Nih Pekerjaan Luqman Al Hakim
Ibnu Katsir beropini bahwa nama panjang Luqman ialah Luqman bin Unaqa’ bin Sadun. Sedangkan asal-usul Luqman, sebagian ulama berbeda pendapat. Ibnu Abbas menyatakan bahwa Luqman yaitu seorang tukang kayu dari Habsyi. Riwayat lain menyebutkan ia bertubuh pendek dan berhidung mancung dari Nubah, dan ada yang beropini di berasal dari Sudan. Dan ada pula yang beropini Luqman yaitu seorang hakim di zaman nabi Daud.
Luqman al-Hakim dalam Al-QuranLuqman (Arab: لقمان الحكيم, Luqman al-Hakim, Luqman Ahli Hikmah) yaitu orang yang disebut dalam Al-Qur'an dalam surah Luqman [31]:12-19 yang populer lantaran nasihat-nasihatnya kepada anaknya. Ibnu Katsir beropini bahwa nama panjang Luqman ialah Luqman bin Unaqa' bin Sadun. Sedangkan asal undangan Luqman, sebagian ulama berbeda pendapat. Ibnu Abbas menyatakan bahwa Luqman yaitu seorang tukang kayu dari Habsyi. Riwayat lain menyebutkan ia bertubuh pendek dan berhidung mancung dari Nubah, dan ada yang beropini ia berasal dari Sudan. Dan ada pula yang beropini Luqman yaitu seorang hakim pada zaman nabi Dawud.
Luqman al-Hakim dalam Al-QuranLuqman (Arab: لقمان الحكيم, Luqman al-Hakim, Luqman Ahli Hikmah) yaitu orang yang disebut dalam Al-Qur'an dalam surah Luqman [31]:12-19 yang populer lantaran nasihat-nasihatnya kepada anaknya. Ibnu Katsir beropini bahwa nama panjang Luqman ialah Luqman bin Unaqa' bin Sadun. Sedangkan asal undangan Luqman, sebagian ulama berbeda pendapat. Ibnu Abbas menyatakan bahwa Luqman yaitu seorang tukang kayu dari Habsyi. Riwayat lain menyebutkan ia bertubuh pendek dan berhidung mancung dari Nubah, dan ada yang beropini ia berasal dari Sudan. Dan ada pula yang beropini Luqman yaitu seorang hakim pada zaman nabi Dawud.
Kisah Luqman al-Hakim - Dalam sebuah riwayat menceritakan bahwa pada suatu hari Luqman Hakim telah masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor himar, manakala anaknya mengikut dari belakang. Melihat tingkah laris Luqman itu, setengah orang pun berkata, "Lihat itu orang bau tanah yang tidak bertimbang rasa, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki." Setelah mendengarkan desas-desus dari orang ramai maka Luqman pun turun dari himarnya itu kemudian diletakkan anaknya di atas himar itu. Melihat yang demikian, maka orang di pasar itu berkata pula, "Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya sedap menaiki himar itu, sungguh kurang didik anak itu."
Setelah mendengar kata-kata itu, Luqman pun terus naik ke atas belakang himar itu gotong royong dengan anaknya. Kemudian orang ramai pula berkata lagi, "Lihat itu dua orang menaiki seekor himar, mereka sungguh menyiksakan himar itu." Oleh lantaran tidak suka mendengar percakapan orang, maka Luqman dan anaknya turun dari himar itu, kemudian terdengar lagi bunyi orang berkata, "Dua orang berjalan kaki, sedangkan himar itu tidak dikenderai." Dalam perjalanan mereka kedua beranak itu pulang ke rumah, Luqman Hakim telah menasihati anaknya perihal perilaku insan dan celoteh mereka. Ia berkata, "Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang yang pintar tiadalah ia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah saja. Siapa saja yang mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap satu."
Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya, katanya, "Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kau tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, yaitu tipis keyakinannya (iman) perihal agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayai orang), dan hilang kemuliaan hatinya (keperibadiannya). Lebih celaka lagi daripada tiga masalah itu ialah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya."
Nasihat Luqman
Di antara pesan tersirat Luqman yang terdapat dalam surah Luqman ialah:
Jangan mempersekutukan Allah (Luqman 31:13).
Berbuat baik kepada dua orang ibu-bapanya (Luqman 31:14).
Sadar akan pengawasan Allah (Luqman 31:16).
Dirikan salat (Luqman 31:17).
Perbuat kebajikan (Luqman 31:17).
Jauhi kemungkaran (Luqman 31:17).
Sabar menghadapi cobaan dan ujian (Luqman 31:17).
Jangan sombong (Luqman 31:19).
Surah Luqman (Arab: لقمان, "Luqman al-Hakim") yaitu surah ke-31 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri dari atas 34 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Surah ini diturunkan sehabis surah As-Saffat. Nama Luqman diambil dari kisah perihal Luqman yang diceritakan dalam surah ini perihal bagaimana ia mendidik anaknya.
Luqmanul Hakim berdasarkan riwayat yang lebih kuat, bukan seorang nabi. Ia seorang insan shaleh semata. Akan tetapi Allah menilai dari ketakwaaan dan kesalehannnya. Setidaknya, ada dua insan yang bukan nabi, tapi namanya diabadikan dalam al-Qur’an menjadi nama surat. Keduanya itu yaitu Luqman dan Maryam. Luqman berdarah Arab. Sebagian sejarawan menyebut Luqman berdarah Ibrani, sebagian lain menyebut berdarah Habasyi, dan yang lainnya menyebut berdarah Nubi, salah satu suku di Mesir yang berkulit hitam (aswan sekarang).
Dalam Tarikh nya, Ibnu Ishak menuturkan, bahwa Luqman berjulukan Luqman bin Bau’raa bin Nahur bin Tareh, dan Tareh bin Nahur merupakan nama dari Azar, ayah Nabi Ibrahim as. Wahab bin Munabbih menyampaikan bahwa Luqman yaitu putra dari saudari kandung Nabi Ayyub as. Muqatil menuturkan, Luqman yaitu putra dari bibinya Nabi Ayyub as. Imam Zamakhsyari menguatkan dengan mengatakan: Dia yaitu Luqman bin Bau’raa putra saudari wanita Nabi Ayyub atau putra bibinya. Riwayat lain mengatakan, Luqman yaitu cicit Azar, ayahnya Nabi Ibrahim as. Luqman hidup selama 1000 tahun, ia sezaman bahkan gurunya Nabi Daud. Sebelum Nabi Daud diangkat menjadi Nabi, Luqman sudah menjadi mufti ketika itu, kawasan konsultasi dan bertanya Nabi Daud as.
Para andal sejarah berbeda pendapat perihal profesinya. Sebagian mengatakan, profesinya yaitu tukang jahit. Sebagian lainnya menyampaikan tukang kayu, yang lainnya menuturkan tukang kayu bakar, dan terakhir menyampaikan sebagai penggembala. Riwayat lain menuturkan bahwa Luqman yaitu qadhi pada masa Bani Israil, sekaligus konsultannya Nabi Daud as. Bahkan riwayat lain menuturkan Luqman yaitu seorang budak belian dari Habasyi yang berprofesi sebagai tukang kayu. Khalid ar-Rib’i menuturkan: “Luqman yaitu seorang budak belian dari Habasyi yang berprofesi sebagai tukang kayu.
