Nih Sejarah Lahirnya Gam (Gerakan Aceh Merdeka)
Sejarah Masa lalu(Gerakan Aceh Merdeka)
Pasca Kemerdekaan Republik Indonesia
Kalau Berbicara wacana GAM saya juga gam,maksudnya gam itu laki(bahasa indonesia),saya masih ingat dongeng mitra kemaren ada seorang tengku syahid,waktu peristiwa darurat militer,tengku itu dituduh gam,hingga ia almrhm diculik kemudian dibunuh dan dikubur dalam parit berlumpur,selama 3 bulan mayat ia masih utuh,itu membuktikan mati syahid lillahi ta'ala,yang penting niat kita,berbaik sangka kepada Allah,dalam hal keadaan bagaimana pun,begitu pula nanti jikalau kita sakratul maut,ihklaskan hati lantaran Allah,smua manusia,cuma mungkin beda alasannya yakni musababnya,bahas sejarah,hehe,lansung saja kalu bicara aceh merdeka, mau tak mau, harus bicara kelahiran negara Republik Indonesia.Sebab,dari situlah kisah gerakan menuntut kemerdekaan dimulai. Lima hari sehabis RI diproklamasikan,Aceh menyatakan santunan sepenuhnya terhadap kekuasaan pemerintahan yg berpusat diJakarta.Di bawah Residen Aceh,yang juga tokoh terkemuka,Tengku Nyak Arief,Aceh menyatakan komitmen kesetiaan,mendukung kemerdekaan RI dan Aceh sebagai kepingan tak terpisahkan.
Pada 23 Agustus 1945, sedikitnya 56 tokoh Aceh berkumpul dan mengucapkan sumpah.''Demi Allah,saya akan setia untuk membela kemerdekaan Republik Indonesia hingga titik darah saya yang terakhir.'' Kecuali Mohammad Daud Beureueh,seluruh tokoh dan ulama Aceh mengucapkan komitmen itu.Pukul 10.00 WIB pada waktu itu,Husein Naim dan M Amin Bugeh mengibarkan bendera di gedung Shu Chokan (kini, kantor gubernur).Akan tetapi,ternyata tak semua tokoh Aceh mengucapkan komitmen setia,yaitu mereka para hulubalang,prajurit-prajurit yang berjuang melawan Belanda dan Jepang.Mereka yakin, tanpa RI, mereka sanggup mengelola sendiri negara Aceh.Inilah kisah awal sebuah gerakan kemerdekaan.Motornya yakni Daud Cumbok,markasnya didaerah Bireuen. Tokoh-tokoh ulama menentang Daud Cumbok.Melalui tokoh dan pejuang Aceh, M. Nur El Ibrahimy, Daud Cumbok digempur dan kalah.Dalam sejarah,perang ini dinamakan perang saudara atau Perang Cumbok yang menewaskan tak kurang 1.500 orang selama setahun hingga 1946.
Tahun 1948,ketika pemerintahan RI berpindah keYogyakarta dan Syafrudin Prawiranegara ditunjuk sebagai Presiden Pemerintahan Darurat RI (PDRI), Aceh minta menjadi propinsi sendiri.Saat itulah, M.Daud Beureueh ditunjuk sebagai Gubernur Militer Aceh.Oleh lantaran kondisi negara terus labil dan Belanda merajalela kembali,muncul gagasan melepaskan diri dari RI,ide tiba dari dr. Mansur,wilayahnya tak cuma Aceh,tetapi mencakup Aceh,Nias,Tapanuli,Sumatera Selatan, Lampung, Bengkalis,Indragiri,Riau,Bengkulu,Jambi, dan Minangkabau. Daud Beureueh menentang pandangan gres ini,diapun berkampanye pada seluruh rakyat, bahwa Aceh yakni kepingan RI.Sebagai tanda bukti,Beureueh memobilisasi dana rakyat.
Setahun kemudian,1949,Beureueh berhasil mengumpulkan dana rakyat 500.000 dolar AS. Uang itu disumbangkan utuh buat bangsa Indonesia.Uang itu diberikan ABRI 250 ribu dolar,50 ribu dolar untuk perkantoran pemerintahan negara RI,100 ribu dolar untuk pengembalian pemerintahan RI dari Yogyakarta ke Jakarta,dan 100 ribu dolar diberikan kepada pemerintah sentra melalui AA Maramis.Aceh juga menyumbang emas lantakan untuk membeli obligasi pemerintah,membiayai berdirinya perwakilan RI di India,Singapura dan pembelian dua pesawat terbang untuk keperluan para pemimpin RI.Saat itu Soekarno menyebut Aceh yakni modal utama kemerdekaan RI.
