingga ke kota Baghdad, Imam Abdurrahman bin Mahdi mengirim surat kepada Imam Syafi‘i memintanya untuk menulis sebuah kitab yang berisi khabar-khabar yang maqbul, klarifikasi perihal nasikh dan mansukh dari ayat-ayat Alquran dan lain-lain. Maka dia pun menulis kitabnya yang terkenal, Ar-Risalah.
Setelah lebih dari 9 tahun mengajar di Mekkah, dia kembali melaksanakan perjalanan ke Iraq untuk kedua kalinya dalam rangka menolong madzhab Ash-habul Hadits di sana. Beliau mendapat sambutan meriah di Baghdad kerana para ulama besar di sana telah menyebut-nyebut namanya. Dengan kedatangannya, kelompok Ash-habul Hadits merasa mendapat angin segar kerana sebelumnya mereka merasa didominasi oleh Ahlu Ra’yi. Sampai-sampai dikatakan bahawa ketika dia tiba ke Baghdad, di Masjid Jami ‘ al-Gharbi terdapat sekitar 20 halaqah Ahlu Ra ‘yu. Tetapi ketika hari Jumat tiba, yang tersisa hanya 2 atau 3 halaqah saja.
Beliau menetap di Iraq selama dua tahun, kemudian pada tahun 197 dia balik ke Mekkah. Di sana dia mulai menyebar madzhabnya sendiri. Maka datanglah para penuntut ilmu kepadanya meneguk dari lautan ilmunya. Tetapi dia hanya berada setahun di Mekkah.
Tahun 198, dia berangkat lagi ke Iraq. Namun, dia hanya beberapa bulan saja di sana kerana telah terjadi perubahan politik. Khalifah al-Makmun telah dikuasai oleh para ulama hebat kalam, dan terjebak dalam pembahasan-pembahasan perihal ilmu kalam. Sementara Imam Syafi‘i ialah orang yang paham betul perihal ilmu kalam. Beliau tahu bagaimana kontradiksi ilmu ini dengan manhaj as-salaf ash-shaleh –yang selama ini dipegangnya- di dalam memahami masalah-masalah syariat. Hal itu kerana orang-orang hebat kalam menjadikan budi sebagai sumber utama dalam menghadapi setiap masalah, menjadikannya referensi dalam memahami syariat padahal mereka tahu bahwa budi juga mempunyai keterbatasan-keterbatasan. Beliau tahu betul kebencian meraka kepada ulama ahlu hadits. Kerana itulah dia menolak madzhab mereka.
Dan begitulah kenyataannya. Provokasi mereka membuat Khalifah mendatangkan banyak petaka kepada para ulama ahlu hadits. Salah satunya ialah yang dikenal sebagai Yaumul Mihnah, ketika dia mengumpulkan para ulama untuk menguji dan memaksa mereka mendapatkan paham Alquran itu makhluk. Akibatnya, banyak ulama yang masuk penjara, bila tidak dibunuh. Salah satu di antaranya ialah Imam Ahmad bin Hanbal. Kerana perubahan itulah, Imam Syafi‘i kemudian menetapkan pergi ke Mesir. Sebenarnya hati kecilnya menolak pergi ke sana, tetapi alhasil ia menyerahkan dirinya kepada kehendak Allah. Di Mesir, dia mendapat sambutan masyarakatnya. Di sana dia berdakwah, menebar ilmunya, dan menulis sejumlah kitab, termasuk merevisi kitabnya ar-Risalah, hingga alhasil dia menemui simpulan kehidupannya di sana.
Keteguhannya Membela Sunnah
Sebagai seorang yang mengikuti manhaj Ash-habul Hadits, dia dalam menetapkan suatu kasus terutama kasus aqidah selalu menjadikan Alquran dan Sunnah Nabi sebagai landasan dan sumber hukumnya. Beliau selalu menyebutkan dalil-dalil dari keduanya dan menjadikannya hujjah dalam menghadapi penentangnya, terutama dari kalangan hebat kalam. Beliau berkata, “Jika kalian telah mendapatkan Sunnah Nabi, maka ikutilah dan janganlah kalian berpaling mengambil pendapat yang lain.” Karena komitmennya mengikuti sunnah dan membelanya itu, dia mendapat gelar Nashir as-Sunnah wa al-Hadits.
Terdapat banyak atsar perihal ketidaksukaan dia kepada Ahli Ilmu Kalam, mengingat perbedaan manhaj dia dengan mereka. Beliau berkata, “Setiap orang yang berbicara (mutakallim) dengan bersumber dari Alquran dan sunnah, maka ucapannya ialah benar, tetapi bila dari selain keduanya, maka ucapannya hanyalah igauan belaka.” Imam Ahmad berkata, “Bagi Syafi‘i bila telah yakin dengan keshahihan sebuah hadits, maka dia akan menyampaikannya. Dan prilaku yang terbaik ialah dia tidak tertarik sama sekali dengan ilmu kalam, dan lebih tertarik kepada fiqih.” Imam Syafi ‘i berkata, “Tidak ada yang lebih saya benci daripada ilmu kalam dan ahlinya” Al-Mazani berkata, “Merupakan madzhab Imam Syafi‘i membenci kesibukan dalam ilmu kalam. Beliau melarang kami sibuk dalam ilmu kalam.”
Ketidaksukaan dia hingga pada tingkat memberi fatwa bahwa aturan bagi hebat ilmu kalam ialah dipukul dengan pelepah kurma, kemudian dinaikkan ke atas punggung unta dan digiring berkeliling di antara kabilah-kabilah dengan mengumumkan bahawa itu ialah eksekusi bagi orang yang meninggalkan Alquran dan Sunnah dan menentukan ilmu kalam.
Imam Syafi’I dan kegiatan keilmuan
Imam Syafi’i tumbuh sebagai cowok yang miskin, berkehidupan yang sulit, sehingga ketika menuntut ilmu ia terpaksa menulis dalam potongan tembikar, kulit pelepah kurma dan tulang belulang binatang lantaran memang tidak bisa membeli kertas.
Kiblat para ulama’ syafi’iyah ini telah menghafal Alquran ketika masih kecil dan mulai menghafal hadis-hadis Nabi dan menulisnya. Syafi’I dewasa suka pergi ke pedesaan dan bergaul dengan kabilah Huzail hampir sepuluh tahun untuk mengambil kaidah bahasa Arab. Maka tidak heran ia bisa menghafal syair-syair Huzail dan sejarahnya. Huzail ialah kabilah Arab yang paling fasih.
Di samping mencar ilmu ilmu pengetahuan ia sangat gemar mencar ilmu memanah sehingga dikatakan dalam sepuluh kali bidikan tidak ada satupun yang meleset. Dalam hal ini As-Syafi’I berkata : “Himmahku ada dua, yaitu memanah dan ilmu. Aku bisa memanah sepuluh kali tanpa meleset sekalipun”. Namun ada orang yang menimpalinya : “Demi Allah, kau dalam hal ilmu lebih menonjol dari pada memanah”.
Dan memang dalam kenyataannya orang lebih banyak tahu As-Syafi’I sebagai mujtahid mutlak dari pada jago memanah. Tentang intensitasnya dalam ilmu Imam Syafi’i pada mulanya bertolak dari syair, sastra dan sejarah Arab, kemudian Allah mentakdirkan beralih pada fikih dan ilmu pengetahuan yang kelak ini menjadi simbol dirinya yang agung.
Riwayat-riwayat yang ada mengatakan, bahwa As-Syafi’I –dalam perjalanannya menuntut ilmu nahwu dan sastra- bertemu dengan Musallam bin Khalid al-Zanji mufti Mekah. Dia bertanya pada Imam Syafi’i: “Dari mana kamu?”. “Dari Mekah”,”Di mana tempat tinggalmu?”, lanjut mufti “Di Khaef”. “Dari kabilah mana kamu?”. Imam Syafi’i menjawab: “Dari Abdi Manaf”. Karena tahu kedetailan tanggapan as-Syafi’I Musallam berkata : “Bagus, bagus. Allah telah memuliakan kau di dunia dan akhirat, Seandainya kau menjadikan pemahamanmu yang anggun ini dalam fikih maka itu lebih baik”.
Imam Syafi’i menonjol dalam fikih di ketika usianya masih muda. Musallam memberinya izin untuk berfatwa. Tapi himmah Syafi’i tidak hingga di situ, ia mendengar kabar perihal Imam Madinah Malik r.a yang sangat populer di penjuru wilayah dan mempunyai posisi tinggi dalam fikih dan hadis. Keinginan Syafi’i untuk hijrah ke Madinah menuntut ilmu sudah bulat. Ia menyiapkan segala sesuatunya. Ia meminjam kitab al-Muwattho’ karya Imam Malik dari seseorang di Mekah. Ia membacanya, menghafalnya, kemudian memperoleh surat rekomendasi dari penguasa Mekah yang ditujukan kepada penguasa Madinah sebagai mediator pada Imam Malik supaya dia mau mendapatkan Syafi’i sebagai murid.
