Nih Sejarah Imam Syafi'i
Imam Syafi’i yang dikenal sebagai pendiri madzhab Syafi’i mempunyai nama lengkap Muhammad bin Idris As Syafi’i Al Quraisy. Beliau dilahirkan di kawasan Ghazzah, Palestina pada tahun 150 H di bulan Rajab.
Nasab Imam Syafi’i
Beliau berjulukan Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’i bin Saib bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Abdullah bin Abdu Manaf. Kun-yah (panggilan kehormatan) ia ialah Abu Abdullah (bapaknya Abdullah) dikarenakan salah seorang anak ia yang berjulukan Abdullah. Nasab Imam Syafi’i bertemu dengan nasab Rasulullah صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم. pada Abdu Manaf. Sedangkan Hasyim kakek Imam Syafi’i bukanlah kakek dari Rasulullah صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم..
Diriwayatkan bahwa ketika beberapa hari sesudah ibunda Imam Syafi’i melahirkan terdengar kabar dari Baghdad perihal meninggalnya Imam Abu Hanifah. Tatkala diteliti dengan seksama ternyata hari meninggalnya Imam Abu Hanifah bertepatan dengan ketika lahirnya Imam Syafi’i. Para ulama waktu itu mengisyaratkan bahwa Muhammad yang gres lahir kelak akan mengikuti derajat keilmuan Imam Abu Hanifah.
Hadits Rasulullah صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم. yang mengisyaratkan kedatangan Imam Syafi’i
Para ulama telah menelaah sejumlah hadits dari Rasulullah صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم. berkenaan dengan kegembiraan Rasulullah صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم. kepada Imam Syafi’i.
Hadits dari Ibnu Mas’ud ia berkata: “Rasulullah صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم. telah bersabda: janganlah kau mencaci-maki Quraisy lantaran orang alim Quraisy itu ilmunya akan memenuhi bumi. Ya Allah, Engkau telah memberi siksaan pada awal Quraisy, maka berilah anugerah pada selesai Quraisy.”
Hadits dari Ali bin Abi Thalib ia berkata: “Rasulullah صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم. telah bersabda: jangan kau mengimami orang Quraisy dan bermakmumlah kau pada mereka. Jangan mendahului Quraisy akan tetapi dahulukanlah mereka. Jangan kau mengajari Quraisy tetapi belajarlah dari mereka lantaran ilmu orang alim Quraisy akan menyebar ke seluruh dunia,”
Kesungguhan Imam Syafi’i dalam menuntut ilmu
Meskipun dibesarkan dalam keadaan yatim dan kondisi keluarga yang miskin, tidak mengakibatkan ia rendah diri apalagi malas. Sebaliknya, keadaan itu menciptakan ia makin ulet menuntut ilmu. Pada umur 9 tahun ia telah hafal Al Alquran seluruhnya. Beliau banyak berdiam di Masjid al-Haram dimana ia menuntut ilmu pada ulama-ulama dalam banyak sekali bidang ilmu.
Beliau mencatat ilmu-ilmu yang telah diperolehnya pada kertas-kertas, kulit dan tulang binatang. Hingga pada suatu hari kamar tempat istirahatnya penuh oleh kertas, kulit dan tulang. Maka seluruh catatan pada benda-benda itu dihafal oleh Imam seluruhnya, kemudian sesudah itu benda-benda tersebut dibakarnya.
Kekuatan hafalan Imam Syafi’i sangat mencengangkan. Sampai-sampai seluruh kitab yang dibaca sanggup dihafalnya. Ketika ia membaca satu kitab ia berusaha menutup halaman yang kiri dengan tangan kanannya lantaran khawatir akan melihat halaman yang kiri dan menghafalnya terlebih dahulu sebelum ia hafal halaman yang kanan.
Mengenai hal ini ia bercerita: bahwa ia pernah bermimpi bertemu Rasulullah صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم. dan Rasulullah صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم. berkata kepadanya: “Siapa kau hai anak muda?” Imam Syafi’i berkata. : “aku termasuk umatmu, ya Rasulullah” Rasul berkata: “mendekatlah padaku.”