Setahun berlangsung, kekecewaan tumbuh.Propinsi Aceh dilebur ke Propinsi Sumatera Utara. Rakyat Aceh marah. Apalagi, komitmen Soekarno pada 16 Juni 1948 bahwa Aceh akan diberi hak mengurus rumah tangganya sendiri sesuai syariat Islam tak juga dipenuhi.Intinya,Daud Beureueh ingin ratifikasi hak menjalankan agama di Aceh. Bukan dilarang. Beureueh tak minta merdeka, cuma minta kebebasan menjalankan agamanya sesuai syariat Islam.Daud Beureueh pun menggulirkan pandangan gres pembentukan Negara Islam Indonesia pada April 1953. Ide ini di Jawa Barat telah diusung Kartosuwiryo pada 1949 melalui Darul Islam.Lima bulan kemudian, Beureueh menyatakan bergabung dan mengakui NII Kartosuwiryo.Dari sinilah lantas Beureueh melaksanakan gerilya. Rakyat Aceh, yang notabene Islam, mendukung sepenuhnya pandangan gres NII itu.Tentara NII pun dibentuk, berjulukan Tentara Islam Indonesia (TII).Lantas,terkenallah pemberontakan DI/TII di sejumlah daerah.Beureueh lari ke hutan.Cuma,ada peristiwa di sini. Pada 1955 telah terjadi pembunuhan masal oleh TNI.Sekitar 64 warga Aceh tak berdosa dibariskan dilapangan kemudian ditembaki.Aksi ini mengecewakan tokoh Aceh yang pro-Soekarno.Melalui banyak sekali gejolak dan perundingan, pada 1959, Aceh memperoleh status propinsi kawasan istimewa.
Beureueh merasa dikhianati Soekarno. Bung Karno tak mengindahkan struktur kepemimpinan susila dan tak menghargai peranan ulama dalam kehidupan bernegara.Padahal,rakyat Aceh itu sangat besar kepercayaannya kepada ulama. Gerilya dilakukan, tetapi Bung Karno mengerahkan tentaranya ke Aceh.Tahun 1962, Beureueh dibujuk menantunya El Ibrahimy biar menuruti Menhankam AH Nasution untuk menyerah.Beureueh berdasarkan lantaran ada komitmen akan dibuatkan UU Syariat Islam bagi rakyat Aceh (baru terwujud tahun 2001).
Awal Mula Berdirinya GAM
GAM lahir di masa Soeharto.Saat itu,sedang terjadi industrialisasi diAceh. Soeharto benar-benar mencampakkan susila dan segala penghormatan rakyat Aceh. Efek judi melahirkan prostitusi,mabuk-mabukan,bar, dan segala macam yang bertentangan dengan Islam dan susila rakyat Aceh.Kekayaan alam Aceh dikuras melalui pembangunan industri yang dikuasai orang aneh melalui restu pusat. Sementara rakyat Aceh tetap miskin. Pendidikan rendah, kondisi ekonomi sangat memprihatinkan. Melihat hal ini, Daud Beureueh dan tokoh bau tanah Aceh yang sudah hening kemudian bergerilya kembali untuk mengembalikan kehormatan rakyat, susila Aceh dan agama Islam.
Pertemuan digagas tahun 1970-an. Mereka setuju meneruskan pembentukan Republik Islam Aceh, yakni sebuah negeri yang mulia dan penuh ampunan Tuhan. Kini mereka sadar, tujuan itu tak sanggup tercapai tanpa senjata. Lalu diutuslah Zainal Abidin menemui Hasan Tiro yang sedang berguru di Amerika. Pertemuan terjadi tahun 1972 dan disepakati Tiro akan mengirim senjata ke Aceh. Zainal tak lain yakni abang Tiro. Sayang, senjata tak juga dikirim hingga Beureueh meninggal. Hasan Asleh, Jamil Amin, Zainal Abidin, Hasan Tiro, Ilyas Leubee, dan masih banyak lagi berkumpul di kaki Gunung Halimun, Pidie. Di sana, pada 24 Mei 1977, para tokoh eks DI/TII dan tokoh muda Aceh mendirikan GAM.
Selama empat hari bersidang, Daud Beureueh ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi. Sementara Hasan Tiro yang tak hadir dalam pendirian GAM itu ditunjuk sebagai wali negara. GAM terdiri atas 15 menteri, empat pejabat setingkat menteri dan enam gubernur. Mereka pun bergerilya memuliakan rakyat Aceh, adat, dan agamanya yang diinjak-injak Soeharto.
Miliki Pabrik Senjata dan Pusat Pelatihan di Libia
Setelah didirikan,GAM mendapat santunan rakyat.Hubungan dengan dunia internasional terus dibangun.Kekuatan bersenjata pun disusun.Berapa anggota GAM, bagaimana kekuatannya, jaringan internasionalnya, dan dananya?