Imam Syafi’i pergi ke Madinah al-Munawwarah, kemudian bergegas menemui Imam Malik dengan membawa surat rekomendasi itu. Ketika Imam Malik melihatnya dan membaca surat rekomendasi itu, dia murka dan berkata: “Subhanallah, ilmu Rasulullah membutuhkan rekomendasi?”. Syafi’i beralasan: “Saya membawa itu lantaran semangat saya untuk mencar ilmu darimu”. Lalu Imam Malik menanyakan namanya, as-Syafi’I menjawab “Muhammad”, dan Imam Malik berkata, “Muhammad…, bertakwalah pada Allah dan jauhilah maksiat maka kau akan memperoleh posisi tinggi. Ketahuilah sesungguhnya Allah telah memperlihatkan cahaya dalam hatimu. Janganlah kau padamkan dengan maksiat.
Maka demikianlah, Syafi’i mulai mencar ilmu pada Imam Madinah al-Munawwarah ini. Ia membaca, memahami kitab-kitab dan Imam Malik menambahi dengan keterangan-keterangan. Ini terjadi hingga dia wafat tahun 179 H dan Syafi’i telah menginjak usia muda.
Di balik semangat Imam Syafi’i yang menggelora untuk terus mencar ilmu dari Imam Malik, ia mencari waktu yang baik untuk pergi ke Mekah demi mengunjungi ibunda dan memohon nasihat. Pada diri ibundanya ada kehormatan, dan pemahaman yang bagus.
As-Syafi’i memang gemar bepergian dan ia melihat di sana ada faedah yang besar.
Dalam hal ini ia menguntai syair :
“ Kan kujelajahi luasnya bumi
kuperoleh keinginanku atau
di pengasingan saya mati
kalau diri ini binasa,
alangkah baiknya dan
kalau selamat maka kepulangan kan segera tiba”.
Imam Syafi’i melihat dalam bepergian ada bermacam-macam faedah sebagaimana terkandung dalam syairnya :
“Berkelanalah,
kan kau dapati
pengganti orang yang kau tinggalkan.
Bekerja keraslah,
lantaran nikmatnya hidup
ada dalam kerja keras
lihatlah air..
ketika diam dia akan binasa dan
Ketika mengalir
Alangkah indahnya.
Lihatlah Singa,
Ketika berkutat di dalam rimba
Tak kan bisa ia memangsa
Lihatlah anak panah,
kalau tidak meninggalkan busurnya
tidak akan mengena sesiapa
lihatlah Biji emas
ia hanya laksana debu
ketika di tempatnya ia membisu
lihatlah si tongkat kayu
di tanahnya ia hanyalah kayu
namun lihatlah
Ketika biji emas dari kerumunannya
Berlari
Alangkah mahal dan terus dicari
Dan ketika si tongkat kayu menyendiri,
ia pun mahal kolam permata
Kecerdikan Imam Syafi’i
Keluhuran nasab Syafi’i tidak membuatnya diam, tidak mau bekrja dan hanya mengharap ‘upeti’ orang lain. Suatu ketika salah seorang penguasa Yaman tiba ke Hijaz. Beberapa orang dari suku Quraisy meminta penguasa Yaman itu semoga mau memberi pekerjaan pada Syafi’I di Yaman. Imam Syafi’i mendapatkan dan menggadaikan rumahnya untuk persiapan pergi. Di sana imam mazhab ini diserahi suatu pekerjaan. Imam Syafi’i menjalankan dengan sangat cemerlang. Ia bisa berbuat adil, menghapus tindak kelaliman dan suap menyuap. Bukan hanya itu saja, alim nan berani ini mencela para penguasa yang lalim, mengkritik mereka dan mengingatkan mereka akan siksa yang menimpa penguasa yang lalim.
Ketegasan Imam Syafi’I ini hingga juga pada penguasa Yaman. Gerah dengan kritikan tersebut dia menulis surat untuk Harun al-Rasyid yang berisi tuduhan bahwa Imam Syafi’i berpihak pada Ali dan keluarganya. Ia menuduh bahwa Imam Syafi’i berusaha belakang layar mengkudeta Khilafah Abbasiyah untuk Alawiyah. Dia juga menuduh bahwa dalam gerakannya itu Imam Syafi’i ditemani sembilan orang. Kesembilan orang itu telah bergerak, dan di sini ada seorang keturunan Syafi’ bani Muthollib yang bekerja dengan lisannya, tak seorangpun pembunuh yang bisa membunuh dengan pedangnya.
Harun al-Rasyid memerintahkan penguasa Yaman semoga mendatangkan kesembilan orang Alawiyah itu bersama pula dengan Imam Syafi’i. Harun al-Rasyid memerintahkan untuk membunuh kesembilan orang itu. Dan ketika tiba giliran Imam Syafi’i, dia berkata pada Khalifah: “Sabar wahai amirul mukminin, engkau pendakwa dan saya terdakwa, engkau bisa melaksanakan apa saja terhadapku sementara saya tidak. Wahai amirul mukminin, bagaimana pendapatmu perihal dua orang laki-laki, salah satunya melihatku sebagai saudara dan yang lain melihatku sebagai budak, mana yang engkau sukai ?”.
Harun al-Rasyid menjawab: “Orang yang melihatmu sebagai saudara”. Imam Syafi’i berkata: “Itulah engkau wahai amirul mukminin”. Harun al-Rasyid berkata : “Bagaimana itu?”. Imam Syafi’i berkata: “Wahai amirul mukminin kalian ialah anak keturunan Abbas dan mereka ialah anak keturunan Ali, kami ialah keturunan Muthollib, kalian (keturunan Abbas) melihat kami sebagai saudara dan mereka melihat kami sebagai budak”.
Harun al-Rasyid senang mendengarnya dan berkata: “Wahai putra Idris, bagaimana pengetahuanmu perihal Alquran?”. Imam Syafi’i menjawab: “Pengetahuan yang mana yang engkau tanyakan, hafalan? saya sudah menghafalnya dengan baik, juga waqaf ibtida’-nya, nasikh mansukh—nya, yang turun malam atau siang, ayat yang keras dan yang lembut, ayat yang menggunakan khitob ‘am tapi maksudnya khas, berkhitob khas tapi maksudnya ‘am”.
Harun bertanya: “Bagaimana pengetahuanmu perihal perbintangan?”. Imam Syafi’i menjawab: “Dari situ saya mengetahui daratan, lautan, lembah, pegunungan, waktu minum gembala di sore hari, waktu pagi hari dan semua hal yang harus diketahui”.
Harun bertanya: “Bagaimana pengetahuanmu perihal silsilah Arab ?”. Imam Syafi’i menjawab: “Aku mengatahui silsilah orang-orang hina, orang-orang terhoramat, silsilahku dan silsilah amirul mukminin”.
Harun bertanya: “Apa pesan tersirat yang bisa engkau berikan pada amirul mukminin ?”. Maka Imam Syafi’i memberi pesan tersirat yang menyentuh, mirip pesan tersirat Thawus al-Yamani. Maka Harun ar-Rasyid menangis dan memerintahkan semoga memberi Imam Syafi’i uang dan hadiah yang banyak. Imam Syafi’i kemudian membagi hadiah itu begitu keluar dari pintu istana.
Kisah di atas ialah bukti konkret kecerdikan Imam Syafi’i, kekuatan argumentasinya dan kecepatannya dalam melepaskan diri dari masalah. Demikianlah Imam Syafi’i sang pengembara yang mencakup Yaman, Kufah, Basrah, Mekah dan Baghdad . Baghdad yang kelak identik dengan qaul qadim-nya ia singgahi pada 184 H.
Imam Syafi’I tiba di Baghdad
Imam Syafi’i tiba di Baghdad pada ketika usianya menginjak 34 tahun, yaitu ketika terbebas dari jerat eksekusi Harun ar-Rasyid berkata kecerdikannya itu. Di sana ia mencar ilmu ilmu pengetahuan dan fikih pada Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani murid Abu Hanifah. Imam Syafi’i menguasai fikih Irak. Oleh lantaran itu dalam dirinya terkumpul fikih Hijaz yang lebih memprioritaskan naql (riwayat) dan fikih Irak yang lebih memenangkan aql. Dalam hal ini Ibn Hajar berkata: “Puncak fikih di Madinah ada pada Malik bin Anas, maka Imam Syafi’i pergi ke sana dan berguru kepadanya. Puncak fikih di Irak ada pada Abu Hanifah, maka Imam Syafi’i mengambil dari muridnya Muhammad bin al-Hasan secara utuh. Semua ilmu Muhammad dipelajari Imam Syafi’i. Maka dalam dirinya terkumpul ilmu hebat ra’yi dan ilmu hebat hadis. Sehingga terbersit dalam dirinya untuk mengolahnya, sehingga lahir ilmu ushul fiqh, suatu kaidah yang menjelaskan khilafiyah, di mana dia menjadi sangat masyhur di kemudian hari”.