Imam Syafi’i kemudian mendekat kepada Rasulullah صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم., kemudian Rasul mengambil air liurnya dan meletakkan air liur itu ke dalam lisan dan bibir Imam Syafi’i. sesudah itu Rasulullah صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم. berkata padanya: “ berangkatlah, biar Allah memberkahimu.” Setelah mimpi itu ia tak pernah merasa kesulitan dalam menghafal ilmu.
Beliau juga telah mencapai kemampuan berbahasa yang sangat indah. Kemampuan ia dalam menggubah syair dan ketinggian mutu bahasanya menerima ratifikasi dan penghargaan yang sangat tinggi oleh orang-orang alim yang sejaman dengan beliau.
Demikian tinggi prestasi-prestasi keilmuan yang telah ia capai dalam usia yang masih sangat belia, sehingga guru-gurunya membolehkan ia untuk berfatwa di Masjid al-Haram. Ketika itu ia bahkan gres mencapai usia 15 tahun.
Kepergian Imam Syafi’i ke Madinah
Imam Syafi’i hidup sejaman dengan Imam Malik bin Anas, seorang ulama besar pendiri madzhab Maliki. Imam Malik bin Anas juga dikenal sebagai Ahli Hadits. Beliau menghimpun hadits-hadits nabi dalam kitab ia yang berjudul Muwattha’. Imam Syafi’i pernah meminjam kitab Muwattha’ pada salah seorang penduduk Mekkah dan menghafalnya dalam waktu singkat. Imam Syafi’i rindu untuk melihat Imam Malik di Madinah Al Munawwarah dan berharap sanggup mengambil manfaat dari ilmu beliau.
Maka pada suatu hari berangkatlah Imam Syafi’i ke Madinah dengan niat untuk menuntut ilmu. Dalam perjalanan dari Mekkah menuju Madinah ia mengkhatamkan bacaan Al Qur’an sebanyak 16 kali. Malam satu kali khatam dan siangnya satu kali. Pada hari ke delapan ia tiba di Madinah sesudah shalat ashar. Beliau shalat di Masjid Nabawi dan berziarah terlebih dahulu ke makam Rasulullah صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم.. Setelah itu gres ia menuju kediaman Imam Malik bin Anas.
Ketika Imam Syafi’i menghadap Imam Malik, ia berkata: “mudah-mudahan Allah selalu memberimu kebaikan. Aku ialah seorang penuntut ilmu. Kondisi dan ceritaku begini dan begini…”
Mendengar perkataan itu Imam Malik merasa kasihan dan bertanya kepadanya: “siapa namamu?” menjawab: “Muhammad.” Imam Malik berkata kepadanya; “wahai Muhammad, bertaqwalah kepada Allah, hindarilah maksiat. Aku melihat di hatimu ada cahaya. Karena itu janganlah kau padamkan cahaya itu dengan maksiat. Sesungguhnya cahaya itu akan menjadikanmu diharapkan oleh manusia. “ Imam Syafi’i menjawab: “ya.” Imam Malik kemudian berkata: “kalau besok kau masih ada, kami akan mengajarkanmu kitab Muwattha’.”
Imam Syafi’i berkata: “wahai tuanku, saya telah membaca kitab Muwattha’ hingga hafal.”“bacalah!” kemudian Imam Syafi’i membaca dan Imam Malik menyimaknya. Ketika Imam Syafi’i khawatir Imam Malik lelah, maka ia berhenti. Dan Imam Malik kemudian berkata: “teruskan wahai anak muda, saya akan memperbaiki bacaanmu.” Demikianlah, maka kegiatan harian Imam Syafi’i ialah membaca kitab Muwattha’ dibawah bimbingan Imam Malik.
Beliau pun selalu hadir di majlis ilmu Imam Malik yang pertanda perihal hadits-hadits Rasulullah صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم.. Imam Malik memuji kuatnya hafalan dan keluasan pemahaman Imam Syafi’i terhadap ilmu yang dipelajarinya. Seringkali sehabis membacakan kitabnya, Imam Malik meminta Imam Syafi’i untuk menyampaikannya kepada orang lain. Imam Malik juga sering memperlihatkan hadiah kepada sang murid sebagai wujud rasa cinta dan perhatian ia kepadanya.