Masih ingat deadline maklumat pemerintah 12 Mei 2003 lalu. Hingga batas waktu ultimatum, pemerintah tak juga mengeluarkan keputusan sebagai tanda awal operasi militer ke Aceh.Konon,saat itu pemerintah menghitung kekuatan Tentara Nasional Indonesia di sana.Ada kekhawatiran,TNI bakal dilibas GAM melalui perang gerilya. Secara tak langsung,kabar ini menyiratkan ketangguhan kekuatan bersenjata GAM.Sesungguhnya jumlah anggota GAM itu sebagian besar rakyat Aceh. Filosofinya begini.Jika rakyat terus ditindas,maka seluruh rakyat itu akan bangun melawan.Dan, hal menyerupai inilah yang terjadi di bumi Serambi Mekah itu. Perlawanan GAM mendapat simpati luar biasa dari rakyat Aceh.Rakyat yang usang ternista dan teraniaya.
Sambil berkelakar, Panglima Tertinggi GAM dan Wakil Wali Negara Aceh Tengku Abdullah Syafei (alm) sempat mengatakan,bayi-bayi warga Aceh telah disediakan senjata AK-47 oleh GAM.Mereka akan dididik dan dilatih sebagai tentara GAM dan segera pergi berperang melawan TNI.Sejatinya,basis usaha GAM dilakukan dalam dua sisi,diplomatik dan bersenjata.Jalur diplomasi pribadi dipimpin Hasan Tiro dari Swedia.Opini dunia dikendalikan dari sini. Sementara basis militer dikendalikan dari markasnya di perbatasan Aceh Utara-Pidie.Seluruh kekuatan GAM dioperasikan dari tempat ini.Termasuk, seluruh komando di sejumlah wilayah di Aceh dan di beberapa negara menyerupai Malaysia,Pattani(Thailand),Moro(Filipina),Afghanistan,Kazakhstan.Tetapi,kerap GAM menipu Tentara Nasional Indonesia dengan cara mengubah-ubah tempat markas utamanya.Di seluruh Aceh,GAM membuka tujuh komando,yaitu komando wilayah Pase Pantebahagia,Peurulak,Tamiang,Bateelik,Pidie,AcehDarussalam,dan Meureum.Masing-masing komando dibawahi panglima wilayah.
Sejak berdiri tahun 1977, GAM dengan cepat melaksanakan pendidikan militer bagi anggota-anggotanya. Setidaknya tahun 1980-an, ribuan anak muda dilatih di camp militer di Libia. Saat itu, Presiden Libia Mohammar Khadafi mengadakan training militer bagi gerakan separatis dan teroris di seluruh dunia. Hasan Tiro berhasil memasukkan nama GAM sebagai salah satu penerima pelatihan. Pemuda kader GAM juga berhasil masuk dalam latihan di camp militer di Kandahar, Afghanistan pimpinan Osama bin Laden. Gelombang pertama masuk tahun 1986, selanjutnya terus dilakukan hingga tamat 1990. Selama DOM, pengiriman tersendat. Tetapi, angkatan 1995-1998 sudah mendapat latihan intensif. Ketika DOM dicabut, prajurit dari Libia ini ditarik ke Aceh. Jumlahnya sekitar 5.000 personel dan dijadikan pasukan elite GAM (semacam Kopassus).
Jalur ke Libia memang agak mudah. Dari Aceh, para cowok Aceh itu dikirim melalui Malaysia kemudian menuju Libia. Jalur lainnya dari Aceh kemudian ke Thailand menuju Afghanistan dan melanjutkan ke Libia. Dari jalur ketiga, yakni melalui Aceh menuju Filipina Selatan dan ke Libia. Tiga jalur penting ini hampir selalu lolos dari jangkauan petugas imigrasi, polisi, dan patroli TNI-AL.
Di masa Syafei hingga kini dipegang Muzakkir Manaf, personel GAM terdiri atas pasukan tempur, intelijen, polisi, pasukan inong baleh (pasukan janda korban DOM) dan karades (pasukan khusus) serta Lasykar Tjut Nyak Dien (tentara wanita). Wakil Panglima GAM Wilayah Pase Akhmad Kandang (alm) pernah mengklaim, jumlah personel GAM 70 ribu. Anggota GAM 490 ribu. Jumlah itu termasuk jumlah korban DOM 6.169 orang. Sumber resmi Mabes Tentara Nasional Indonesia cuma menyebut sekitar enam ribu orang. Mantan Menhan Machfud MD menyebut 4.869 personel. Dari jumlah itu, 804 di antaranya dididik di Libia dan 115 dilatih di Filipina-Moro. Persediaan senjatanya terdiri atas pistol, senapan, GLM, mortir, granat, pelontar granat, pelontar roket, RPG, dan bom rakitan. Jenis senapan di antaranya AK-47, M-16, FN, Colt, dan SS-1.