Imam Syafi’i sering kali berdebat dengan murid-murid Muhammad bin al-Hasan. Dalam hal ini ia membela madzhab hebat hadis dan fikih Hijaz. Imam Syafi’i tidak mendebat Muhammad sebagai rasa hormat terhadap guru. Tetapi Muhammad mendengar bahwa Imam Syafi’I sering berdebat dengan muridnya, maka dia meminta semoga Imam Syafi’i mau berdebat dengannya. Tetapi Imam Syafi’i malu dan enggan, tapi Muhammad memaksa, maka Imam Syafi’i pun mendapatkan dengan ‘terpaksa’, yang diakhiri dengan kemenangan Imam -Syafi’i.
Setelah beberapa tahun tinggal di Baghdad Imam Syafi’i kembali ke Mekah dan mengajar di tanah haram. Di sini Imam besar tingkat dunia ini bertemu dengan ulama-ulama besar pada isu terkini haji. Mereka mendengarkan ajaran-ajarannya. Pada ketika itulah terjadi pertemuan dengan Ahmad bin Hambal yang ketika ditanya perihal Imam Syafi’i ia menjawab: “Allah telah memberi anugerah kita dengan adanya Imam Syafi’i. Kami telah mencar ilmu dari orang-orang, menulis buku karya mereka hingga Imam Syafi’I tiba di hadapan kita. Ketika kami mendengar ucapannya, kami mengetahui ia lebih alim dari yang lain. Kami bergaul dengannya siang malam dan yang kami ketahui hanya kebaikan yang ada pada dirinya. Semoga rahmat Allah selalu melimpah kepadanya”.
Pada tahun 195 H Imam Syafi’i kembali lagi ke Baghdad dengan membawa ushul fiqh dan kaidah-kaidah kulliyah para ulama. Ahli hadits dan hebat ra’yi menyambutnya dengan hormat. Di Irak as-Syafi’I mempunyai banyak murid, pengikut dan madzhabnya populer dengan madzhab qadim. Pada ketika ini Imam Syafi’i menyusun kitab ar-Risalah di mana ia meletakkan dasar-dasar ilmu ushul fiqh.
Dalam hal ini Ar-Razi bercerita : “Abdurrahman bin Mahdi meminta Imam Syafi’i –pada waktu masih muda- semoga menyusun sebuah kitab yang berisi syarat-syarat pengambilan dalil dari Alquran, Sunnah, Ijma’ Qiyas, klarifikasi Nasikh Mansukh, tingkatan ‘am dan khas. Imam Syafi’i menyanggupinya dan menyusun satu kitab yang kita kenal dengan ar-Risalah dan mengirimkannya kepada Abdurrahman bin Mahdi. Ketika ia membacanya ia berkata : “Aku tidak menerka Allah SWT membuat orang semacam ini”. al-Razi menambahi : “Ketahuilah bahwa Imam Syafi’i telah menyusun kitab al-Risalah ketika dia di Baghdad . Dan sewaktu dia kembali ke Mesir dia menyusun ulang. Dan masing-masing dari susunannya itu terdapat ilmu yang banyak”.
Pada tahun 198 H Abu Abdillah al-Ma’mun memegang tampuk pemerintahan. Pada masa ini, Imam Syafi’i tidak betah tinggal di Baghdad lantaran melihat orang-orang Parsi yang semakin berkuasa, sementara Imam Syafi’i ialah orang Arab, Quraisy dan sangat mengagungkan syariat. Di sisi lain al-Ma’mun menyemarakkan filsafat bahkan membelanya mati-matian. Ia menawari Imam Syafi’i untuk menjadi hakim tetapi dia menolak. Versi lain menyampaikan bahwa Abbas bin Abdillah bin Abbas bin Musa bn Abdillah bin Abbas memintanya ke Mesir. Abbas ini ialah wakil Abdullah al-Ma’mun untuk wilayah Mesir.
Imam Syafi’i tiba di Mesir
Imam Syafi’i tinggal di Mesir selama empat tahun lebih. Di sini ia banyak menulis buku, namanya terkenal, harum lantaran orang-orang menerimanya dengan baik, membuatkan madzhabnya yang baru. Semuanya ini tertuang dalam kitabnya al-Umm.
Kajian dan ilmu yang diajarkan oleh Imam Syafi’i sangat beragam, sehingga di hadiri oleh banyak orang. As-Syafi’i –menurut dongeng al-Rabi’ bin Sulaiman- selepas salat Subuh duduk dalam sebuah halaqah mengajar Alquran, ketika matahari mulai terbit, tiba hebat hadis untuk bertanya pada dia perihal tafsir dan makna hadis. Dan ketika matahari mulai meninggi berlangsung halaqah munadharah dan diskusi, dan ketika hingga waktu dhuha datang, orang-orang yang hendak mencar ilmu bahasa Arab, Arudh, nahwu, Syair tiba dan mengaji hingga tengah hari.
Dengan demikian Imam Syafi’i sekitar enam jam dalam setiap hari, mengajar aneka macam materi ilmu, mulai selepas shalat subuh hingga menjelang shalat dzuhur.
Fikih Imam Syafi’i
Fikih Imam Syafi’i sangatlah kaya, lantaran ia merupakan paduan dari nalar yang cemerlang, pendapat yang bijak dan pengalaman yang teruji. Ia mengelilingi aneka macam negeri, berdiskusi dengan para ulama, mendengarkan pendapat mereka. Imam Syafi’i pada mulanya menyiapkan dirinya sebagai hebat fikih Madinah murid Imam Malik. Namun belakangan nampak keistimewaan dalam dirinya sehingga dia berani beropini sendiri, baik itu sesuai dengan Imam Malik atau tidak pada ketika di mana sebagian orang pada ketika itu ‘mengkultuskan’ Imam Malik.
Orang-orang Andalus menjadikan kopyah Imam Malik berkah, dan ketika ada orang yang menyampaikan Rasulullah SAW bersabda, maka mereka menyampaikan Imam Malik berkata. Imam Syafi’i memberi tahu mereka, bahwa Imam Malik ialah insan biasa, bisa salah, bisa juga benar. Kemudian ia memaparkan beberapa kritikannya.
Imam Syafi’i menulis buku khusus yang berjudul Khilafu Malik. Di situ Imam kita ini menegaskan bahwasannya pendapat tidak berlaku ketika ada hadis, tapi as-Syafi’I menyimpan kitab itu satu tahun demi menghormati gurunya. Baru setelah dirasa kondusif buku itu disebarkan ke masyarakat semata-mata lantaran Allah Subhanahu Wata’ala.
Di sisi lain Imam Syafi’I juga mengkritik pendapat Abu Hanifah dan Auza’iy. Dan lantaran ini ia mendapatkan ‘masalah’.
Fahruddin al-Razi menceritakan perihal keutamaan Imam Syafi’i dan posisinya dalam mengkompromikan hadist dan ra’yi “Orang-orang sebelum Imam Syafi’i terbagi menjadi dua kelompok; Kelompok hadist dan ra’yi. Kelompok hadist sangat menjaga hadist dari Rasulullah SAW, tapi mereka lemah dalam diskusi dan debat dan ketika ada pertanyaan dari kelompok ra’yi, mereka seakan tidak bisa untuk menjawabnya. Sedangkan hebat ra’yi ialah hebat debat dan diskusi, hanya saja mereka lemah dalam hadis dan riwayat.
Sementara itu Imam Syafi’i ialah orang yang tahu benar sunnah Rasulullah SAW, menguasai kaidah-kaidahnya. Beliau juga tahu benar sopan santun diskusi dan debat dan dia pun orang yang sangat mumpuni dalam berdebat dan diskusi. Gaya bicara dia fasih, bisa menggertak lawan dengan argumentasi yang berpengaruh dengan mengambil dalil dari sunnah Rasulullah SAW. Setiap orang yang ingin bertanya pada beliau, dijawab dengan tanggapan yang memuaskan. Semuanya lantaran Imam Syafi’i menguasai hadist dan ra’yi”.
Imam Syafi’i sangat teliti dalam meriwayatkan hadist dari Rasulullah SAW. Ia mensyaratkan perawi harus jujur dan populer kejujurannya, wara’-nya dan agamanya. Ia memahami dan menghafal hadis tersebut sebagaimana ia juga hanya mengambil hadis dari orang yang meriwayatkan hadis tersebut secara langsung.
Imam Syafi’i menganggap ijma’ sebagai hujjah setelah Alquran, hal itu tentunya dengan persyaratan dan pembatasan yang ketat. Beliau tidak menyukai hal yang gres dalam agama. Menurutnya ialah dilarang orang beropini dalam urusan syariah dengan pendapat pribadi, kecuali ketika pendapat itu ada landasan qiyas yaitu menyamakan kasus yang tidak ada nash-nya dengan kasus yang ada nash hukumnya, lantaran ada kesamaan dalam ilat hukum.