Demikian juga Imam Syafi’i begitu mengasihi gurunya dengan sepenuh hati. Beliau berkata: “Malik bin Anas ialah guruku. Dari ia saya mencar ilmu dan tidak ada orang yang saya percaya kecuali Malik bin Anas. Dan saya mengakibatkan Malik bin Anas sebagai hujjah (saksi) antara saya dan Allah.”
Kepergian Imam Syafi’i ke Iraq
Pada waktu Imam Syafi’i telah menuntaskan pelajarannya pada Imam Malik, ia mendengar kabar perihal Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan yang ialah murid sekaligus sobat Imam Abu Hanifah yang sedang berada di Iraq yaitu di kota Kufah. Beliau ingin sekali bertemu dengan mereka berdua. Maka Imam Syafi’i lantas memohon izin kepada Imam Malik untuk pergi ke Iraq.
Imam Malik memberi pemanis bekal kepada ia dan menyewakannya binatang tunggangan menuju kota Kufah.
Di Kufah, begitu berjumpa dengan Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan, mereka berdua sangat besar hati dengan kedatangan Imam Syafi’i. Mereka bertanya kepada ia perihal Imam Malik bin Anas. Beliau berkata: “aku telah tiba kepadanya.” Salah satu dari keduanya berkata: “apakah kau melihat kitab Muwattha’?” Imam Syafi’i menjawab: “aku telah menghafal kitab tersebut dalam lubuk hatiku.”
Itu semua telah menciptakan Muhammad bin Hasan dan Abu Yusuf menaruh hormat kepada Imam Syafi’i. Muhammad bin Hasan kemudian bertanya kepada ia perihal persoalan thaharah, zakat, jual beli, dan persoalan lainnya yang dijawab dengan tanggapan yang sangat elok oleh Imam Syafi’i. Bertambah kagumlah Muhammad bin Hasan pada beliau. Kemudian ia mengajak Imam Syafi’i ke rumahnya dan mengizinkan Imam Syafi’i untuk menyalin kitab apa saja yan dia inginkan yang ada di perpustakaan miliknya.
Selama di Kufah, Imam Syafi’i menjadi tamu Muhammad bin Hasan. Ketika ia telah selesai mempelajari kitab-kitab di perpustakaan Muhammad bin Hasan, ia lantas mohon izin untuk meneruskan perjalanan menuju Persia dan kota-kota disekitarnya.
Kembali ke Madinah
Ketika ia di kota Romlah ada serombongan orang Madinah datang. Beliau bertanya perihal keadaan guru beliau, Imam Malik bin Anas. Mereka menjawab bahwa Imam Malik dalam keadaan sehat. Imam Syafi’i merasa rindu dan ingin sekali berjumpa dengan guru yang sangat dicintainya itu. Maka ia pun mempersiapkan diri untuk perjalanan menuju ke Madinah.
Sampai di Madinah, sesudah berziarah ke makam Rasulullah صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم., ia lantas menuju pengajian Imam Malik. Ketika Imam Malik mengetahui kehadiran Imam Syafi’i, ia memanggilnya dan memeluknya dengan penuh kerinduan. Murid-murid Imam Malik yang lain merasa terharu melihat insiden ini. Imam Malik kemudian membawa Imam Syafi’i duduk disisinya. Beliau berkata: “ajarilah ini, wahai Syafi’i.” Setelah menuntaskan pelajaran itu, Imam Malik mengajak Imam Syafi’i ke rumahnya.
Imam Syafi’i tinggal selama beberapa tahun di Madinah. Selama itu ia senantiasa menerima perlakuan yang istimewa dan sangat diperhatikan oleh gurunya. Pada bulan Rabi’ul awwal tahun 179 H Imam Malik bin Anas wafat dan dimakamkan di pemakaman Baqi’ di kota Madinah. Seluruh penduduk Madinah karam dalam sedih cita lantaran meninggalnya Imam yang sangat alim dan mulia ini.