Dalam sejarahnya Luqman menikah dan dikaruniai banyak anak, akan tetapi semuanya meninggal dunia ketika masih kecil, tidak ada yang hingga dewasa, namun Luqman tidak menangis, lantaran hidupnya yang sudah yakin dengan Allah. Wasiat-wasiat Luqman dalam al-Qur’an (QS. Luqman: 13-19). Wasiat-wasiat Luqman lainnya: Selain dalam ayat al-Qur’an, Luqman juga memiliki banyak wasiat. Wahab bin Munabbih pernah menuturkan: “Saya membaca pesan tersirat Luqman yang jumlahnya lebih dari 10 ribu bab”. Dalam bukunya Min Washaya al-Qur’an al-Karim (1/31-33), Muhammad al-Anwar Ahmad Baltagi, mengutip sebuah riwayat dari Malik bin Anas bahwasannya Luqman pernah menasehati putranya di bawah ini:
01 – Hai anakku: ketahuilah, sebetulnya dunia ini bagaikan lautan yang dalam, banyak insan yang tenggelam ke dalamnya. Bila engkau ingin selamat, layarilah lautan itu dengan sampan yang berjulukan takwa, isinya yaitu kepercayaan dan layarnya yaitu tawakal kepada Allah.
02 – Orang – orang yang sentiasa menyediakan dirinya untuk mendapatkan nasihat, maka dirinya akan menerima penjagaan dari Allah. Orang yang insaf dan sadar sehabis mendapatkan pesan tersirat orang lain, ia akan sentiasa mendapatkan kemulian dari Allah juga.
03 – Hai anakku; orang yang merasa dirinya hina dan rendah diri dalam beribadat dan taat kepada Allah, maka ia tawadduk kepada Allah, ia akan lebih akrab kepada Allah dan selalu berusaha menghindarkan maksiat kepadaNya.
04 – Hai anakku; seandainya ibubapamu murka kepadamu kerana kesilapan yang dilakukanmu, maka marahnya ibubapamu yaitu bagaikan baja bagi tanam tanaman.
05 – Jauhkan dirimu dari berhutang, kerana sebetulnya berhutang itu boleh menjadikan dirimu hina di waktu siang dan gelisah di waktu malam.
06 – Dan Berharaplah selalu kepada Allah perihal sesuatu yang mengakibatkan untuk tidak mendurhakaiNya. Takutlah kepada Allah dengan sebenar benar takut ( takwa ), tentulah engkau akan terlepas dari sifat berputus asa dari rahmat Allah.
07 – Hai anakku; seorang pendusta akan lekas hilang air mukanya lantaran tidak dipercayai orang dan seorang yang telah rusak akhlaknya akan sentiasa banyak termangu hal-hal yang tidak benar. Ketahuilah, memindahkan kerikil besar dari tempatnya semula itu lebih
gampang daripada memberi pengertian kepada orang yang tidak mahu mengerti.
08 – Hai anakku; engkau telah mencicipi betapa beratnya mengangkat kerikil besar dan besi yang amat berat, tetapi akan lebih lagi dari semua itu, yaitu manakala engkau memiliki tetangga (jiran) yang jahat.
09 – Hai anakku; janganlah engkau mengirimkan orang yang ndeso sebagai utusan. Maka bila tidak ada orang yang cerdik, sebaiknya dirimulah saja yang layak menjadi utusan.
10 – Jauhilah bersifat dusta, alasannya yaitu dusta itu gampang dilakukan, bagaikan memakan daging burung, padahal sedikit sahaja berdusta itu telah menawarkan tanggapan yang berbahaya.
11 – Hai anakku; bila engkau memiliki dua pilihan, takziah orang mati atau menghadiri majlis perkawinan, pilihlah untuk menziarahi orang mati, alasannya yaitu hal itu akan mengingatkanmu kepada kampung darul abadi sedangkan menghadiri pesta perkawinan hanya mengingatkan dirimu kepada kesenangan duniawi sahaja.
12 – Janganlah engkau makan hingga kenyang yang berlebihan, kerana sebetulnya makan yang terlalu kenyang itu alangkah lebih baik apabila diberikan kepada hewan sekalipun.
13 – Hai anakku; janganlah engkau pribadi menelan sahaja kerana manisnya barang dan janganlah pribadi memuntahkan saja pahitnya sesuatu barang itu, kerana bagus belum tentu menjadikan kesejukan dan pahit itu belum tentu menjadikan kesengsaraan.