Al-Razi berkomentar perihal fikih Imam Syafi’i, “penisbatan Imam Syafi’I pada ilmu ushul ialah mirip penisbatan Aristo pada Ilmu Mantiq dan Kholil bin Ahmad pada Ilmu Arudh. Beliau banyak menulis buku di antaranya ialah al-Risalah yang berbicara perihal ushul fiqh. Masyarkat setuju akan validitas kitab ini. al-Muzani berkata: “Aku mempelajari al-Risalah lima puluh tahun. Setiap saya mempelajari saya selalu mendapatkan hal gres yang tidak saya ketahui sebelumnya”.
Di antaranya juga kitab al-Umm. Ini ialah kitab yang besar dalam fikih Imam Syafi’i. Sebagian peneliti menisbatkan kitab ini pada muridnya yaitu Abu Ya’kub al-Buwaithi. dia dalam kitabnya ini banyak meriwayatkan hadis-hadis perihal keutamaan Quraisy. Ia beropini bahwa kekhalifahan harus dengan bai’at, kecuali terpaksa. Ketika seseorang dengan kekuatannya bisa mengalahkan pihak lain, dan masyarakat menerimanya maka kepemimpinannya sah.
Imam Syafi’I dan konflik Ali-Muawiyah
Imam Syafi’I tidak mau masuk dalam perselisihan yang terjadi antara Ali dan Muawiyah. Ia lebih menentukan pendapat Khulafaur Rasyidin yang kelima yaitu Umar bin Abdul Aziz yang ketika ditanya perihal sahabat yang turut serta dalam perang shiffin dia berkata : “Ini ialah darah, yang alhamdulillah Allah SWT mensucikan dari tanganku. Maka akupun tidak mau membasahi lidahku dengan darah itu”.
Tentang kedudukan sahabat Nabi as-Syafi’I memandang Abu Bakar mempunyai posisi yang lebih dari pada yang lain kendatipun ia menyayangi ahlu bait Rasulullah SAW dan sangat menghormati Ali r.a. Dalam hal ini ia berkata: “Ketika cinta pada keluarga Nabi ialah suatu kewajiban, maka jin dan insan supaya bersaksi bahwa saya termasuk kaum rafidah” (golongan syi’ah yang sangat mengagungkan keluarga Nabi.
Guru Imam Syafi’i
Di antara guru Imam Syafi’i di Irak ialah Waqi’ bin Jarrah al-Kufi, Abu Usamah Hammad bin Usamah al-Kufi, Ismail bin aliyah al-Bashri, Abdul Wahhab bin Abdul Majid al-Bashri.
Sedangkan guru Imam Syafi’i di Madinah di antaranya ialah : Malik bin Anas, Ibrahim bin Saad al-Anshori, Abdul Aziz bin Muhammad al-Dawardi, Ibrahim bin Yahya al-Usami, Muhammad bin Said din Abi Fadyak dan Abdullah bin Nafi’ al-Shaigh.
Di antara guru Imam Syafi’i di Yaman ialah : Muthrrof bin Mazin, Hisyam bin Yusuf (hakim San’a) Umar bin Abi Maslamah (murid al-Auza’iy) Yahya bin Hasan (murid al-Laits bin Sa’ad).
Akhir hayat Imam Syafi’i
Imam Syafi’I selama hidupnya tertimpa aneka macam macam penyakit, di antaranya wasir yang mengakibatkan pengeringan darah. Beliau wafat di Mesir pada malam Kamis selepas maghrib, simpulan bulan Rajab tahun 204 H. Usianya 54 tahun. Beliau meninggal di sisi Abdullah bin Hakam, dimakamkan pada hari Jum’at di pemakaman Qarrafah al-Shughra.
Makam Imam Syafi’i
Di atas makam Imam Syafi’I dibangun kubah yang kemudian direnovasi oleh Shalahuddin dan dibangun juga disekitarnya Madrasah Shalahiyah tahun 575 H (1179 M). Di kedua pintu makam tertulis :
Imam Syafi’i ialah imam insan semua
Dalam ilmu, kelembutan, keagungan dan keperkasaan
Keimamannya diterima di dunia
Sebagaimana kekhalifahan keturunan Abbas
Murid-muridnya ialah sebaik murid, madzhabnya
ialah sebaik madzhab berdasarkan Allah dan manusia
Di atas kubah, ada bahtera kecil yang diabadikan oleh Imam al-Bushairi pemilik Burdah sebagai berikut:
Pada kubah Imam Syafi’i ada perahu
Kokoh, berpengaruh laksana batu
Badai pengetahuan melimpah di persemayamannya
Dan dari situ kapalpun berlabuh di atas bukit Judi.
Kitab Fiqih dalam Mazhab Syafi’i Rhl. Yang dikarang oleh Ulama’-ulama’ Syafi’i dari kala keabad ialah mewarisi pusaka ilmu, kitab-kitab tersebut dikarang oleh sahabat-sahabat Imam Syafi’i Rhl. (Ulama’-ulama’ pengikut Syafi’i) sudah demikian banyaknya. Hampir setiap ulama’ itu mengarang kitab Fikih syafi’i untuk dijadikan pusaka bagi murid-muridnya dan bagi pencinta-pencintanya hingga simpulan zaman. Tidak terhintung lagi banyaknya kerana di antaranya ada yang tidak hingga ke tangan kita, tidak pernah kita melihat dan bahkan kadang-kadang ada yang tidak pernah didengari mengenai kitab-kitab dari segi nama kitabnya, pengarangnya, bahkan tidak mengetahui eksklusif perihal hal kitab dan para ulama’ bagi penuntut ilmu islam. Fenomena ini perlu kita sedari bahwa, hal demikian perlu diambil tahu dan peka bagi setiap penuntut ilmu dari siapa kitab menuntut ilmu, dan dari mana kitab mengambil referensi hukumnya. Kerana dikhuatiri tiada panduan di dalam menetapkan aturan islam. Menjadi tanggungjawab kita mengetahui hal demikian moga-moga terang hukumnya, dan benar pengambilannya.
Untuk diketahui lebih mendalam di bawah ini kami sediakan sebuah gambar rajah yang sanggup membuktikan situasi yang telah berlangsung dalam memperjelas, memperinci dan meringkaskan kitab-kitab Syafi’iyyah dari dulu hingga sekarang.
Keterangan :
1. Kitab-kitab Imam Syafi’i. “Al-Imla” dan “al-Hujjah” ialah kitab-kitab Qaul qadim yang digunakan lagi, kerana semua isinya sudah termasuk dalam kitab-kitab Qaul Jadid.
2. Kitab-kitab Imam Syafi’i yang diguna sebagai kitab induk ialah kitab Umm, Mukhtasar, Buwaiti dll.
3. Imam haramain mengikhtisarkan (memendekkan) kitab-kitab Imam syafi’i dengan kitabnya yang berjulukan “An-Nihayah.
4. Imam Ghazali memendekkan juga kitab-kitab Imam Syafi’i dengan kitab-kitabnya yang berjulukan Al-Basith, Al-wasith, Al-Wajiz.
5. Imam Ghazali juga mengikhtisarkan lagi dengan kitabnya yang berjulukan Al-Khulasoh.
6. Imam Rafi’i mensyarahkan kitab Imam Ghazali Al-Wajiz dengan kitabnya yang berjulukan Al-‘Aziz.
7. Dan Imam Rafi’i juga memendekkan kitab Imam Ghazali Al-Khulasoh dengan kitabnya yang berjulukan Al-Muharrar.
8. Imam Nawawi memendekkan dan menambah di sana sini kitab Al-Muharrar itu dengan kitabnya yang berjulukan MINHAJUT THALIBIN (Minhaj).
9. Kitab Imam Nawawi, Minhaj disyarahkan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dengan kitabnya Tuhfa, oleh Imam Ramli dengan kitabnya An Nihayah, oleh Imam Zakaria al-Anshori dengan kitabnya yang berjulukan Minhaj jug, oleh Imam Khatib Syarbaini dengan Mughni al-Muntaj.(Kitab-kitab tersebut dalam nombor 8 dan 9 ini banyak beredar di pasentren).
10. Dan Imam Rafi’i pernah mensyarah kitab karangan Imam Ghazali Al-Wajiz dengan kitabnya yang berjulukan Al-‘Ajiz.
11. Imam Nawawi pernah memendekkan kitab Imam Rafi’i denagn kitabnya yang berjulukan Ar-Raudhah.
12. Imam Quzwaini pernah memendekkan kitab Al-‘Ajiz dengan kitabnya yang berjulukan Al-Hawi.
13. Kitab Al-Hawi pernah diikhtisarkan oleh Ibnul Muqri dengan kitabnya yang berjulukan Al-Irsyad dan kitab al-Irsyad ini disyarah oleh Ibnu Hajar al-Haitami dengan kitabnya yang berjulukan Fathul Jawad dan juga dengan kitabnya yang berjulukan Al-Imdad.