Setelah wafatnya Imam Malik, Imam Syafi’i masih tinggal beberapa usang di Madinah. Beliau kemudian pergi ke Yaman, menetap dan mengajarkan ilmunya di sana.
Berita perihal keluasan ilmu ia segera saja menyebar ke seluruh negeri. Orang berduyun-duyun tiba untuk menyimak pelajaran yang ia sampaikan. Ketinggian ilmu dan ma’rifahnya, baik itu dibidang fiqh, hadits, filsafat, kedokteran, ilmu falak dan lain-lain menciptakan khalifah Harun al-Rasyid mengundang ia dan meminta ia untuk mengajar di kota Baghdad.
Sejak ketika itu ia dikenal secara luas dan lebih banyak lagi orang yang tiba menuntut ilmu padanya. Pada waktu itulah madzhab ia mulai dikenal. Imam Syafii mengajar banyak orang yang kelak sebagian dari mereka menjadi ulama-ulama yang besar pula. Diantara murid-murid ia yaitu Imam Ahmad bin Hanbal yang kelak dikenal sebagai salah seorang Imam madzhab juga.
Semua orang, baik dari kalangan pejabat maupun rakyat sangat mengasihi dan mengagungkan kedudukan Imam Syafi’i. Demikian pula murid-murid ia begitu menaruh hormat padanya.
Ini terbukti ketika Imam Ahmad bin Hanbal sakit dan Imam Syafi’i membesuknya. Waktu ia hingga di rumahnya, Imam Ahmad bin Hanbal eksklusif turun dari tempat tidurnya dan meminta Imam Syafi’i untuk duduk di tempat itu. Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal duduk di tanah dan sewaktu-waktu ia bertanya pada Imam Syafi’i.
Ketika Imam Syafi’i hendak pulang, Imam Ahmad bin Hanbal menaikkan ia ke binatang tunggangannya. Lalu Imam Ahmad bin Hanbal naik ke tunggangannya -beliau dalam kondisi sakit- dengan menerobos jalan dan pasar-pasar Baghdad, hingga ia bisa mengantar Imam Syafi’i tiba di rumahnya.
Pulang ke Mekkah
Setelah beberapa waktu berada di Baghdad, ia bermaksud pulang ke Mekkah. Memakan waktu perjalanan beberapa hari karenanya ia hingga di Mekkah. Waktu itu tahun 181 H. Sebelum masuk kota Mekkah, ia mendirikan kemah di luar kota. Penduduk Mekkah keluar untuk memberikan salam dan menyambutnya.
Beliau kemudian membagi-bagikan seluruh emas dan perak yang ia miliki kepada mereka. Hal itu dilakukan untuk melaksanakan wasiat ibunya ketika ia tiba ke Mekkah. Begitulah, Imam Syafi’i masuk ke kota Mekkah dalam keadaan tidak membawa apapun, sama menyerupai ketika ia keluar dari Mekkah dalam keadaan tidak membawa benda apapun.
Beliau tinggal di Mekkah selama 17 tahun. Selama berada disana ia mengajarkan ilmu pada manusia. Madzhab Imam Syafi’i tersebar di antara jamaah haji dan mereka membawa madzhab tersebut ke tempat asal mereka masing-masing.
Selama 17 tahun tinggal di Mekkah ia mendengar wafatnya Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan yang dahulu pernah ditemuinya di kota Kufah. Setelah itu wafat pula Harun al-Rasyid.
Setelah sekian usang tinggal di Mekkah ia lantas kembali ke kota Baghdad. Disana ia melanjutkan kegiatan mengajar selama beberapa waktu. Setelah itu ia bermaksud hendak pergi ke Mesir. Ketika penduduk Baghdad mendengar akan kepergian orang mulia ini, maka mereka keluar untuk perpisahan dengan beliau.
Di tengah-tengah penduduk ini ada Imam Ahmad bin Hanbal. Maka diwaktu itu Imam Syafi’i memegang erat tangan Imam Ahmad bin Hanbal dan berkata: “sungguh saya rindu akan bumi Mesir. Selain Mesir ialah bumi yang tandus. Demi Allah, saya tidak tahu untuk kemuliaan atau untuk kaya saya pindah ke Mesir. Atau pindah ke kubur?”