14 – Makanlah makananmu bersama sama dengan orang orang yang takwa dan musyawarahlah urusanmu dengan para alim ulama dengan cara meminta pesan tersirat dari mereka.
15 – Hai anakku; bukanlah satu kebaikan namanya bilamana engkau selalu mencari ilmu tetapi engkau tidak pernah mengamalkannya. Hal itu tidak ubah bagaikan orang yang mencari kayu bakar, maka sehabis banyak ia tidak bisa memikulnya, padahal ia masih ingin terus menambahkannya.
16 – Hai anakku; bilamana engkau mahu mencari mitra sejati, maka ujilah terlebih dahulu dengan berpura pura menciptakan ia marah. Bilamana dalam kemarahan itu
ia masih berusaha menginsafkan kamu,maka bolehlah engkau mengambil ia sebagai kawan. Bila tidak demikian, maka berhati hatilah.
17 – Selalulah baik tuturkata dan halus budibahasamu serta bagus wajahmu, dengan demikian engkau akan disukai orang melebihi sukanya seseorang terhadap orang lain yang pernah menawarkan barang yang berharga.
18 – Hai anakku; bila engkau berteman, tempatkanlah dirimu padanya sebagai orang yang tidak mengharapkan sesuatu daripadanya. Namun biarkanlah ia yang mengharapkan sesuatu darimu.
19 – Jadikanlah dirimu dalam segala tingkah laris sebagai orang yang tidak ingin mendapatkan kebanggaan atau mengharap sanjungan orang lain kerana itu yaitu sifat riya yang akan mendatangkan cela pada dirimu.
20 – Hai anakku; janganlah engkau condong kepada urusan dunia dan hatimu selalu disusahkan olah dunia kerana engkau diciptakan Allah bukanlah untuk
dunia sahaja. Sesungguhnya tiada makhluk yang lebih hina daripada orang yang terpedaya dengan dunianya.
21 – Hai anakku; usahakanlah semoga mulutmu jangan mengeluarkan kata kata yang anyir dan kotor serta kasar, kerana engkau akan lebih selamat bila berdiam diri. Kalau berbicara, usahakanlah semoga bicaramu mendatangkan manfaat bagi orang lain.
22 – Hai anakku; janganlah engkau gampang ketawa kalau bukan kerana sesuatu yang menggelikan, janganlah engkau berjalan tanpa tujuan yang pasti, janganlah engkau bertanya sesuatu yang tidak ada guna bagimu, janganlah menyia-nyiakan hartamu.
23 – Barang sesiapa yang penyayang tentu akan disayangi, siapa yang pendiam akan selamat daripada berkata yang mengandung racun, dan siapa yang tidak sanggup menahan lidahnya dari berkata kotor tentu akan menyesal.
24 – Hai anakku; bergaullah rapat dengan orang yang alim lagi berilmu. Perhatikanlah kata nasihatnya lantaran sebetulnya hati akan tentram mendengarkan nasihatnya, sehingga hati ini akan hidup dengan cahaya pesan tersirat dari mutiara kata-katanya sebagaimana tanah subur yang disirami air hujan.
25 – Hai anakku; ambillah harta dunia sekadar keperluanmu sahaja, dan nafkahkanlah yang selebihnya untuk bekalan akhiratmu. Jangan engkau tendang dunia ini ke keranjang atau bakul sampah kerana nanti engkau akan menjadi pengemis yang menciptakan beban orang lain. Sebaliknya janganlah engkau peluk dunia ini serta meneguk habis airnya kerana sebetulnya yang engkau makan dan pakai itu yaitu tanah belaka. Janganlah engkau berteman dengan orang yang bermuka dua, lantaran kelak akan membinasakan dirimu

0 Response to "Nih Pekerjaan Luqman Al Hakim"
Posting Komentar