14. Kitab Imam Nawawi berjulukan Ar-Raudhah pernah diiktisarkan oleh Imam Ibnu Muqri dengan nama Ar-Roudh dan oleh Imam mazjad dengan Al-Ubab.
15. Kitab Ibnul Muqri Al-Irsyad pernah disayarah oleh Imam Ibnu Hajar dengan kitabnya yang berjulukan Al-Imdad, dan dengan kitabnya berjulukan Fathul Jawad.
16. Kitab Ar-Roudh dari Ibnul Muqri pernah disyarah oleh Imam Zakaria Al-Anshori dengan nama Asnal Mathalib.
17. Imam Zakaria al-Anshori pernah mensyarah kitabnya yang berjulukan Al-Minhaj dengan kitabnya yang berjulukan Fathul Wahab.
Demikianlah keterangan ringkas dari jalur kitab-kitab dalam Mazhab Syafi’i yang sangat teratur rapi, yang merupakan suatu kesatuan yang tidak sanggup dipisahkan satu sama lain. (ibaratnya daripada penulis, ia bagaikan sebuah keluarga dari jalur keturunan).
Kemudian banyak lagi kitab-kitab fikih Syafi’i yang dikarang oleh Ulama’ mutaakhirin yang tidak tersebut dalam jalur ini kerana terlalu banyak, mirip kitab-kitab Al-Mahalli karangan Imam Jalaluddin al-Mahalli, Kitab Fathul Mu’in karangan al-Malibari, Kitab I’anahtut Thalibin karangan Said Abu Bakar Syatha dan lain-lain yang banyak sekali.
Dengan perantaraan kitab-kitab ini kita sudah sanggup memahami dan mengamalkan fatwa fiqih dalam Mazhab Syafi’i secara teratur dan secara rapid an terperinci, yang kesimpulannya sudah sanggup mengamalkan syari’at dan ibadah Islam dengan sebaik-baiknya.
Sumber Rujukan:
- Kiai.Haji. (K.H.) Siradjuddin Abbas, Sejarah & Keagungan Mazhab Syafi’i, Pustaka Tarbiyah baru, Jakarta,2007.
Madzhab Syafi’i :
Dasar-dasar pengambilan aturan dalam madzhab Syafi’i
Dalam pengambilan hukum, madzhab Syafi’I senantiasa berpegang kepada Al Qur’an dan Hadits serta mengedepankan dalil (nash). Hal inilah yang menjadi ciri has madzhab Syafi’i. Beliau selalu menyandarkan segala hal kepada nash, disaat imam lain secara terang-terangan mengikuti kebiasaan penduduk di salah satu tempat atau taqlid kepada ulama-ulama generasi sebelumnya, mirip yang di lakukan oleh imam Malik dan imam Abu Hanifah, dia tetap bersikukuh akan dalil nash. Dan apabila dalam Al Qur’an dan hadits tidak ditemukan sebuah dalil yang sanggup digunakan sebagai sandaran hukum, dia mengacu kepada pendapat para sahabat, setelah itu gres mengacu kepada qiyas, istishab dan terahir ialah istiqro’. Sedangkan untuk sumber-sumber yang lain, mirip maslahat mursalah, istihsan, adat kebiasaan penduduk Madinah dan ajaran/syariat nabi terdahulu, imam Syafi’I tidak mempergunakannya.
Mata rantai periwayatan madzhab Syafi’i
Dalam periwayatan madzhab Syafi’I, yaitu mata rantai penyampaian pemikiran Syafi’i hingga hingga ke tangan kaum muslimin kini ini, kita mengenal adanya dua corak/jalur periwayatan, yaitu jalur Khurosan dan jalur Irak. Hal ini berkaitan dengan perjalanan dia dalam memperkenalkan pemikiran-pemikirannya dalam rentang waktu antara tahun 179 H. hingga tahun 204 H.untuk lebih jelasnya, mari kita lihat peta pertumbuhan dan perkembangan madzhab Syafi’I berikut ini:
- Fase persiapan membangun madzhab, yaitu semenjak meninggalnya imam Malik hingga perjalanan dia ke Baghdad untuk kali kedua pada tahun 195 H.
– Fase madzhab qodim, yaitu dimulai semenjak kedatangan dia ke Baghdad yang kedua (195 H.) hingga dia pindah ke Mesir pada tahun 199 H.
– Fase penyempurnaan dan pemantapan madzhab yang baru, yaitu semenjak tinggal di Mesir hingga wafat pada tahun 204 H.
- Fase penyeleksian pendapat dan buah pemikiran imam Syafi’i, hal ini dimulai semenjak imam Syafi’I wafat hingga pada pertengahan kala ke 5 hijriyah.
- Fase stabil, yaitu setelah selesai fase penyeleksian,. Ditandai dengan bermunculannya kitab-kitab mukhtasor dalam madzhab yang berisikan pendapat-pendapat yang rojih dalam madzhab Syafi’I dan penjelasannya dengan metode sistematik.
Dari beberapa fase tadi, ada dua fase yang menjadikan pembagian jalur periwayatan madzhab Syafi’I menjadi dua, yaitu fase kedua dan ke tiga. Hal ini terjadi dikarenakan murid-murid imam Syafi’I setelah mencar ilmu dari beliau, menyebar luaskan ajarannya di beberapa daerah, dan yang paling menonjol dalam hal pencetakan kader-kader penerus madzhab Syafi’I ialah di Khurosan dan di Irak.
Sebenarnya, kedua jalur periwayatan tadi sama-sama mengikuti dasar-dasar alur pemikiran Syafi’I, hanya saja dalam beberapa hal, contohnya dalam beristimbat, dasar-dasar yang dijadikan dalil dalam menentukan sebuah aturan dan dalam pemikiran masalah-masalah fiqh keduanya mempunyai sedikit perbedaan. Dan inilah yang menjadikan jalur periwayatan madzhab Syafi’I ada dua corak, corak Khurosan Dan corak Irak.
Untuk mengenal siapa-siapa yang menjadi penopang kedua aliran dalam madzhab Syafi’I, kita akan mengutip perkataan imam Nawawi. Beliau berkata: “Saya mempelajari Fiqh madzhab Syafi’I dari beberapa ulama kenamaan, yaitu:
Imam Abu Ibrahim Ishaq bin Ahmad bin Utsman Al Maghriby, kemudian kepada Syaikh Abu Abdirrohman bin Nuh bin Muhamad bin Ibrahim Al Maqdisy,
Abu Hafsh Umar bin As’ad bin Abu Tholib Ar Ruba’I, kesemuanya berguru kepada imam Abu Amr Ibnu Sholah dan dia berguru kepada ayahandanya, dan dari ayahnya itulah dua corak madzhab Syafi’I dipelajarinya.
Adapun untuk jalur periwayatan ulama-ulama Irak, dia (bapak dari Ibnu Sholah) mempelajarinya dari Ibnu Sa’id Abdullah bin Muhammad bin Hibbatulloh bin Ali bin Abu ‘Asrun Al Musawy, dia mencar ilmu kepada Abu Ali AL Fariqy, Abu Ali mencar ilmu kepada Abu Ishaq Al Syaerozy, Abu Ishaq mencar ilmu kepada Qodhy Abu Thoyyib Al Thobary (Thohir bin Abdullah), Al Thobary mencar ilmu kepada Abu Hasan Al Masarjisy (Muhammad bin Ali bin Sahal bin Muslih), Abu Hasan mencar ilmu kepada Abu Ishak Al Marwazy (Ibrahim bin Ahmad), Al Marwazy mencar ilmu kepada Ibnu Suraij (Abu Abbas Ahmad bin Umar bin Suraij), dia mencar ilmu kepada Abu Qosim Utsman bin Basyir Al Anmathy, Abu Qosim mencar ilmu kepada imam Muzani (Abu Ibrahim Ismail bin Yahya) dan imam Muzani mencar ilmu eksklusif kepada imam Syafi’i
Imam Syafi’I mencar ilmu ilmu Fiqh kepada imam Malik bin Anas, imam Sufyan bin Uyainah dan imam Abu Kholid Muslim Al Zanjy.
Dan dari ketiga ulama inilah mata rantai keilmuan imam Syafi’I hingga kepada Rosululloh SAW. Lebih jelasnya, imam Malik berguru kepada imam Rabi’ah yang mendapatkan pengetahuannya dari sahabat Anas dan imam Nafi’, murid dari Ibnu Umar. Imam Sufyan bin Uyainah mencar ilmu kepada Amr bin Dinar yang menjadi murid dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas. Sedangkan imam Abu Khold Al Zanjy mencar ilmu kepada Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij, dia mencar ilmu kepada ‘Atho bin Abi Robah dari Ibnu Abbas. Ibnu Abbas mencar ilmu kepada para sahabat- sahabat besar, yaitu: Umar bin Khotob, Ali bin Abu Tholib, dan Zaid bin Tsabit.