Dari mana persenjataan itu diperoleh?Ada jalur internasional yg menyuplainya.Sejumlah negara disebut antara lain,gerakan separatis Pattani Thailand, Malaysia, gerakan Islam Moro Filipina,eks pejuang Kamboja, gerakan separatis Sikh India,gerakan Elan Tamil,dan Kazhakstan serta Libia dan Afghanistan. GAM juga menciptakan pabrik senjata. Di antaranya,di Kreung Sabe, Teunom-Aceh Barat,Lhokseumawe,Nisau-Aceh Utara, serta di Aceh Timur. Jenis senjata yang diproduksi menyerupai bom,amunisi,senjata laras panjang dan pendek, pabrik senjata ini sanggup dibongkar pasang sesuai dengan kondisi medan.Jika akan diserbu TNI, pabrik senjata telah dipindahkan ke kawasan lain. Para hebat senjata disekolahkan ke Afghanistan dan Libia.
Pasar gelap senjata ini dilakukan oleh oknum Tentara Nasional Indonesia dan Polisi Republik Indonesia yang haus kekayaan. Bagi GAM, asal ada senjata,uang tidak masalah.Sebab,faktanya GAM ternyata mempunyai sumber dana yg sangat besar.Jumlah pembelian ke oknum TNI/Polri ini sanggup trilyunan rupiah.Sebuah penggerebekan tahun 2000 oleh Polda Metro Jaya sempat menemukan kuitansi Rp 3 milyar untuk pembelian senjata GAM di pasar gelap dari oknum TNI.
Kini,senjata yang dimiliki Tentara Nasional Indonesia juga dimiliki GAM.Yang tak dimiliki GAM yakni senjata berat.Sebab,sifatnya yang lamban. Prinsip GAM,senjata itu harus mempunyai mobilitas tinggi,mudah dibawa kemana-mana.Sebab,strategi perangnya yang hit and run. GAM bahkan mengaku mempunyai senjata yang lebih modern daripada TNI.Misalnya,senjata otomatis yang dimiliki para karades. Senjata otomatis, berbentuk kecil mungil itu sanggup tahan berhari-hari dalam air. Anggota karades inilah yang biasa menyusup ke kota-kota dan menyergap anggota TNI/Polri yang teledor.
Membeli senjata tentu dengan uang melimpah. Sebab, harganya yang tak murah.Lantas,dari mana mereka mendapat dana? GAM mempunyai donatur tetap dari pengusaha-pengusaha Aceh yang sukses di luar negeri.Di antaranya, di Thailand,Malaysia,Singapura,Amerika,dan Eropa.Dana juga didapatkan dari sumbangan wajib yg diambilkan dari perusahaan-perusahaan lokal dan multinasional diAceh.
Sebagai gambaran,tahun 2000 lalu,GAM meminta sumbangan wajib kepada seorang pengusaha lokal berjulukan Tengku Abu Bakar sebesar Rp 100 juta.Abu Bakar diberi surat berkop Neugara Atjeh-Sumatera tertanggal 15 Februari 2000 yang ditandatangani oleh Panglima GAM Wilayah Aceh Rajek Tengku Tarzura.
Mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah menyebut Pupuk Iskandar Muda pernah menyetor Rp 10 milyar ke GAM untuk biaya keamanan. GAM kerap melaksanakan gangguan bila tidak mendapat sumbangan wajib tersebut.Makanya,setiap bulan,GAM mendapat upeti dari para pengusaha ''sahabat GAM'' itu.
Sistim komunikasi GAM juga sangat canggih.Sistem komunikasi berlapis dilakukan GAM sebagai benteng pertahanan dan propaganda.Selain handytalky, GAM juga mempunyai radio tranking,radar dan telepon satelit.GAM juga mempunyai penyadap telpon.Acapkali gerakan TNI/Polri dimentahkan aksi-aksi penyadapan ini.Penggerebekan sering kali gagal total.
Sistem organisasinya yg disusun dengan sistem sel juga membantu GAM survive.Tak gampang menemukan markas GAM.Meski,ada sebagian anggota GAM yang ditangkap.Antara anggota dan pejabat satu dengan yg lain kadang tidak berhubungan,tak saling mengenal.
:
:
Ketua Umum Forum Perjuangan Keadilan Rakyat Aceh (FOPKRA) Shalahuddin Al Fatah menuturkan,sejak zaman Belanda,rakyat Aceh memang tidak pernah menang.Tetapi,rakyat Aceh tak pernah ditaklukkan.Fakta sejarah pula, gerakan rakyat Aceh menentang sentra tidak pernah menang.Tetapi,TNI tak pernah sanggup menaklukkan mereka.
Dari banyak sekali sumber
Dari banyak sekali sumber

0 Response to "Nih Sejarah Lahirnya Gam (Gerakan Aceh Merdeka)"
Posting Komentar