Seakan-akan Imam Syafii merasa akan wafat di Mesir dan kuburannya akan berada di negeri itu. Lalu ia menangis. Imam Ahmad bin Hanbal dan semua orang yang menyaksikan perpisahan itu menangis semua. Imam Ahmad bin Hanbal pulang sambil bercucuran airmata dan berkata pada para penduduk Baghdad: “ sungguh ilmu fiqh telah tertutup, kemudian Allah membukakan ilmu itu dengan kedatangan Imam Syafi’i.”
Menetap di Mesir
Di negeri Mesir segera saja penduduknya jatuh hati pada Imam Syafi’i. Para ulama negeri itu juga memuliakannya dan meminta ia untuk mengajar di masjid Amru bin Ash. Beliau mengajar sehabis subuh hingga zhuhur. Imam Syafi’i ialah orang pertama yang mengajar ilmu hadits di Mesir hingga zhuhur. Setelah itu ia melanjutkan pelajaran di rumahnya.
Para ulama dan orang-orang jenius pandai lainnya tiba menyimak pelajaran yang ia sampaikan baik di masjid maupun di rumah. Di antara orang-orang yang mencar ilmu pada ia yang kelak menjadi ulama populer ialah Muhammad bin Abdullah bin Hakam, Abu Ibrahim bin Ismail bin Yahya Al-Muzani, Abu Yaqub Yusuf bin Yahya Al-Buwaiti, Rabi’ Al-Jizi dan lain sebagainya.
Ketika di Mesir ini pula Imam Syafi’i banyak menulis kitab yang berisi madzhab beliau. Di antara kitabnya ialah Al-Umm, Imla’ al-Shaghir, Jizyah, Ar-Risalah dan lain sebagainya.
Sebagian dari adat Imam Syafi’i
Imam Syafi’i ialah seorang yang taqwa, zuhud dan wara’. Beliau juga sangat santun dalam memberi peringatan kepada orang yang melaksanakan kesalahan. Hatinya sangat lembut dan bahagia memberi terhadap harta.
Baihaqi meriwayatkan dari Hasan bin Habib. Dia berkata: “Aku melihat Imam Syafi’i menunggang kuda melewati pasar sepatu.
Tiba-tiba cambuknya jatuh dan mengenai salah seorang pedagang sepatu. Lalu pedagang sepatu itu mengusap cambuk untuk membersihkannya dan memperlihatkan cambuk itu pada beliau. Imam Syafi’i kemudian menyuruh budaknya untuk memperlihatkan uangnya pada pedagang itu.”
Tiada hari yang dilewati ia tanpa bershadaqah. Siang dan malam ia selalu bershadaqah, Apalagi di bulan Ramadhan. Beliau juga sering mengunjungi fakir miskin dan menjamin kebutuhan-kebutuhan mereka. Untuk menafkahi keluarganya ia berdagang.
Imam Syafi’i sangat baik dalam memperlakukan kerabat-kerabatnya. Beliau menghormati mereka dan tidak menyombongkan dirinya. Beliau menghormati orang sesuai posisinya. Imam Syafi’i pernah berkata: “Paling zhalimnya orang ialah ia yang menjauhi kerabatnya, tidak mau tahu terhadap mereka, meremehkan dan sombong pada orang yang mempunyai keutamaan.”
Beliau juga senantiasa memaafkan orang yang berbuat kesalahan kepadanya. Beliau membalas kejahatan dengan kebaikan dan tidak pernah menyimpan dendam kepada seseorang.
Pujian Ahmad bin Hanbal kepada Imam Syafi’i
Sewaktu di Baghdad, Imam Syafi’i selalu bersama Imam Ahmad bin Hanbal. Demikian cintanya pada Imam Syafi’i, sehingga putra-putri Imam Ahmad merasa ingin tau kepada bapaknya itu. Putri Imam Ahmad memintanya untuk mengundang Imam Syafii bermalam di rumah untuk mengetahui sikap ia dari dekat. Imam Ahmad bin Hanbal kemudian menemui Imam Syafi’i dan memberikan ajakan itu.