Untuk jalur Khurosan, dia imam Nawawy mendapatkannya dari ulama-ulama yang telah disebutkan di atas, dari mereka bersambung kepada imam Ibnu Sholah, dari Bapaknya, dari Abu Qosim bin Bazary Al Jazary, dari Elkaya Al Harosy (Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Ali), dari imam Haramain (Abul Ma’aly Abdul Malik bin Abdullah bin Yusuf Al Juwainy), dari bapaknya (Abu Muhammad Al Juwainy), dari imam Qofal (Al Marwazy Al Shoghir), dari Abu Zaid Al Marwazy (Muhammad bin Ahmad bin Abdullah), dari Abu Ishaq Al Marwazy, dari Ibnu Suraij dan seterusnya hingga kepada Rosululloh SAW.
Dari jalur periwayatan tadi, kita temukan dua ulama yang yang mempertemukan kedua arus periwayatan madzhab imam Syafi’I, yaitu imam Abu Ishaq Al Marwazy dan imam Ibnu Sholah, hanya saja imam Marwazy menelorkan murid yang meneruskan kedua aliran tadi sedangkan imam Ibnu sholah menggabungkan keduanya hingga tidak ada lagi corak Khurosan dan corak Irak. Yang ada hanya madzhab Syafi’I tanpa suplemen Khurosan Atau Irak.
Thobaqot ulama Khurosan
Sebelum membahas siapa saja yang berdri dalam barisan ulama Khurosan, alangkah lebih baik kita mengenal tempat Khurosan lebih dahulu. Khurosan ialah satu tempat di tanah Persia, lebih tepatnya sebelah tenggara kota Teheran, ibu kota Iran. Khurosan zaman dahulu dibagi menjadi 4 kota, yaitu: Naisabur, Haroh, Balkh, dan Marwa. Dari keempat kota tadi yang terbesar ialah Marwa, makanya adakala ulama yang berasal dari tempat Khurosan di nisbatkan kepada kota Marwa menjadi Al Murowazah (Ulama-ulama yang berasal dari tempat Marwa). Marwa sendiri di bagi menjadi dua, ada Marwa Syahijan ada Marwa Roudz. Ketika laadz Marwa disebutkan tanpa ada qoyidnya, maka yang dimaksud ialah Marwa Syahijan, dan orang-orangnya menggunakan gelar Al Marwazy di belakangnya. Sedangkan untuk Marwa Roudz harus disebutkan secara keseluruhan, dan orang-orangnya biasanya menyandang gelar Al Marwarodzy yang disingkat menjadi Al Marwadzy.
Ulama-ulama Syafi’iyah generasi pertama yang berada di tempat Khurosan ialah murid-murid eksklusif dari imam Syafi’I, diantaranya ialah Ishaq bin Rohuyah Al Handzoly, Hamid bin Yahya bin Hani’ Al Balkhy, dia mencar ilmu kepada Imam Syafi’I dan imam Sufyan bin Uyainah wafat tahun 202 H, Abu Sa’id Al Isfahany (Al Hasan bin Muhammad bin Yazid), belaiu adalh orang pertama yang membawa pemikiran imam Syafi’I ke Isfahan dan yang terahir ialah Abu Hasan An Naisabury (Ali bin Salamah bin Syaqiq) Wft. Tahun 252 H.
Generasi kedua ialah para murid dari ulama generasi pertama. Yang paling menonjol dari generasi ini ialah Abu Bakar bin Ishaq bin Khuzaimah, dan Abu Abdillah Muhammad bin Nashr Al Marwazy, dia lahir di Baghdad pada tahun 202 H, menghabiskan masa kecilnya di Naisabur, kemudian mencar ilmu di Mesir kepada murid-murid Imam Syafi’I dan menghabiskan masa tuaanya di Samarkand hingga wafat pada tahun 294 H. kemudian Abu Muhammad Al Marwazy (‘Abdan bin Muhammad bin Isa) dia ialah murid dari imam Muzani. Selanjutnya ialah Abu Ashim Fudhail bin Muhamad Al Fudhaily, seorang pakar fikih di tempat Haroh sekaligus menjadi mufti disana. Dan untuk seterusnya ialah Abu Hasan As Shobuny, Abu Sa’id Ad Darimy, Abu Umar Al Khofaf (Penguasa Naisabur), dan terahir ialah Abu Abdillah Muhammad bin Ibrahim Al Ubady Al Busyinjy.
Generasi ketiga di komandani oleh Abu Ali Al Tsaqofy, Abu Bakar Ahmad bin Ishaq bin Ayyub Al Shubaghy, Abu Bakar Al Mahmudy Al Marwazy dan Abu fadl Ya’kub bin Ishaq bin Mahmud Al Harowy.
Generasi keempat dipimpin oleh Abu Ishaq Al Marwazy, murid dari Ibnu Suraij, dan telah disinggung sebelumnya bahwa beliaulah orang yang mempertemukan dua arus interpretasi madzhab Syafi’I. berdiri dibelakangnya Abu Walid Hassan bin Muhamad Al Qurosyi An Naisabury, Abu Hasan An Nasawy, Abu Bakar Al Baihaqy, dan Abu Mansur Abdullah bin Mahron.
Ulama-ulama yang menempati generasi kelima terbilang sedikit, diantaranya ialah Abu Zaid Al Marwazy, Abu Sahal As Sho’luky, Abu Abbas Al Harowy dan Abu Hafsh Al Harowy.
Ulama-ulama yang menempati generasi ke enam adalah: Abu Bakar Al Qofal Al Marwazy, Abu Thoyib As Sho’luky, Abu Ya’kub Al Abyurdy dan Abu Ishaq Al Isfiroyiny.
Generasi ke tujuh adalah: Qodhy Husain, Abu Ali As Sinjy dan Abu bakar As Shoidalany.
Generasi ke delapan dari ulama khurosan di wakili oleh Imam Haromain, seorang ulama besar pengarang kitab Nihayatul Mathlab Fi Diroyatil Madzhab, kitab inilah yang dikemudian hari menjadi sumber awal dari silsilah kitab-kitab ulama Syafi’iyah.
Dan terahir ialah generasi ke Sembilan, lantaran setelah generasi ini kedua jalur melebur menjad satu dengan prakarsa Imam Ibnu Sholah. Termasuk dalam ulama generasi ke Sembilan ini ialah El Kaya Al Harosy, Abu Sa’ad Al Mutawally, Al Baghowy, Al Ruyany, dan Al Ghozaly.
Kitab-kitab buah karya ulama Khurosan
Kitab utama ulama Syafi’iyah yang populer dengan aliran Khurosan ialah kitab-kitab buah karya Ali As Sinjy yang menjabarkan pendapat-pendapat imam Muzani, yang dinamakan dengan Al Madzhab Al Kabir oleh imam Haromain, kemudian di belakangnya yaitu Syarh Talkhish karya Ibnu Qosh, dan Syarh Furu’ karya Ibnu Haddad yang banyak di jabarkan (Syarah) oleh ulama-ulama generasi sesudahnya.
Selain dari tiga kitab yang sudah disebutkan tadi ada beberapa kitab yang lain diantaranya adalah: kitab komentar karya Qodhi Husein, kitab Silsilah, dan Al Jam’u wal Farqu karya Imam Juweny, An Nihayah karya Imam Haromain, At Tahdzib karya Al Baghowy, Al Ibanah dan Al ‘Umdah karya Al Faurony, Titimmatul Ibanah karya Al Mutawally, Al Basith, Al Wasith, Al Wajiz dan Al Khulashoh karya Al Ghozaly, Syarh Al Wasith karya Ibnu Rif’ah, Isykalatul Wasith wal Wajiz karya Al ‘Ujaily, Hasyiyah Wasith karya Ibnu Sukary, Isykalatul Wasith karya ibnu Sholah, Syarh Kabir, Syarah Shoghir dan At Tahdzib karya Ar Rofi’I, Ar Roudhoh karya An Nawawy, Mukhtasorul Mukhtashor karya Imam Juweny, Al Mu’tabar, Al Muharror, Al Minhaj, dan Tadzkirotul ‘Alim karya Abu Ali bin Suraij dan Al Lubab karya As Syisyi.
Thobaqot ulama Irak
Generasi pertama aliran Irak ialah murid-murid dari Imam Syafi’I yang mengembangkan madzhab Syafi’I di Irak, mereka ialah Abu Tsaur Ibrahim bin Kholid Al Kalaby Al Baghday, imam Ibnu Hambal, Abu Ja’far Al Kholal Ahmad bin Kholid Al Baghdady, Abu Ja’far An Nahlasyi, Abu Abdillah As Shoirofy, Abu Abdirrahaman Ahmad bin Yahya bin Abdul Aziz Al Baghdady, Al Harits bin Suraij, Al Hasan bin Abdul Aziz Al Mashry dan terahir Al Karobisi Al Husein bin Ali Al Baghdady.
Ulama generasi ke dua diantaranya ialah Abu Qosim Al Anmathy, Abu Bakar An Naisabury, Abu Ja’far Muhammad bin Ahmadbin Nasr At Tirmidzy, Qodhi Abu Ubaid Ali bin Husein bin Harbaweh Al Baghdady, bubuk Ishaq Al Harby dan Abu Hasan Al Mundziry.
Generasi ketiga diwakili olaeh imam Ibnu Suraij, nama lengkapnya ialah Abu Abas Ahmad bin Umar bin Suraij, seorang Qodhi kota Baghdad dan guru sebagian besar dari ulama-ulama Syafi’iyah setelahnya. Dalam generasi ini juga tercatat nama Abu Said Al Istokhry, Abu Ali bin Khoiron, dan Abu hafsh yang populer dengan sebutan Ibnu Wakil.
Generasi ke empat dipimpin oleh Abu Ishaq Al Marwazy, di belakangnya ada imam Abu Ali bin Abu Huraiarah, Abu Thoyib Muhammad bin Fadhol bin Maslamah Al Baghdady, Abu Bakar As Shoirofy, Abu Abbas bin Al Qodhi, Abu Ja’far Al Istirabadzy, Abu Bakar Ahmad bin Husein bin Sahal Al Farisi dan terahir ialah Abu Husein Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Al Qothon.
Dalam generasi ke lima hanya tercatat tiga ulama besar, yaitu: imam Ad Dariky, Abu Ali At Thobary dan Abu Hasan bin Marzaban.
Untuk generasi ke enam juga di wakili oleh tiga ulama besar, yaitu: Abu Hamid Al Isfiroyini (Ahmad bin Muhammad bin Ahmad Al Baghdady, wft. Tahun 406 H.), Abu Hasan Al Masarjisi dan Abu Fadhol An Nasawy.
Ulama generasi ke tujuh di komandani oleh Abu Hasan Al Mawardy (muallif kitab Al Hawy), Qodhi Abu Thoyib, Salim bin Ayyub Ar Rozy, Abu Hasan Al Mahamily, imam Syasyi, Al Bandanijy dan Qodhi Abu Sa’id.
Dan ulama generasi terahir di tempati oleh Qodhi bubuk Saib, Abu Hasan Al Mahamily Al Kabir, Abu Sahal Ahmad bin Ziyad, Faqih Al Baghdady, Abu Bakar Muhammad bin Umar Az Zabady Al Baghdady, Abu Muhammad Al Jurjany dan Abu Thoyib As Shoid.
Kitab-kitab hasil karya ulama Syafi’iyah sekte Irak
Ulama-ulama penyokong madzhab Syafi’I yang membekingi aliran Irak termasuk ulama yang produktif. Hal ini tergambar terang dari setiap tingkatan generasi yang menelorkan berpuluh-puluh kitab. Dan dari satu kitab tersebut ada berpuluh-puluh jilid, semisal kitab yang membahas perihal komentar Syaikh Abu Hamid yang mencapai 50 jilid. Dari kitab-kitab tadi, kitab yang menjadi referensi utama ialah kitab komentar Syeih Abu Hamid Al Isfiroyiny. Sedangkan kitab-kitab yang lain menempati posisi di belakangnya, mirip kitab Ad Dzahiroh buah karya Al Bandanijy, Ad Dariq karangan syeikh Abu Hamid, Al Majmu’, Al Ausath, Al Muqni’, Al Lubab, At Tajrid karya Al Muhamily, kitab komentar(ta’liq) karya Thoyib At Thobary, Al Hawy, dan Al Iqna’ karya Al Mawardy, Al Lathif karya Abu Husain bin Khoiron, At Taqrib, Al Mujarrod dan Al Kifayah karya Sulaim, Al Kifayah karya Al ‘Abdary, At Tahdzib, Al Kafi dan Syarah Al Isyaroh karya Nasr Al Maqdisy, Al Kifayah karya Al Muhajiry, At Talqin karya Ibnu Suroqoh, Tadznibul Aqsam karya Al Mar’asyi, Al Kafi karya Az Zabidy, dan masih banyak lagi kitab-kitab lain yang mustahil disebutkan satu persatu dalam goresan pena ini.
Setelah mengetahui diantara pengikut madzhab Syafi’I sekte Irak dan sekte Khurosan, mungkin akan timbul pertanyaan: siapakah diantara keduanya yang paling unggul? Untuk menjawab pertanyaan tadi memang agak sulit, lantaran pada masing-masing sekte punya kelebihan dan kekurangan. Walhasil, tidak ada yang lebih unggul dalam segala aspek, untuk aspek penukilan nash-nash imam Syafi’I, kaidah-kaidah madzhabnya dan aneka macam macam pendapat para ulama-ulama syafi’iyah generasi awal, sekte Irak di bilang unggul. Sedangkan sekte Khurosan lebih unggul dalam hal-hal yang berkaitan dengan pembahasan aturan dan kelengkapannya.
Ulama-ulama madzhab Syafi’i
Abu Umayyah At Thursusi: Muhammad bin Ibrahim, wft. 273 H
Abu Ishaq, ketika tidak ada qoyidnya maka yang dimaksud ialah Al Marwazy.
Abu Ishaq Al Isfiroyini: Ibrahim bin Muhammad bin Ibrahim bin Mahron, wft. 418 H.
Abu Ishaq Al Syaerozy: Ibrahim bin Ali bin Yusuf bin Abdullah Al Syaerozy, wft. 472 H.
Abu Ishaq Al Marwazy: Ibrahim bin Ahmad Al Marwazy, padanya bertemu dua sekte dalam madzhab Syafi’I, w. 340 H.
Abu Hasan Al Mawardy: Ali bin Muhammad bin Habib, muallif kitab Hawy, w.450H.
Abu Hasan Al Masarjisi: Muhammad bin Ali bin Sahal bin Muflih, w. 384 H.
Abu Husain bin Qothon: Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Qothon Al Baghdady, w. 359 H.
Abu Rabi’ Al Ilaqy: Thohir bin Muhammad bin Abdillah, w. 465 H.
Abu Thoyib As Sho’luky: Sahal bin Muhammad bin Sulaiman Al ‘Ajaly, w. 387 H.
Abu Thoyib Al Thobary: Qodhi Thohir bin Abdullah bin Thohir, w. 450 H.
Abu Abbas bin Suraij: Ahmad bin Umar bin Suraij Al Baghdady, w. 306 H.
Abu Abbas bin Qosh: Ahmad bin Abi Ahmad Al Qosh Al Thobary, w. 335 H.
Abu Qosim Ad Dariky: Abdul Aziz bin Abdullah, w. 375 H.
Abu Walid An Naisabury: Hassan bin Muhammad bin Ahmad bin Harun, w. 349H.
Abu Bakar Al Ismaily: Ahmad bin Ibrahim bin Ismail Al Jurjany, w. 371 H.
Abu Bakar As Shobughy: Ahmad bin Ishaq, w.342 H.
Abu Bakar AS Shoirofy: Muhammad bin Abdillah, w. 330 H.
Abu Bakar An Naisabury: Abdullah bin Muhammad bin Ziyad, w. 324 H.
Abu Bakar bin Haddad: Muhammad bin Ahmad A Qodhy Al Mashry, w. 345 H.
Abu Bakar bin Mundzir: Muhannad bin Ibrahim bin Mundzir, w. 309 H.
Abu Bakar bin Lal: Ahmad bin Ali bin Ahmad, w. 378 H.
Abu Tsaur: Ibrahim bin Kholid Al Kalaby, w. 240 H.
Abu Hamid Al Isfroyini: Ahmad bn Muhammad bin Ahmad, w. 406 H.
Abu Hamid Al Marwarodzy: Ahmad bin Bisyr bin Amir Al Qodhi, w. 362 H.
Abu Zaid Al Marwazy: Muhammad bin Ahmad bin Abdullah, w. 371 H.
Abu Sa’ad Al Mutawally: Abdurrahman bin Ma’mun, w. 478 H.
Abu Sa’id Al Ishthokhry: Al Hasan bin Ahmad bin yazid bin Isa, w. 328 H.
Abu Sahal As Sho’luky: Muhammad bin Sulaiman bin Muhammad Al ‘Ajaly, w. 369H.
Abu Thohir Az Zabady: Muhammad bin Muhammad bin Mahmisy bin Ali. w.400 H.
Abu Abdillah Az Zubairy: Zubair bin Ahmad bin Sulaiman, w. sebelum 320 H.
Abu Ali Atsaqofy: Muhammad bin Abdul Wahab An Naisabury, w. 328 H.
Abu Ali As Sinjy: Husain bin Syu’aib
Abu Ali At Thobary: Hasan bin Qosum, w. 350 H.
Abu Ali bin Abu Hurairah: Qodhi Hasan bin Husain Al Baghdady, w. 345 H.