Ketika Imam Syafi’i telah berada di rumah Ahmad, putrinya kemudian membawakan hidangan. Imam Syafi’i memakan banyak sekali makanan itu dengan sangat lahap. Ini menciptakan heran putri Imam Ahmad bin Hanbal.
Setelah makan malam, Imam Ahmad bin Hanbal mempersilakan Imam Syafi’i untuk beristirahat di kamar yang telah disediakan. Putri Imam Ahmad melihat Imam Syafi’i eksklusif merebahkan tubuhnya dan tidak berdiri untuk melaksanakan shalat malam. Pada waktu subuh tiba ia eksklusif berangkat ke masjid tanpa berwudhu terlebih dulu.
Sehabis shalat subuh, putri Imam Ahmad bin Hanbal eksklusif protes kepada ayahnya perihal perbuatan Imam Syafi’i, yang menurutnya kurang mencerminkan keilmuannya. Imam Ahmad yang menolak untuk menyalahkan Imam Syafi’i, eksklusif menanyakan hal itu kepada Imam Syafi’i.
Mengenai hidangan yang dimakannya dengan sangat lahap ia berkata: “Ahmad, memang benar saya makan banyak, dan itu ada alasannya. Aku tahu hidangan itu halal dan saya tahu kau ialah orang yang pemurah. Maka saya makan sebanyak-banyaknya. Sebab makanan yang halal itu banyak berkahnya dan makanan dari orang yang pemurah ialah obat. Sedangkan malam ini ialah malam yang paling berkah bagiku.”
“Kenapa begitu, wahai guru?”
“Begitu saya meletakkan kepala di atas bantal seolah kitabullah dan sunnah Rasulullah صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّم. digelar di hadapanku. Aku menelaah dan telah menuntaskan 100 persoalan yang bermanfaat bagi orang islam. Karena itu saya tak sempat shalat malam.”
Imam Ahmad bin Hanbal berkata pada putrinya: “inilah yang dilakukan guruku pada malam ini. Sungguh, berbaringnya ia lebih utama dari semua yang saya kerjakan pada waktu tidak tidur.”
Imam Syafi’i melanjutkan: “Aku shalat subuh tanpa wudhu lantaran saya masih
suci. Aku tidak memejamkan mata sedikit pun .wudhuku masih terjaga semenjak isya, sehingga saya bisa shalat subuh tanpa berwudhu lagi.”
Dilain kesempatan Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata: “aku tidak pernah shalat semenjak 40 tahun silam kecuali dalam shalatku itu saya berdoa untuk Imam Syafi’i.”
Abdullah, putranya lantas bertanya: “wahai ayahku, menyerupai apa sih Syafi’i, sehingga ayah selalu berziaroh ke Makam Imam Syafi’i
berdoa untuknya?” Imam Ahmad bin Hanbal menjawab: “wahai anakku, Imam Syafi’i bagaikan matahari bagi dunia dan menyerupai kesehatan bagi tubuh. Lihatlah anakku, betapa pentingnya dua hal itu.”
Abdul Malik bin Abdul Hamid al-Maimuni berkata: “Aku berada di sisi Ahmad bin Hanbal dan ia selalu menyebut Imam Syafi’i. Aku selalu melihat ia mengagungkan Imam Syafi’i.”
Wafatnya Imam Syafi’i
Beliau wafat pada malam jum’at selesai dari bulan Rajab tahun 204 H sesudah mengalami sakit selama beberapa waktu. Setelah isya ruh ia yang suci kembali ke Rahmatullah di pangkuan murid beliau, yaitu Rabi’ al-Jizi. Jenazah ia dimakamkan dengan iringan tangis dan rintih sedih cita dari segenap penduduk Mesir.
Mutiara Hikmah “Semoga Bermanfaat”
Sumber: https://infobaikmu.blogspot.com//search?q=kisah-perjalanan-hidup-dan-biografi

0 Response to "Nih Sejarah Imam Syafi'i"
Posting Komentar