Al Abyurdy: Abu Mansur Ali Bin Husain, w. 487 H.
Al Adzro’i: Syihabudin Ahmad bin Abdullah Al Adzro’I, w. 708 H.
Al Anmathy: Utsman bin Sa’id bin Basyar, w. 288 H.
Al Audani: Abu Bakar Muhammad bin Abdullah, w. 385 H.
Al Isnawy: Jamaludin Abdurrahim bin Hasan, w. 772 H.
Imam Haramain: Dhiyauddin Abu Ma’aly Abdul Malik bin Syaikh Abu Muhammad Al Juweny, w. 478 H.
Ibnu Abi ‘Ishrun: Abu Sa’ad Abdullah bin Muhammad bin Hibatullah Al Maushuly, w. 585 H.
Ibnu Abu Hurairah: Al Qodhi Hasan bin Husain Al Baghdady, w. 345 H.
Ibnu Rif’ah: Abu Yahya Najmudin Ahmad bin Muhammad bin Ali Al Anshory, w. 735 H.
Ibnu Subky: Jamaludin, Tajudin, Bahaudin.
Ibnu Shobbagh: Abu Nashor Abdu Sayid bin Muhammad bin Abdul Wahid, w. 477H
Ibnu Sholah: Taqiyudin Abu Amr Utsman bin Abdurrahman Al Kurdy, w. 643 H.
Ibnu Mundzir: Muhamad bin Ibrahim bin Mundzir, w. 309 H.
Ibnu Binti Syafi’i: Ahmad bin Muhammad bin Abdullah Al Mathlaby As Syafi’I
Ibnu Burhan: Abul Fath Ahmad bin Ali bin Burhan, w. 518 H.
Ibnu Huzaimah: Muhammad bin Ishaq, w. 311 H.
Ibnu Khoiron: Ali bin Husain bin Sholih bin Khoiron Al Baghdady, w. 310 H.
Ibnu Suraij: Abu Abbas bin Suraij
Ibnu Kaji: Qodhi Yusuf bin Ahmad Ad Dainury, w. 405 H.
Ibnu Marziban: Abu Hasan Ali bin Ahmad Al Baghdady, w. 366 H.
Al Istirobadzy: Ahmad bin Muhammad Abu Ja’far
Al Baghowy: Muhyi Sunnah Husain bin Mas’ud, w. 510 H.
Al Bandanijy: Qodhi Abu Ali Hasan bin Abdullah , w. 425 H.
Bahaudin bin Subky: Abu Hamid Ahmad bin Ali, w. 773 H.
Al Busyinjy: Abu Abdilah Muhammad bin Ibrahim Al Busyinjy, w. 290 H. dan Abu Sa’id Ismail bin Abu Qosim Abdul Wahid bin Ismail, w. 530 H.
Al Buwaithy: Abu Ya’kub Yusuf bin Yahya Al Qurasyi, w. 231 H.
Al Baihaqy: Abu Bakar Ahmad bin Husain, w. 458 H.
Tajudin Ibnu Subky: Syaikul Islam Abdul Wahab bin Ali, w. 771 H.
Al Jurjany: AbuAhmad Muhammad bin Ahmad, w. 373 H. Abu Abas Al Jurjany Ahmad bin Muhammad Al Qodhy, w. 482 H.
Jamludin Ibnu Subky: Husain bin Ali, w. 755 H.
Al Juwainy: Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf, w. 438 H.
Al Halimy: Abu Abdillah Hasan bin Husain, w. 406 H.
Al Humaidy: Abdullah bin Zubair, w. 219 H.
Al Hudhory: Muhammad bin Ahmad Al Marwazy
Al Khotib Al Baghdady: Abu Bakar Ahmad bin Khotib Al Baghdady, w. 463 H.
Ad Darimy: Abu Farah Muhammad bin Abdul Wahid Al Baghdady, w. 449 H.
Ar Rozy: Fahrudin Umar bin Husain, 606 H.
Ar Rofi’i: Abu Qosim Abdul Karim bin Muhammad bin Abdul Karim Al Qozwiny, w. 623 H.
Ar Robi’ Al Jizy: Ar Robi’ bin Sulaiman Al Murody, w. 256 H.
Ar Robi’ Al Murody: Ar Robi’ bin Sulaiman Al Murody, w. 270 H.
Ar Ruyani: Abdul Wahid bin Ismail Abu Mahasin Fakhrul Isla Ar Ruyani, w. 502 H. dan keponakannya Abu Makarim Ar Ruyani Abdullah bin Ali, serta sepupunya yaitu Qodhi Syuraih bin Abdul Karim Ar Ruyani, w. 505 H.
Az Zarkasyi: Badrudin Muhammad bin Bahadir, w. 794 H.
Az Za’farony: Abu Ali Hasan bin Muhammad bin Shobah, w. 260 H.
As Subky: Syaikhul Islam TaqiyudinAli bin Abdul Kafi, w. 756 H. serta anak-anaknya yaitu, Jamaludin As Subky, Tajudin As Subky, dan Bahaudin As Subky.
As Sirjisi: Abu Hasan Muhammad bin Ali, w. 374 H.
Salim Ar Rozy: Salim bin Ayyub Abu Ftah Ar Rozy, w. 547 H.
As Sam’ani: Abu Mudzofar Mansur bin Muhammad At Tamimy, w. 489 H.
As Syasyi: Fahrul IslamMuhammad bin Ahmad bin Husain As Syasyi, w. 507 H.
Syarofudin Ibnul Muqri: Ismail bin Abu Bakar Al Muqry, w. 837 H.
Syaikh Abu Hamid: Ahmad bin Muhammad bin Ahmad, Abu Hamid Al Isfiroyini, w. 406 H.
As Shoidalany: Abu Bakr Muhammad bin Dawud Al Marwazy, w. 427 H.
Al ‘Ubady: Abu ‘Ashim Nuhammad bin Ahmad bin Muhammad Al Harowy, w. 458 H. dan anaknya Abu Hasan Al ‘Ubady Ahmad bin Abu ‘Ashim, w. 495 H.
‘Izzudin bin Abdul Aziz bin Abdussalam Ad Dimasyqy As Sulamy, w. 660 H.
Al Ghozaly: Muhammad bin Muhammad, w. 505 H.
Al Fariqy: Abu Ali Hasan bin Ibrahim Al Fariqy, w. 528 H.
Al Faorony: Abdurrahman bin Muhammad bin Ahmad, w. 461 H.
Al Qhodhy, jikalau di katakana oleh genersai simpulan dari sekte Khurosan, mak ayng dimaksud ialah Qodhi Husain. Apabila di katakan oleh generasi pertengan dalam sekte Irak maka yang dimaksud ialah Qodhi Abu Hamid Al Marwa rodzy. Dan apabila ditembungkan dalam kitab ushul maksudnya ialah Qodhi Abu Bakar Al Baqillany. Dan Qodhi Al Jubbai bila yang mengucapkan orang mu’tazilah.
Qodhi Abu Hamid: Ahmad bin Bisyr bin Amir Al Marwarodzy, w. 362 H.
Qodhi Husain: Husain bin Muhammad Abu Ali Al Marwazy, w. 462 H.
Qodhi Al Majaly: Bahaudin Abu Ali Al Majally bin Naja Al Makhzumy Al Asyuthy Al Mashry, w. 549 H.
Al Qofal As Syasyi, Al Qofal Al Kabir: Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Ismail, w. 336 H.
Al Qofal Al Marwazy, Al Qofal As Shoghir: Abdullah bin Ahmad Al Qofal Al Marwazy, w. 417 H.
Al Karobisi: Husain bin Ali bin Yazid, w. 248 H.
Al Karkhy: Abu Qosim Mansur bin Amr, w. 447 H.
El Kaya Al Harosy: Abu Hasan ImadudinAli bin Muhammad At Thobary, w. 504 H.
Al Masarjisy: Abu Hasan Muhammad bin Ali bin Sahal.
Al Mahamily: Abu Hasan Ahmad bin Muhammad bin Ahmad, w. 415 H.
Al Mahmudy: Abu Bakar Muhammad bin Mahmud Al Marwazy.
Al Marwazy: Nuhammad bin Nashor, w. 294 H.
Al Muzany: Abu Ibrahim Ismailbin Yahya, w. 264 H.
Al Mas’udy: Muhammad bin Abdul malik bin Mas’ud, w. 420 H.
Nashor Al MAqdisy: Abu Fath Nashor bin Ibrahim Al Maqdisy, w. 490 H.
An Nawawy: Yahya bin Syarof Abu Zakariya An Nawawy, w. 676 H.
Al Harowy: Qodhi Abu Sa’ad Muhammad bin Ahmad bin Abu Yusuf, w. 488 H.
Waliyudin Al ‘Iraqy: Ahmad bin Abdurrahim, anak dari Al ‘Iraqy, W. 826 H.

0 Response to "Nih Sejarah Imam Syafi'i"
Posting Komentar